Connect with us

Opini

Mengenang Gus Dur, Antara Rizal Ramli-Nu Kultural dan Muhammadiyah

Tayang

,

Penulis: Abdulrachhim

Channel9.id-Jakarta. Lama sebelum Rizal Ramli ditunjuk menjadi Kepala Bulog kemudian menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan oleh Gus Dur hubungan mereka telah dekat . Ini disebabkan karena Rizal Ramli adalah mantan aktivis mahasiswa ITB pada Gerakan Mahasiswa 1977/1978 dan kemudian setelah lulus PhD dari Boston University Amerika Serikat dan pulang ke tanah air tetap beraktivitas politik dan bergaul erat dengan para aktivis politik.

Dilain pihak Gus Dur yang selain menjadi Ketua Umum PBNU selama 10 tahun juga sangat aktif menulis artikel2 politik , memberikan ceramah2 soal sosial politik dikalangan para aktivis . Rizal Ramli yang sering hadir di pertemuan-pertemuan tersebut menjadi kenal dekat dengan Gus Dur karena juga mempunyai banyak sisi-sisi pemikiran yang sama.

Karena itu tidak aneh bila di kemudian hari Gus Dur mengangkat Rizal Ramli sebagai Kepala Bulog , Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan . Namun sebetulnya cerita dibalik itu adalah Rizal Ramli sempat  dua kali menolak tawaran Gus Dur untuk menjadi Dubes di Amerika Serikat dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Jadi menjadi Kepala Bulog itu Rizal Ramli menerima tawaran yang ketiga dari Gus Dur , itupun dengan syarat , bahwa hanya mau menjabat Kabulog selama maksimal 1 tahun.

Hubungan yang dekat dengan Gus Dur itu mau tidak mau di kemudian hari membawa Rizal Ramli juga berhubungan dekat dekat dengan kaum Nahdliyin atau yang lebih dikenal dengan NU Kultural . Rizal Ramli berkunjung ke beberapa pesantren , seperti Tebu Ireng di Jombang, Al Hikam yang didirikan oleh Almarhun KH Hasyim Muzadi di Depok , Pesantren Al Kharimiyah yang dipimpin oleh KH A Damanhuri di Sawangan Depok, pesantren Mambaul Hikmah yang dipimpin oleh KH Sulton Barmawi, dan At Attauhidiyah Pimpinan KH Ahmad Saidi Giren Tegal, Jawa Tengah dll.

Selain itu juga mempunyai hubungan dekat dengan Alm KH Hasyim Muzadi , juga pernah berkunjung kerumah kakak sulung KH Hasyim Muzadi sekaligus sesepuh NU KH Abdul Muchit Muzadi di Jember Jawa Timur. Rizal Ramli juga dekat dengan Gus Solahudin Wahid adik Gus Dur bahkan pernah melakukan kegiatan bersama dalam Konvensi Rakyat Untuk Presiden yang mengadakan kegiatan di 6 kota besar yaitu di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bandung dan Balikpapan.

Bahkan dalam  kedekatannya dengan pondok pesantren Tebu Ireng itu , Rizal Ramli pernah diundang dan menghadiri suatu pertemuan ratusan alumni pesantren tersebut di kawasan puncak dan dalam pertemuan itu  Rizal Ramli diberi gelar Gus Romli.

Selain itu Rizal Ramli juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah . Selain beberapa kali menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah , Rizal Ramli bahkan pernah menjadi saksi ahli dalam gugatan yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah terhadap UU No 22 tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi yang dinilai pro pasar bebas dan asing .Gugatan itu diajukan ke . Mahkamah Konstitusi dan berhasil menang.

Rizal Ramli juga mempunyai hubungan dekat dengan Pondok Modern Darussalam Gontor ( PMDG ) yang banyak mempunyai alumni  yang menjadi tokoh-tokoh Islam, misalnya Din Syamsudin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Almarhum KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU serta Ustadz Bachtiar Nasir yang menjadi penanggung jawab Aksi Damai satu juta Umat Islam pada tanggal 4 November 2016 (411) di Monas dan sekitarnya.

Hubungan dengan Gontor sudah terjalin jauh di saat Rizal Muda. Pada tahun 1976 bersama teman-temannya mahasiswa ITB Bandung, Rizal Ramli pernah nyantri selama seminggu di Gontor. Rizal kembali datang ke Gontor pada 13 – 15 Oktober 2017 mengunjungi beberapa kampus pesantren Gontor, yaitu di Ngawi,  Ponorogo dan Kediri serta kampus Universitas Darussalam Gontor.

Pada tanggal 15 Oktober 2017 tepat jam 8 pagi Rizal Ramli berkunjung ke pondok Gontor dan disambut langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal , KH Syamsul Hadi Abdan , Rektor Unida Gontor Prof. DR. KH Amal Fatullah Zarkasyi , MA dan beberapa anggota Badan Wakaf PMDG. Dalam acara itu dengan disaksikan oleh ribuan santri Rizal Ramli diangkat menjadi Anggota Keluarga Besar Pondok Modern Gontor.

DR Rizal Ramli adalah seorang ekonom senior yang mempunyai banyak prestasi yang terbukti . Pernah menyelamatkan PLN dari kebangkrutan yang secara teknis sudah tidak dapat meminjam uang ke bank karena modalnya sudah negatif menjadi mempunyai modal lebih dari 100 Triliun tanpa menyuntikkan dana seper pun tetapi dengan revaluasi aset . Juga mengurangi hutang PLN di tahun 2001 besar-besaran dari $ 85 Milyar menjadi hanya $ 35 Milyar hanya dengan kepiawaian bernegosiasi saja.

Juga di masa pemerintahan Gus Dur itu bersama – sama dengan Kwik Kian Gie mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari minus 3% menjadi plus 4,5% dan pada saat yang bersamaan mengurangi hutang pemerintah sebesar $ 4 Milyar . Satu2nya pemerintahan yang bisa mengurangi hutang sepanjang sejarah RI . Menyelamatkan bank BII dari rush yang bisa mengarah kepada kebangkrutan tanpa menyuntikkan modal sepeserpun.

Di dalam pemerintahan Jokowi  di saat menjabat Menko Maritim juga mengusulkan dan melaksanakan penentuan 10 tujuan wisata prioritas diantaranya Danau Toba, Borobudur dll , untuk itu membebaskan visa 169 negara sehingga akibatnya terjadi lonjakan wisman dari Januari – September 2017 sebesar 25% . Selain itu juga terjadi kenaikan investasi dibidang pariwisata sebesar 35% . Disamping itu juga banyak kepretan-kepretan yang menyelamatkan kekayaan negara puluhan triliun seperti Freeport , Blok Gas Masela dsb.

Hubungan yang harmonis antara Presiden Jokowi  dengan umat Islam dan tokoh-tokoh Islam yang memburuk sejak Pilkada DKI dan banyaknya masalah di sektor ekonomi seperti pertumbuhan yang rendah yang  hanya 5% padahal Filipina dan Vietnam bisa 6,5% , hutang yang melonjak tinggi , harga sembako yang stabil tinggi, sehingga menyengsarakan rakyat ini adalah 2 masalah utama yang dihadapi oleh Presiden Jokowi dan dapat dikatakan tidak akan bisa diatasi bila tidak ada langkah terobosan , yaitu menggandeng tokoh nasional yang mampu untuk mengatasi hal itu.

Disharmoni Presiden Jokowi dengan tokoh-tokoh dan umat Islam itu selain tidak produktif juga bagaikan api didalam sekam. Bisa sewaktu-waktu menimbulkan gesekan sosial dan menyebabkan terjadinya luka-luka sosial . Apalagi bila kondisi perekonomian di masyarakat menengah bawah tidak kunjung membaik , harga-harga kebutuhan pokok tetap mahal dan terjadi permainan impor beras yang merugikan petani, pelarangan cantrang yang mengakibatkan ribuan nelayan tidak bisa melaut dan kehilangan pendapatan dsb. 

DR Rizal Ramli adalah tokoh nasional yang sangat mampu untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi mensejahterakan rakyat serta mempunyai hubungan yang dekat dengan tokoh-tokoh Islam dan umat Islam . Dalam bidang ekonomi akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan bahkan secara bertahap bisa mencapai 10% dalam satu tahun . Karena semua negara maju di Asia yang mengejar kemajuan barat selalu pernah mengalami masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bahkan lebih dari 10% .

Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan China semua pernah mengalami pertumbuhan tinggi karena itu mereka menjadi negara maju. China mengalami pertumbuhan 10% selama puluhan tahun dan pernah 14%  dan dan telah menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Karena itu 2019 haruslah menjadi titik awal pembangunan ekonomi modern Indonesia yang meninggalkan perekonomian tradisional yang berbasis bahan mentah seperti CPO, Batubara dsb yang bernilai tambah rendah seperti sekarang ini . Apabila hal ini terjadi , maka Presiden Jokowi akan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar ekonomi modern Indonesia.

Namun apabila sebaliknya yang terjadi, Presiden Jokowi tetap mempertahankan tim ekonomi yang sekarang yang hanya mampu membuat pertumbuhan ekonomi 5% sedangkan Filipina dan Vietnam sudah bertahun-tahun tumbuh 6,5% , apabila ini konsisten terus menerus terjadi seperti itu maka dalam 20 tahun kedepan kemakmuran kita akan tertinggal oleh Filipina dan Vietnam dan kita hanya bisa mengirim TKI ke negara mereka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Dunia Siber dan Populisme Islam

Published

on

By

Oleh: M.S. Ridho*

Channel9.id-Jakarta. Dunia siber merupakan arena perebutan ruang publik –meminjam istilah dari Jurgen Habermas– di dunia digital yang seringkali memengaruhi realitas yang terjadi di alam nyata. Satu dekade terakhir praktik kehidupan sosial, politik, budaya, dan ekonomi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh praktik-praktik para pelaku di dunia siber, buzzer termasuk di dalamnya.

Buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu (CIPG, 2017). Buzzer merupakan istilah yang populer karena keberadaan dunia siber dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian praktisi media sosial. Buzzer digunakan untuk kepentingan promosi sebuah produk. Pun dalam isu radikalisme, tidak sedikit akun-akun media sosial di twitter, instagram, yang menggunakan buzzer sebagai metode efektif penyebarluasan gagasan atau promosi radikalisme.

 Tidak sedikit riset yang menunjukkan bahwa perubahan seseorang menjadi radikal karena dipengaruhi oleh informasi dari media dunia siber. Sebagaimana dikatakan oleh Wakil Presiden 2014-2019, Jusuf Kalla bahwa “Teknologi juga itu membuat menyebabkan orang radikal. Itu tandanya Lone Wolf itu. Karena yang mengajarkan itu bukan orang. Mereka membaca di internet dan sebagainya”, diungkapkan pada saat menyikapi teror yang terjadi di Mapolda Sumatera Utara, dan juga di Masjid Falatehan dekat Mabes Polri pada awal Juli 2017.

Berdasarkan amatan saya, banyak situs yang menggunakan identitas Islam, portal-islam.id misalnya, seringkali mengunggah judul-judul berita yang bombastis dan sangat prejudice. Seperti berikut: “Lutfi: Saya Disetrum dan Dipukul Agar Akui Lempar Batu Ke Polisi” (22 Januari 2020), “Ahmad Dhani: Islam Difitnah! SIAPA YANG UNTUNG dengan TERORISME??? Pake OTAK DOBOL Lu untuk MIKIR” (2 Juli 2017). Lalu pada bulan Agustus 2017 menampilkan judul-judul diantaranya berikut ini: “AWAS! JEBAKAN BETMEN Soal AHOK” (portal-islam.id, 6 Agustus 2017), “Allahu Akbar! Mantan Pendeta Penista Islam Yang Pernah Dilaporkan FPI Akhirnya Masuk Islam” (portal-islam.id, 16 Agustus, 2017). Sementara itu pada bulan September 2017 diantaranya yaitu: “Bagaimana Akhir Kesudahan Teroris Botak yang Bantai Muslim Rohingya? Ini Isyarat Al Quran” dan “Abaikan Perintah, Polisi Izinkan Pengungsi Rohingya Masuk Bangladesh” (Minggu, 3 September 2017), “Allahu Akbar! MESKI DICEGAT DAN DIPERSULIT, Ribuan Massa Tumpah Ruah Bela Rohingya di “Aksi Borobudur” (8 September 2017), “Air Susu Dibalas Air Tuba… Saat Pemilu Muslim Myanmar Dirayu Dukung Suu Kyi, Saat Berkuasa Muslim Dibantai” (10 September 2017).

Dari beberapa judul di atas tersebut mengindikasikan bahwasanya portal-islam.id sedang berusaha melakukan penguasaan media siber dengan menggunakan idiom-idiom Islam dalam headline laman mereka. Islam sekadar dijadikan sebagai instrumen ideologi politik, demi memenuhi syahwat politik elite di kalangan mereka. Islam tidak dijadikan sebagai rujukan nilai-nilai dalam menjalani kehidupan sosial, politik, budaya, maupun ekonomi. Di mana keramahan, kesetaraan, keadilan, menghormati dan menghargai satu sama lain yang berbeda, serta keberagaman misalnya merupakan nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, menurut hemat saya apa yang terjadi dalam dunia siber kita saat ini merupakan bagian dari populisme Islam (Islamic populism) –meminjam istilah Vedi R. Hadiz—sebuah gerakan politik yang menggerakkan umat sebagai gerakan sentimen tertentu atas nama demokrasi. Populisme Islam ini berkembang sebelum dan pasca terjadinya Arab spring di sebagian kawasan Arab pada 2013 (Hadiz 2014 & 2016).

Psy War Gerakan Islam Baru

Gerakan Islam baru, karena menggeliat pasca reformasi–, ini demikian intim menggunakan media siber, demi menggerakan warganet Muslim untuk mereproduksi konten sentimen, provokatif, bernada anti pemerintahan sah di akun-akun media sosial mereka ataupun di situs-situs maupun laman-laman blog yang mereka miliki. Populisme Islam dalam dunia siber (cyber Islamic populism) saat ini sedang terjadi, dan makin marak dijumpai dalam laman-laman (websites) yang menggunakan identitas Islam sebagai ciri khas mereka. 

Situs portal-islam.id misalnya, dalam penelusuran saya lebih didisain sebagai media propaganda. Sebagai propaganda maka tujuannya menjadi sangat umum yang dimaksudkan untuk mengubah sistem kepercayaan publik luas tanpa harus melampirkan bukti-bukti konkrit, cenderung samar-samar.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa makna propaganda yaitu penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu (KBBI online).Tidak lagi melihat seberapa reliabel sebuah data maupun fakta di lapangan untuk dijadikan berita yang layak diinformasikan kepada publik luas. Hal tersebut banyak ditemukan dalam berita yang dimuat oleh portal-islam.id meskipun tidak seluruhnya bersifat seperti itu. Namun sebagai media daring yang menggunakan label Islam, tentu hal ini sangat jauh dari semangat nilai-nilai Islam itu sendiri yang menjunjung tinggi kejujuran, tabayyun (check and recheck), tidak memfitnah, untuk menyebut beberapa saja.

Perebutan ruang publik dalam dunia siber yang menggunakan simbol, identitas Islam di Indonesia ini bukannya tanpa alasan. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, hampir 87,7% warganya menganut Islam sebagai agamanya. Kedua, kontestasi ideologi –termasuk ideologi Islam– akan mudah disebarkan dengan biaya murah menggunakan media siber (internet).

Ketiga, besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 64,8%  atau 171,17 juta (APJII, 2019) dari total jumlah penduduknya merupakan aset yang sangat besar sebagai ladang pasar ideologi, pasar politik, maupun pasar ekonomi. Keempat, dari 64,8% pengguna internet tersebut hampir 66%nya adalah generasi Y dan Z, yakni mereka yang berusia 18-36 tahun, usia sangat produktif, sekurang-kurangnya 113 juta adalah pengguna aktif media sosial setiap harinya, yang menghabiskan tidak kurang dari 3 jam 26 menit untuk mengakses media sosial mereka (wearesocial Januari 2019).

Berdasarkan argumen tersebut, yang terjadi saat ini bagian dari psy war di dunia siber, siapa yang berhasil memenangkan “peperangan” tersebut maka dia yang akan menguasai kaum muda (gen Y, Z, dan alpha) hari ini demi politik kekuasaan satu dua dekade kedepan dan seterusnya. Demi memenangkan pertarungan tersebut, seringkali diabaikanlah etika bermedia, serta aturan-aturan lainnya, karena yang dipentingkan adalah mengubah cara pandang, logika, perspektif kaum muda tersebut untuk dapat mengikuti arus berpikir tanpa sikap kritis sama sekali, cenderung provokatif mengarah ke fitnah, melalui situs-situs yang mereka miliki. 

*Intelektual Muhammadiyah dan Pengamat Keamanan Publik

Continue Reading

Opini

Dua Sosok Agamis Pemburu Teroris

Published

on

By

Oleh : Khairul Anam Ketua Milenial Muslim Bersatu 

Belakangan ini media sosial dan media daring dihebohkan dengan foto lawas Jenderal Polisi (Purn) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D dan Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si., diperkirakan foto tersebut ketika mereka berdua masuk di Tim Anti Teror dan Bom (ATB) Polri Cikal Bakal Densus 88.

Saat ini keduanya sama-sama menjadi tokoh nasional berpangkat Jenderal, namun bedanya Tito Karnavian sebagai Jenderal Polisi (Purn) sebagai orang nomor satu di tubuh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang sebelumnya menjadi Kapolri 2016-2019, sedangkan rekannya Idham Aziz sekarang menggantikannya menjadi orang nomor satu di tubuh Korps Bhayangkara.

Dua sosok ini tentu sudah tidak asing lagi bagi kelompok aksi kekerasan, bahkan teror  di Indonesia. Mereka pernah berada dalam tim yang sama, terutama saat menangani kasus terorisme di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polda Metro Jaya.

Aksi yang tidak akan pernah terlupakan oleh masyarkat Indonesia ketika Tito Karnavian memimpin tim Densus 88 berhasil melumpuhkan gembong teroris Dr. Azahari bin Husin seorang insinyur asal Malaysia yang  jadi otak serangkaian serangan terorisme di Indonesia di Batu, Jawa Timur pada November 2009. Dimana  Idham Aziz juga menjadi salah seorang anggota tim ini saat itu.

Kecakapan Tito Karnavian dan Idham Aziz dalam mengungkap kasus terorisme dan beberapa rangkaian kejahatan sudah tidak diragukan lagi , bahkan di luar kasus terorisme sekalipun. Karena mereka tahu betul peta kejahatan, dan orang terlatih memahami segala metode penyelidikan kasus kejahatan.

Galak pada teroris, mungkin menjadi ungkap yang tidak berlebihan kita sematkan pada Jenderal berdua ini. Langkah mereka bukan menjadi penanda Islamopobia, karena secara kultur dan keseharian tidak ada Islamopobia di kalangan pejabat atau elitis.

Hal ini terbukti dengan ketaatan pada ajaran agama Islam bagi masing-masing individu. Baru-baru ini Tito Karnavian sempat menjadi trending topic twitter ketika jadi imam sholat Jumat di Masjid An-Nur yang berada di dalam lingkungan kantor Kemendagri, yang ternyata beberapa kali ia lakukan.

Ketika shalat Jumat, Tito yang memimpin salat terdengar melantunkan ayat Kursi pada rakaat pertama dan surat Al-Kafirun pada rakaat kedua. Tito membacakannya dengan lancar. Usai menjadi imam, juga sempat membaca doa singkat. Kedekatannya dengan para Kyai dan ulama tidak perlu pertanyakan,  Ia adalah keturunan ulama  Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia saat ini.

Sementara koleganya  Idham Aziz, juga telah membangun komunikasi yang intens dengan Habib, Ulama, dan pesantren. Langkah ini sebagai legitimasi bahwa polisi dan umat Islam bersatu.

Pria kelahiran Kendari 30 Januari 1963 itu, dikenal sebagai seorang yang religius dan taat beragama. Bahkan saat memberikan pandangan tentang radikalisme, menurutnya upaya melawan paham radikalisme bukan berarti anti terhadap agama Islam.

Kegiatan melawan paham radikalisme adalah untuk orang atau kelompok tertentu yang memang menyebarkan paham radikalisme. Masalah radikalisme tidak identik dengan Islam. Radikalisme adalah menyangkut oknum atau kelompok.

Sebagai tokoh nasional, mereka berdua dikenal sebagai Jenderal Polisi berbintang empat yang progresif dan adaptif dengan kondisi bangsa dalam berbagai situasi. Tak kenal takut dan selalu bertindak berdasarkan kepentingan bangsa dan maslahat.

Jenderal Pol Idham Aziz memiliki sepak terjang yang tak perlu diragukan lagi. Sepak terjangnya di Polri kerap berhasil mengungkap sejumlah kasus besar yang menyedot perhatian publik. Kesuksesan menjaga kamtibmas pada perayaan natal 2019 dan pergantian tahun 2020 tidak lepas dari langkahnya sebagai sosok “Talk less  do more”  seolah menjadi prinsip yang melekat pada dirinya.

Proses pembentukan jiwa leadhership dua Jenderal ini telah ditempa dari berbagai aktivitas, ibarat sebuah bangunan, pengalamannya itu memperkokoh fondasinya sekarang. Mereka telah membuktikan, bahwa pengalaman itu berkontribusi besar mengantarkan di posisi saat ini.

Mereka juga berhasil menjadi  tokoh nasional yang moncer, sekaligus menduduki jabatan strategis di pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Dibalik kesuksesan seorang pria, selalu ada sosok wanita  hebat di baliknya. Itulah para Bhayangkari yang setia mendampingi. Istri Tito Karnavian dan Idham Aziz dikenal sebagai sosok agamis dan taat pada ajaran Islam, bagaimana tidak, keduanya sama-sama menggunakan hijab sebagaimana disyariatkan agama Islam.

Sebagai penutup, kisah sukses, perjuangan, dan kedekatan mereka berdua yang sempat viral , secara tidak langsung mengajarkan pada kita khususnya generasi milenial, bahwa  proses tidak akan menghianati hasil. Dengan kerja keras dan sikap yang pantang menyerah dapat membuahkan hasil maksimal.

Continue Reading

Opini

Memimpin Dengan Tiga Kecerdasan

Published

on

By

Oleh : Varhan Abdul Aziz (Sekretaris Eksekutif IBSW/Indonesian Bureaucracy and Service Watch)

Menjelang shalat Jumat lalu kebetulan saya sedang di dekat Istana. Iseng saya memilih shalat Jumat di salah satu institusi nasional. Saya datang agak belakangan. Imamnya  tidak kelihatan. Tapi kok sepertinya suaranya  tidak asing. Jumat selesai, zikir dan kembali beraktifitas. Benar hati mengira. Tito Karnavian yang jadi Imam.

Agak merinding rasanya. Karena baru pertama menyaksikan Menteri  langsung mengimami shalat. Sebagai pemantau birokrasi, keluar masuk banyak kementerian, numpang shalat dari satu gedung ke gedung lain sudah jadi langganan. Tapi hari ini ada satu penilaian yang spesial. Serius saya terkesan.

Saya adalah alumni dari ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian. Selain itu saya juga seorang trainer yang mendalami penerapan materi tersebut. Dimana kecerdasan manusia terbagi menjadi tiga. Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ).

Pertanyaanya, berapa banyak pemimpin yang memiliki kemapanan kecerdasan di ketiga bidang tersebut?

IQ dijadikan tolak ukur utama sejak tahun 1890 hasil penemuan Francis Galton. Sejak 1987 Keith Basley menyatakan EQ lebih penting dari IQ. Barulah pada 1997 Danah Zohar menemukan pelengkap landasan kecerdasan yaitu SQ – Spiritual Quotient.

Sambil memakai sepatu saya termenung. Mendadak saya kepikiran menganalisa seorang Tito Karnavian. Secara IQ , dia tidak bisa dibilang kurang. Seorang Profesor , track record-nya menjadi penguji disertasi doktoral sudah dijalaninya.

Irjen Po. Boy Rafli Amar pernah dikupas habis disertasinya dengan pembahasan yang detail dan sangat ilmiah. Seorang mantan Kapolri, jenderal yang professor, dua puncak paripurna diraih. Hatrick jadi menteri pula.

Dipikir-pikir Tito jadi Kapolri meloncati lima angkatan. Kapolri sebelumnya angkatan 82, dia 87. Ada banyak bintang 3 yang sudah lebih lama dan matang bintangnya. Seniornya di AKPOL, yang dulu membina dia , menyuruh push up, dan lain-lain. Lalu berada di bawah komandonya. Kalau bukan orang yang cakap dengan mentalitas dan matang emosionalnya takkan bisa.

Empat tahun lalu saya meragukan, ia bisa mengelola  dinamika senioritas yang perlu seni tinggi. Ternyata mulus ia jalani sebagai  Kapolri. Masih sisa dua tahun bahkan, sudah diminta amanah baru oleh Presiden Jokowi.

Dalam semalam statusnya berganti jadi sipil 100%, jadi ia Mendagri. EQ test passed. Memimpin orang yang lebih senior  butuh kematangan emosional dan komunikasi yang gacor. Anda lulus Pak.

Spiritual menjadi satu tantangan besar.ada orang cerdas, baik, tapi kehidupannya  jauh dari beragama, kalaupun ada hanya sesekali ritual belaka, work hard play hard. Hidup senang-senang. Professional, tapi imannya kosong.

Istri Pak Tito berjilbab, warisan jilbab Polwan era Kapolri  Jenderal Badrodin Haiti diteruskan tidak dicabut. Hak berhijab dipenuhi. Padahal dulu mantan Kepala BNPT, yang sering dituduh ini itu, tapi sabar saja kayaknya. Lurus jalankan tugas. Yang sering main ke Trunojoyo, akan sering lihat di Masjid Mabes Polri rajin sekali pengajian. Indah sekali suasana sejuk Masjid sana.

Mahfud MD, Menko Polhukam dalam tulisannya di Kompas  “Tidak ada Islamophobia di Indonesia.” Memuji Polri di era Kapolri Tito Karnavian, memiliki pola ke-Islaman yang baik. Polisi dalam penanganan demo, shalat berjamaah di jalan bahkan berdzikir asmaul husna. Santunan Yatim di kediamannya  sering dilakukan bahkan pernah disaksikan langsung Mahfud MD saat itu. Baca tulisanya hati jadi tenang.

Baru beberapa hari ramai di media, video Mendagri mendapat penghargaan dari Presiden Singapura. Saya yang menonton tertegun, itu dengan Pakaian Dinas Upacaranya Pejabat  Indonesia bisa sampai ke Negeri Singa dengan penghargaan  tertinggi Negara sana, kalau  bukan karena high achivement yang dia ukir, apa sampai itu PDU ke negeri sana.

Memori saya flashback dua tahun lalu, saat saya melakukan penyuluhan ke 200 sekolah se- Sumsel. Salah satu sekolah yang saya singgahi SMAN 2 Palembang. Saya baru tahu kalau Pak Tito sekolah disana. Ada fotonya waktu masih siswa sempat lihat.

Guru-guru kalau cerita tentangnya semangat sekali, seperti ada taburan bangga yang ingin dibagi. Inspirasi, 1 orang Tito Karnavian menjadi gemilang, membuat jutaan lain anak Palembang di belakang punya harapan masa depan yang tinggi ditanam. Optimisme itu tumbuh karena perintis yang lahir.

Oalah saya jadi bengong kelamaan. Kok saya jadi semangat lagi hidup ya. Tito Karnavian saja bisa jadi Mendagri. Kita juga bisa jadi Pemimpin! Mimpi saja dulu, karena gratis. Tapi tekuni semua yg dilakukan. Sukarno pernah berkata, “Bermimpilah setinggi langit, jangan takut jatuh. Karena jika engkau  jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

Bersiap – siap, jadi Tito Karnavian selanjutnya.

ReplyForward
Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC