Connect with us

Opini

Mengenang Gus Dur, Antara Rizal Ramli-Nu Kultural dan Muhammadiyah

Tayang

,

Penulis: Abdulrachhim

Channel9.id-Jakarta. Lama sebelum Rizal Ramli ditunjuk menjadi Kepala Bulog kemudian menjadi Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan oleh Gus Dur hubungan mereka telah dekat . Ini disebabkan karena Rizal Ramli adalah mantan aktivis mahasiswa ITB pada Gerakan Mahasiswa 1977/1978 dan kemudian setelah lulus PhD dari Boston University Amerika Serikat dan pulang ke tanah air tetap beraktivitas politik dan bergaul erat dengan para aktivis politik.

Dilain pihak Gus Dur yang selain menjadi Ketua Umum PBNU selama 10 tahun juga sangat aktif menulis artikel2 politik , memberikan ceramah2 soal sosial politik dikalangan para aktivis . Rizal Ramli yang sering hadir di pertemuan-pertemuan tersebut menjadi kenal dekat dengan Gus Dur karena juga mempunyai banyak sisi-sisi pemikiran yang sama.

Karena itu tidak aneh bila di kemudian hari Gus Dur mengangkat Rizal Ramli sebagai Kepala Bulog , Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan . Namun sebetulnya cerita dibalik itu adalah Rizal Ramli sempat  dua kali menolak tawaran Gus Dur untuk menjadi Dubes di Amerika Serikat dan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan. Jadi menjadi Kepala Bulog itu Rizal Ramli menerima tawaran yang ketiga dari Gus Dur , itupun dengan syarat , bahwa hanya mau menjabat Kabulog selama maksimal 1 tahun.

Hubungan yang dekat dengan Gus Dur itu mau tidak mau di kemudian hari membawa Rizal Ramli juga berhubungan dekat dekat dengan kaum Nahdliyin atau yang lebih dikenal dengan NU Kultural . Rizal Ramli berkunjung ke beberapa pesantren , seperti Tebu Ireng di Jombang, Al Hikam yang didirikan oleh Almarhun KH Hasyim Muzadi di Depok , Pesantren Al Kharimiyah yang dipimpin oleh KH A Damanhuri di Sawangan Depok, pesantren Mambaul Hikmah yang dipimpin oleh KH Sulton Barmawi, dan At Attauhidiyah Pimpinan KH Ahmad Saidi Giren Tegal, Jawa Tengah dll.

Selain itu juga mempunyai hubungan dekat dengan Alm KH Hasyim Muzadi , juga pernah berkunjung kerumah kakak sulung KH Hasyim Muzadi sekaligus sesepuh NU KH Abdul Muchit Muzadi di Jember Jawa Timur. Rizal Ramli juga dekat dengan Gus Solahudin Wahid adik Gus Dur bahkan pernah melakukan kegiatan bersama dalam Konvensi Rakyat Untuk Presiden yang mengadakan kegiatan di 6 kota besar yaitu di Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, Bandung dan Balikpapan.

Bahkan dalam  kedekatannya dengan pondok pesantren Tebu Ireng itu , Rizal Ramli pernah diundang dan menghadiri suatu pertemuan ratusan alumni pesantren tersebut di kawasan puncak dan dalam pertemuan itu  Rizal Ramli diberi gelar Gus Romli.

Selain itu Rizal Ramli juga mempunyai hubungan cukup dekat dengan Pengurus Pusat Muhammadiyah . Selain beberapa kali menghadiri pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh PP Muhammadiyah , Rizal Ramli bahkan pernah menjadi saksi ahli dalam gugatan yang dilakukan oleh PP Muhammadiyah terhadap UU No 22 tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi yang dinilai pro pasar bebas dan asing .Gugatan itu diajukan ke . Mahkamah Konstitusi dan berhasil menang.

Rizal Ramli juga mempunyai hubungan dekat dengan Pondok Modern Darussalam Gontor ( PMDG ) yang banyak mempunyai alumni  yang menjadi tokoh-tokoh Islam, misalnya Din Syamsudin yang pernah menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Almarhum KH Hasyim Muzadi yang pernah menjadi Ketua Umum PBNU serta Ustadz Bachtiar Nasir yang menjadi penanggung jawab Aksi Damai satu juta Umat Islam pada tanggal 4 November 2016 (411) di Monas dan sekitarnya.

Hubungan dengan Gontor sudah terjalin jauh di saat Rizal Muda. Pada tahun 1976 bersama teman-temannya mahasiswa ITB Bandung, Rizal Ramli pernah nyantri selama seminggu di Gontor. Rizal kembali datang ke Gontor pada 13 – 15 Oktober 2017 mengunjungi beberapa kampus pesantren Gontor, yaitu di Ngawi,  Ponorogo dan Kediri serta kampus Universitas Darussalam Gontor.

Pada tanggal 15 Oktober 2017 tepat jam 8 pagi Rizal Ramli berkunjung ke pondok Gontor dan disambut langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal , KH Syamsul Hadi Abdan , Rektor Unida Gontor Prof. DR. KH Amal Fatullah Zarkasyi , MA dan beberapa anggota Badan Wakaf PMDG. Dalam acara itu dengan disaksikan oleh ribuan santri Rizal Ramli diangkat menjadi Anggota Keluarga Besar Pondok Modern Gontor.

DR Rizal Ramli adalah seorang ekonom senior yang mempunyai banyak prestasi yang terbukti . Pernah menyelamatkan PLN dari kebangkrutan yang secara teknis sudah tidak dapat meminjam uang ke bank karena modalnya sudah negatif menjadi mempunyai modal lebih dari 100 Triliun tanpa menyuntikkan dana seper pun tetapi dengan revaluasi aset . Juga mengurangi hutang PLN di tahun 2001 besar-besaran dari $ 85 Milyar menjadi hanya $ 35 Milyar hanya dengan kepiawaian bernegosiasi saja.

Juga di masa pemerintahan Gus Dur itu bersama – sama dengan Kwik Kian Gie mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari minus 3% menjadi plus 4,5% dan pada saat yang bersamaan mengurangi hutang pemerintah sebesar $ 4 Milyar . Satu2nya pemerintahan yang bisa mengurangi hutang sepanjang sejarah RI . Menyelamatkan bank BII dari rush yang bisa mengarah kepada kebangkrutan tanpa menyuntikkan modal sepeserpun.

Di dalam pemerintahan Jokowi  di saat menjabat Menko Maritim juga mengusulkan dan melaksanakan penentuan 10 tujuan wisata prioritas diantaranya Danau Toba, Borobudur dll , untuk itu membebaskan visa 169 negara sehingga akibatnya terjadi lonjakan wisman dari Januari – September 2017 sebesar 25% . Selain itu juga terjadi kenaikan investasi dibidang pariwisata sebesar 35% . Disamping itu juga banyak kepretan-kepretan yang menyelamatkan kekayaan negara puluhan triliun seperti Freeport , Blok Gas Masela dsb.

Hubungan yang harmonis antara Presiden Jokowi  dengan umat Islam dan tokoh-tokoh Islam yang memburuk sejak Pilkada DKI dan banyaknya masalah di sektor ekonomi seperti pertumbuhan yang rendah yang  hanya 5% padahal Filipina dan Vietnam bisa 6,5% , hutang yang melonjak tinggi , harga sembako yang stabil tinggi, sehingga menyengsarakan rakyat ini adalah 2 masalah utama yang dihadapi oleh Presiden Jokowi dan dapat dikatakan tidak akan bisa diatasi bila tidak ada langkah terobosan , yaitu menggandeng tokoh nasional yang mampu untuk mengatasi hal itu.

Disharmoni Presiden Jokowi dengan tokoh-tokoh dan umat Islam itu selain tidak produktif juga bagaikan api didalam sekam. Bisa sewaktu-waktu menimbulkan gesekan sosial dan menyebabkan terjadinya luka-luka sosial . Apalagi bila kondisi perekonomian di masyarakat menengah bawah tidak kunjung membaik , harga-harga kebutuhan pokok tetap mahal dan terjadi permainan impor beras yang merugikan petani, pelarangan cantrang yang mengakibatkan ribuan nelayan tidak bisa melaut dan kehilangan pendapatan dsb. 

DR Rizal Ramli adalah tokoh nasional yang sangat mampu untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi mensejahterakan rakyat serta mempunyai hubungan yang dekat dengan tokoh-tokoh Islam dan umat Islam . Dalam bidang ekonomi akan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan bahkan secara bertahap bisa mencapai 10% dalam satu tahun . Karena semua negara maju di Asia yang mengejar kemajuan barat selalu pernah mengalami masa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bahkan lebih dari 10% .

Singapura, Malaysia, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan China semua pernah mengalami pertumbuhan tinggi karena itu mereka menjadi negara maju. China mengalami pertumbuhan 10% selama puluhan tahun dan pernah 14%  dan dan telah menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Karena itu 2019 haruslah menjadi titik awal pembangunan ekonomi modern Indonesia yang meninggalkan perekonomian tradisional yang berbasis bahan mentah seperti CPO, Batubara dsb yang bernilai tambah rendah seperti sekarang ini . Apabila hal ini terjadi , maka Presiden Jokowi akan tercatat dalam sejarah sebagai peletak dasar ekonomi modern Indonesia.

Namun apabila sebaliknya yang terjadi, Presiden Jokowi tetap mempertahankan tim ekonomi yang sekarang yang hanya mampu membuat pertumbuhan ekonomi 5% sedangkan Filipina dan Vietnam sudah bertahun-tahun tumbuh 6,5% , apabila ini konsisten terus menerus terjadi seperti itu maka dalam 20 tahun kedepan kemakmuran kita akan tertinggal oleh Filipina dan Vietnam dan kita hanya bisa mengirim TKI ke negara mereka.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Poros New Normal Pilgub Sumbar

Published

on

By

Oleh: Indra J Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Sebulan menjelang pendaftaran, pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat (Sumbar) memasuki tahap krusial. Yakni, penentuan (segera) calon-calon yang bakal diusung. Di atas kertas, setelah pasangan Fakhrizal – Genius Umar gagal memenuhi syarat calon perseorangan, masih bisa terbentuk maksimal empat pasangan calon. Dari 65 kursi Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Prov Sumbar, terdapat komposisi yang menarik: 14, 10, 10, 10, 8, 4, 3, 3, dan 3.  Syarat untuk mengusung minimal 14 kursi.

Dua pasang calon sudah mendekati final, yakni Nasrul Abit – Indra Catri yang diusung Partai Gerindra (14 kursi) dan Mulyadi – Ali Mukhni yang diusung oleh Partai Demokrat (10 kursi) dan Partai Amanat Nasional (10 kursi). Sudah 34 kursi yang terangkut.

Belakangan, Partai Golkar (8 kursi) membangun poros baru bersama Partai Nasdem (3 kursi) dan Partai Kebangkitan Bangsa (3 kursi). Bolehlah poros ini disebut Poros New Normal. Koalisi kuning-biru-hijau. Penggagas Poros New Normal ini adalah pimpinan partai di tingkat provinsi. Tentu, saya membangun komunikasi dengan pimpinan pusat partai. Sebagai Badan Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar dengan wilayah koordinasi seluruh Sumbar, penulis punya subjektifitas dalam hal ini.

“Tunggu surprised!” jawab Aditya Willy, petinggi Partai Nasdem yang saya tidak tahu jabatannya.

“Terkait Pilgub, tinggal menunggu jadwal pembahasan dengan DPP,” balas Haji Alex Lukman, Ketua DPD PDI Perjuangan.

Saya merasa tak perlu berkomunikasi dengan sahabat saya, M Hanif Dhakiri terkait sikap PKB. Siapa pula politisi asal Sumbar yang berani berhadapan dengan Febby Dt Bangso? Lebih satu dekade saya kenal Febby, sulit sekali mengalahkan kelincahan, keuletan, dan penguasaan bola Febby. Ndak ada lapangan permainan saja, Febby bisa bermain sendiri dengan spartan, ligat, dan presisi.

Jika Poros New Normal Sumbar ini berhasil solid, bahkan bisa bertambah dengan PDI Perjuangan, bagiama dengan Mahyeldi Ansharullah dari Partai Keadilan Sejahtera (10 kursi)? Satu-satunya partai yang bisa memenuhi syarat untuk diusung bersama tinggal Partai Persatuan Pembangunan yang punya 4 kursi.

Dari dua pasangan yang sudah diumumkan, empat teritorial sudah terwakili, yakni Kab Pesisir Selatan (Nasrul Abitt), Kab Agam – Kota Bukittinggi (Indra Catri), Kota Pariaman –  Kab Padang Pariaman (Ali Mukhni) dan Kota Payakumbuh – Kab 50 Kota (Mulyadi). Teritorial yang belum terwakili adalah Kota Solok (termasuk Kabupaten Solok dan Kab Solok Selatan), Kab Pasaman (dan Kab Pasaman Barat), Kota Sawahlunto (Kab Sijunjung dan Kab Dharmasraya) dan Kab Tanah Datar (dan Kota Padang Panjang). Populasi Kepulauan Mentawai terlalu kecil untuk dihitung sebagai kekuatan politik.

Padang?

Sejak dulu saya tak memasukkan Padang sebagai basis politik dalam pilgub Sumbar. Padang tidak mewakili teritorial subetnografis apapun. Padang adalah pasar besar yang menjadi ibukota provinsi pada tahun 1958. Alasan perpindahan Ibukota Sumbar dari Bukittinggi ke Padang tentu sangat terang-benderang: Bukittinggi semakin identik dengan Ibukota Pemerintahan Revolusioner Rakyat Indonesia (PRRI). Bolehlah nanti diskusi lebih panjang tentang posisi menarik kota yang paling besar populasinya ini, namun sulit menjadi tempat bersandar politisi Sumbar moderen.

Nasrul Abit lahir di Air Haji, Pesisir Selatan, 24 Desember 1954, adalah sarjana Universitas Lampung. Ali Mukhni, kelahiran Kampung Pauah, Padang Pariaman, 16 September 1956, adalah sarjana Universitas Negeri Padang.

Indra Catri, kelahiran Bukittinggi 4 April 1961, adalah sarjana Institut Teknologi Bandung. Mulyadi, kelahiran Bukittinggi 13 Maret 1963, adalah sarjana Universitas Trisakti.

Mahyeldi Ansharullah yang menjadi salah satu yang diperkirakan dapat tiket, kelahiran Bukittinggi, 25 Desember 1966, adalah sarjana Universitas Andalas.

Dalam “teori berdasarkan pengalaman” yang penulis dapatkan, pertarungan dalam perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur pada dasarnya adalah perebutan pengaruh antara dua perguruan tinggi negeri yang berada di provinsi tersebut. Yakni antara kampus keilmuan versus kampus keguruan. Sementara untuk pemilihan bupati atau walikota, perebutan pengaruh terjadi antara alumni SMA 1 versus SMA 2.

Untuk kasus Sumbar, antara Universitas Andalas versus Universitas Negeri Padang. Jadi, mohon maaf, jika dari yang sudah mendapatkan tiket, baru Ali Mukhni yang punya “partai” pendukung yang kuat, yakni jejaring alumni Universitas Negeri Padang. Sehingga, jika Mahyeldi jadi maju, pertempuran sengit bakal terjadi lagi antara “partai” Unand versus “partai” UNP. Namun di tempat silang nan bapangka, karajo nan bapokok, Mahyeldi bersihoyak dengan Indra Catri dan Mulyadi yang sama-sama asal Bukittinggi.

Di luar Mahyeldi, terdapat nama Fakhrizal yang kelahiran Bukittinggi, 26 April 1963. Walau tidak berhasil memenuhi syarat calon perseorangan, Fakhrizal merupakan calon unggulan yang bisa masuk dalam koalisi PKS. Tapi ada persoalan mendasar, Mahyeldi dan Fakhrizal sama-sama rang Bukik, koto rang Agam, sebagaimana juga Mulyadi dan Indra Catri. Dalam rentang usia, ceruk pemilih yang diwakili juga kecil. Fakhrizal masuk generasi baby boomers dan Mahyeldi yang lahir tahun 1966 berada dalam generasi X.

Pilihan yang tersedia bagi Fakhrizal adalah bertungkus lumus dengan koalisi Golkar-Nasdem-PKB. Koalisi kuning-biru-hijau ini menjadi terminal terakhir bagi Fakhrizal untuk ikut atau tidak. To be or not to be.

Di luar nama Fakhrizal, penulis hanya punya dua nama, yakni Suherman TRD (34 tahun) dan Faldo Maldini (30 tahun). Suherman dan Faldo bisa menjadi pilihan calon wakil gubernur bagi Fakhrizal. Angin politik membawa keberpihakan kepada Suherman dan Faldo. Suherman dan Faldo adalah wakil generasi milenial alias mereka yang lahir tahun 1981-1994. Bukan karena saya kenal keduanya dengan baik, tapi googling saja.

Suherman dan Faldo paling banyak muncul di media sosial, dibandingkan dengan nama-nama lain. Bukan hanya itu, pilkada raya 2020 adalah pilkada yang 100% menerapkan protokol COVID 19. Keseluruhan proses dan tahapan berlangsung di media, baik media cetak, elektronik, hingga online. Sama sekali tidak ada pengerahan massa semacam kampanye terbuka berhiaskan dangdut.

Diluar Faldo dan Suherman? Jangan lupa, Pilgub Sumbar penuh dengan kejutan. Dalam bayangan imajinatif saya, terdapat “kejadian” ajaib ini, yakni Fakhrizal berpasangan dengan Sutan Riska Tuanku Kerajaan. Sutan Riska adalah Bupati Dharmasraya kelahiran Solok, 21 Mei 1989. Masih 31 tahun. Pun berada dalam Generasi Milenial. PDI Perjuangan dan PPP bisa jadi bergabung. Lima partai politik nasional yang pada tahun lalu berada di satu kubu.

Dimana Genius Umar (48)? Tentu bisa tetap mendampingi Fakhrizal, apabila Suherman dan Faldo “dilewati”. Cuma, saya pribadi lebih berharap sahabat sebangku saya, Genius, melanjutkan kerja keras guna membangun water front city Pariaman. Tapi, kalau memang jodoh, bisa juga Genius adalah paket yang dikawal koalisi kuning-biru-hijau.

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara 2020-2024

 

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Jebakan Impian

Published

on

By

Oleh: Fatchuri Rosidin*

Channel9.id-Jakarta. Tulisan saya minggu lalu mengajak Anda untuk menuliskan impian. Kenapa judul tulisan kali ini Jebakan Impian?

Menuliskan impian itu langkah pertama untuk mewujudkannya. Kita mungkin punya banyak impian, mulai dari impian punya karir yang bagus, penghasilan yang lebih dari cukup, punya bisnis sendiri, punya kendaraan baru, punya rumah sendiri, sampai impian masuk surga. Semua impian ini bisa kita bagi 2: impian yang merupakan halte, dan impian yang bersifat terminal.

Apa bedanya? Impian halte itu impian antara; saat kita mencapainya, kita masih ingin meraih yang lebih tinggi lagi. Saat penghasilan kita 5 juta, kita ingin 10 juta. Kita merasa 10 juta lebih dari cukup untuk kebutuhan kita. Tapi saat sampai di angka 10 juta, pikiran kita berubah. Kita ingin naik lagi jadi 15 juta. Itu artinya penghasilan itu impian halte.

Impian jadi manajer juga halte. Kenapa? Karena saat sudah jadi manajer, kita ingin karir kita naik lagi sampai General Manager (GM). Sudah jadi GM ingin naik lagi sampai direktur. Sudah jadi direktur, ingin jadi direktur di perusahaan yang lebih besar. Begitu seterusnya. Itulah ciri halte: saat kita sudah sampai, kita ingin melanjutkan ke tujuan berikutnya.

Jadi, jabatan itu halte. Uang itu halte. Rumah itu halte. Mobil juga halte. Hidup yang hanya mengejar halte tak akan membuat kita bahagia. Kita akan selalu merasa kurang. Dan akhirnya terjebak untuk mengejar halte demi halte tanpa tahu apakah perjalanan kita semakin mendekat ke terminal.

Itulah fenomena hedonic treadmill. Di atas treadmill, meskipun berlari kita tak berpindah tempat. Kecepatan kita tambah dan kita pun berlari lebih cepat, tapi posisi kita tak berpindah tempat.  Penghasilan mungkin bertambah, tapi kebahagiaan jalan di tempat.

Sebaliknya, saat kita sampai di impian terminal, kita tak menginginkan yang lain. Impian terminal adalah ujung perjalanan hidup kita, cita-cita tertinggi kita. Impian yang saat kita sudah berhasil meraihnya, tak ada  lagi keinginan baru. Impian yang merupakan puncak kebahagiaan kita. Impian yang menjadi ujung perjalanan hidup kita. Impian yang berasal dari suara terdalam hati nurani kita. Impian terminal saya adalah masuk surga bersama keluarga. Itu impian tertinggi saya. Saat itu tercapai, saya tak menginginkan yang lain.

Mengenali mana impian terminal dan halte akan membantu kita menentukan prioritas. Ibarat supir angkot, saat jalanan macet karena banjir, supir angkot akan mencari jalan lain dan

mengorbankan halte di depannya daripada terjebak dan tak sampai terminal. Halte bisa dikorbankan, tapi terminal tidak.

Begitu juga impian kita. Impian halte bisa dikorbankan jika mengganggu sampainya kita di impian terminal. Saya rela mengorbankan impian punya penghasilan tinggi jika untuk mendapatkannya saya harus korupsi. Karena kalau itu saya ambil, saya mengorbankan impian terminal masuk surga bersama keluarga.

Impian terminal akan memandu kita dalam mengejar karir dan mencapai impian halte yang lain. Impian masuk surga bersama keluarga membantu saya untuk menilai apakah impian-impian halte yang sedang saya kejar mendekatkan saya ke surga atau justru menjauhkannya; apakah cara yang saya tempuh untuk mewujudkan impian halte tidak membuat saya terganjal masuk ke surga.

Setiap awal tahun, banyak orang menuliskan impian yang ingin dicapai tahun itu. Menuliskan impian tahunan itu bagus; akan mengingatkan apa yang ingin dicapai dan membuat kita bersemangat mengejarnya. Tapi tanpa menuliskan impian terminal lebih dahulu, mengejar impian tahunan akan membuat kita seperti mengejar halte demi halte tanpa kita melihat apakah halte yang kita kejar semakin mendekatkan kita ke terminal atau justru menjauhinya.

Di usia pensiun, banyak orang baru menyadari bahwa yang mereka kejar selama ini hanya halte dan baru bersiap melangkah ke terminal di ujung usia. Sebagian orang bahkan baru menyadari bahwa halte yang mereka kejar selama ini justru menjauhkannya dari terminal.

Jadi, apa impian terminal Anda? Apakah impian halte yang sedang Anda kejar makin mendekatkan Anda ke impian terminal atau menjauhkannya?

*Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Continue Reading

Opini

Penangkapan Djoko Tjandra, Berawal Surat Kapolri ke Polis Diraja Malaysia

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Proses penangkapan pelaku kejahatan yang buron ke luar negeri bukan perkara mudah. Proses penangkapan pelaku kejahatan yang berkeliaran di luar negeri membutuhkan kerjasama yang apik antara sesama polisi dua negara. Polri membuktikan memiliki hubungan dan kerjasama yang baik dengan Polis Diraja Malaysia dalam proses penangkapan buronan Djoko Tjandra.

Proses penangkapan Djoko Tjandra di Malaysia itu berawal dari surat Kapolri Jendral Idham Azis yang dikirim ke pihak Polis Diraja Malaysia.  Surat itu berisi permintaan kerjasama antara Polisi dengan Polisi, antara Kepolisian RI dengan Polis Diraja Malaysia.

Setelah surat permintaan kerjasama dari Kapolri itu, terjalinlah kerjasama antara polisi dan polisi untuk menemukan jejak keberadaan Djoko Tjandra di negeri jiran itu.  Keberadaan Djoko Tjandra tercium di Kuala Lumpur.

Pasca Kapoliri berkirim surat ke Polis Diraja Malaysia, Polri dan Polis Diraja Malaysia membentuk tim khusus. Dari Indonesia Kapolri menunjuk Kabareskrim Komjen Listiyo Sigit meminpin tim khusus. Selanjutnya tim khusus kedua belah pihak menjalin koordinasi intensif. Komunikasi yang apik terus dilakukan Polri dan Polis Diraja Malaysia untuk membekuk Djoko Tjandra.

Kerjasama intensif Polri dan Polis Diraja Malaysia berbuah manis. Hari Kamis (30/7) siang Polis Diraja Malaysia sudah menemukan tempat keberadaan buronan Djoko Tjandra.  Buronan itu diketahui berada di suatu tempat di Kuala Lumpur.

Setelah informasi tentang keberadaan Djoko Tjandra diterima Polri dari Polis Diraja Malaysia, Tim Khusus dipimpin Komjen Listiyo segera berangkat ke Kuala Lumpur pada Kamis sore hari. Menurut keterangan Kabareskrim, dirinya berangkat dengan petinggi Polri lainnya. Salah seorang yang turut serta dengan Kabareskrim ke Kuala Lumpur adalah Kadiv. Propam Polri Irjen Sigit. Tim khusus itu akhirnya membekuk Djoko Tjandra hari Kamis itu pula.

Komjen Listiyo menegaskan penangkapan Djoko Tjandra tersebut sebagai wujud komitmen dan kesungguhan Polri khususnya jajaran Bareskrim mengejar dan menangkap pelaku korupsi itu. Tidak menunda-nunda waktu lagi, Djoko Tjandra diterbangkan dari Malaysia ke Indonesia dengan menumpang pesawat air Craft dan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma pukul 22.40 Wib.  Dengan pengawalan ketat anggota Polri, Djoko Tjandra kemudian digiring ke Bareskrim Polri.

Keberhasilan tersebut, diapresiasi berbagai pihak. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian misalnya, ia memuji kerja keras polisi yang berhasil menerobos birokrasi antar dua negara tetangga. Mantan Kapolri itu menyebut, Kapolri beserta jajarannya patut mendapat apresiasi atas penangkapan buronan cessie Bank Bali itu.

*Sosiolog

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC