Connect with us

Hukum

Polri: Ada 51 Kasus Hoaks Covid-19, Modusnya Karena Iseng Hingga Tidak Puas Kinerja Pemerintah

Tayang

,

Channel9.id Jakarta. Polri terus menindak kasus hoaks terkait virus corona di Indonesia ini. Hingga saat ini, ada 51 kasus penyebar hoaks virus corona

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono menyatakan para pelaku menyebarkan hoaks tersebut karena iseng.

“Sejauh ini sudah ada 51 kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang telah dilakukan penindakan,” katanya saat dikonfirmasi, Sabtu (28/3).

“Modus operandi yang digunakan para pelaku umumnya karena iseng, bercandaan, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah,” katanya.

Argo menambahkan puluhan kasus hoaks itu diungkap oleh jajaran Mabes Polri dan Polda yang ada di semua wilayah Indonesia.

Polisi akan terus melakukan patroli siber guna memantau peredaran informasi hoaks yang meresahkan masyarakat. Polisi juga terus mengimbau agar masyarakat tak asal menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya.

Adapun para pelaku penyebaran berita hoaks tersebut dikenakan Pasal 45 dan 45 A UU ITE dengan ancaman pidana 6 tahun penjara dan Pasal 14 dan 15 UU No. 1 Tahun 1946 dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.

(Hendrik)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

PT Titis Sampurna Bantah Mardigu Wowiek Sebagai Pemilik

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta.  Klaim Mardigu Wowiek Prasantyo sebagai pemilik perusahaan minyak dan gas dibantah oleh Manajemen PT Titis Sampurna.

Dalam release yang diterima Channel9.id, pada PT Titis Sampurna, lewat Annisa DK VP Corporate Office, menyebutkan bahwa. “Perseroan mengklarifikasi mengenai hal-hal dalam pemberitaan media massa bahwa Mardigu Wowiek Prasantyo bukan merupakan pendiri dari Perseroan”.

Nama Mardigu Wowiek Prasantyo pernah tercatat sebagai salah satu pemegang saham minoritas di Perseroan sejak Oktober 2007 sampai dengan September 2016, yang mana keseluruhan saham tersebut diwariskan dari ayah yang bersangkutan yang merupakan salah satu pemegang saham minoritas pada tahap awal Perseroan.

Sejak tahun 2016 keseluruhan saham tersebut telah dialihkan seluruhnya, sehingga Mardigu Wowiek Prasantyo tidak memiliki kepemilikan saham di Perseroan ataupun afiliasinya.

Sepanjang 40 tahun berdirinya Perseroan, Mardigu Wowiek Prasantyo tidak pernah tercatat dalam manajemen Perseroan sehingga yang bersangkutan tidak pernah menduduki posisi yang dapat menentukan arah kebijakan maupun pengambilan keputusan dalam Perseroan.

Mardigu Wowiek Prasantyo hanya pernah memegang posisi anggota Dewan Komisaris Perseroan dan direksi di anak usaha Perseroan pada tahun 2012 yang merupakan diversifikasi pengembangan bidang usaha baru, yang mana posisi tersebut juga sudah berakhir di tahun 2015.

Terhitung sejak September 2016, nama Mardigu Wowiek Prasantyo bukan merupakan pemegang saham maupun pengurus di Perseroan maupun afiliasinya. Mardigu Wowiek Prasantyo juga bukan merupakan karyawan ataupun masuk dalam Manajemen Perseroan dan afiliasinya, dengan demikian Perseroan berikut afiliasinya tidak memiliki keterikatan apapun dengan Mardigu Wowiek Prasantyo, dan seluruh tindakan yang bersangkutan adalah murni tanggung jawab pribadi dari Mardigu Wowiek Prasantyo.

Mardigu yang sebelumnya dikenal sebagai psikolog forensik, belakangan aktif di media sosial sebagai youtuber.  Pendiri Rumah Yatim ini, kerap mengunggah video-video di kanal Youtube dengan pernyataan lugas dan memiliki banyak volover di media sosial dan lebih dikenal dengan sebutan Bossman Sontoloyo.

Di sebuah media massa, Mardigu menyebut sebagai pemilik dari 32 perusahaan nasional dan regional.  Salah satunya, perusahaan minyak dan gas. Ia mengaku memiliki pendapatan hingga USD 200 juta atau setara Rp 2,96 triliun, dari usaha ini.  Ia mengaku sebagai owner PT Titis Sampurna dan PT Empora Gaharu, Narapatih Mind & Menthal Clinic.

Bahkan sempat disebutkan apabila Mardigu mematikan aliran gasnya ke Singapura, maka separoh negeri jiran itu akan menjadi gelap gulita.

PT Titis Sampurna sendiri adalah perusahaan layanan jasa di bidang energi dalam pemeliharaan dan pengoperasioanfasilitas kilang minyak dan gas yang sudah berdiri sejak 40 tahun lalu di Indonesia.

 

Continue Reading

Hukum

Kriminolog UI: Hubungan Simbolik Antara Pelaku dan Korban Jadi Kemungkinan Terbesar Insiden Penyiraman Air Keras Novel

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Kriminolog Universitas Indonesia (UI), M Mustofa mengungkapkan alasan Rahmat Kadir Mahulette menyerang Novel Baswedan dengan air keras.

Menurut Mustofa, kemungkinan terbesar Rahmat menyerang Novel karena terdapat hubungan simbolik antara keduanya.

“Kemungkinan paling besar, terdapat hubungan simbolik antara pelaku dan korban. Bukan karena dibayar atau diminta atasanya di Brimob,” kata Mustofa dalam sidang lanjutan Novel Baswedan, Kamis (28/5).

Hasil analisa tersebut disimpulkan Mustofa, dengan pendekatan Realis Kriminologis yang dihubungkan dengan sejumlah data. Dari sejumlah kemungkinan, alasan hubungan simbolik mendapat kemungkinan tertinggi.

“Saya tanya penyidik, ada data yang mengindikasikan terdakwa dibayar tidak? Penyidik bilang tidak menemukan. Lalu, saya tanya data terkait indikasi diminta atasannya. Penyidik juga tak menemukan,” ujar Mustofa.

Mustofa menjelaskan, Rahmat tidak menerima institusinya dilecehkan oleh Novel Baswedan.

Rahmat sebagai anggota Brimob sangat menjunjung tingi korpsnya. Rahmat memegang teguh jiwa korsa, disipilin, dan solidaritas. Saat melihat ada pengkhianat di tubuh Brimob, ia ingin memulihkan nama baik kesatuannya.

“Rahmat anggota Brimob, Novel mantan anggota Brimob. Ia melihat ada penyimpangan, ada pengkhianat di tubuh kesatuanya. Ia ingin mengembalikan nama baik kesatuannya. Ini tipenya Altruistis, lebih luhur dari keinginan pribadi,” kata Mustofa.

Menurut Mustofa tak aneh bila Rahmat menjunjung tinggi korpsnya. Lantaran, sebagai anggota Brimob, Rahmat dididik dengan pendekatan militer dan mengedepankan jiwa korsa. Pendidikan tersebut yang membuat Rahmat sangat mencintai institusinya.

“Nah dalam hal ini, seharusnya Novel sebagai anggota Polri memiliki jiwa yang sama. Namun, Novel justru mengorbankan anak buahnya dalam kasus Burung Wallet. Novel dinilai tidak mencerminkan jiwa korpsnya,” kata Mustofa.

Sementara itu, Ronny Bugis hanya membantu Rahmat atas dasar pertemanan dalam kesatuan Brimob. Menurut Mustofa, hal tersebut bisa terjadi karena dalam hubungan pertemanan pasti ada yang mendominasi. Dalam hal ini, Rahmat mendominasi Ronny dalam percakapan.

Hal ini yang membuat Ronny tak tahu secara eksplisit, bila Rahmat akan menyerang Novel Baswedan. Ronny hanya diminta bantuan oleh Rahma untuk memberikan pelajaran terhadap seseorang.

“Ronny membantu atas dasar solidaritas saja. Ia tak punya inisiatif menyerang,” pungkasnya.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum mendakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir melakukan penganiayaan kepada penyidik senior KPK Novel Baswedan pada 11 April 2017 lalu.

Keduanya terjerat pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP subsider Pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan atau Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang Penganiayaan Berat.

(Hendrik)

Continue Reading

Hukum

Psikolog: Terdakwa Penyiraman Novel, Rahmat Kadir Mirip Cerita Pembunuh John Lennon

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Psikolog yang juga Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof, Dr, Hamdi Muluk, menyebut kecil kemungkinan rekayasa dan kebohongan dari pelaku kasus penyiraman air keras penyidik KPK Novel Baswedan.  Hal ini disampaikan dalam sidang lanjutan di PN Jakarta Utara, Jalan Gajah Mada Jakarta (28/5/20).

Pernyataan ini disampaikan oleh Hamdi Muluk, saat didatangkan sebagai ahli dalam sidang dengan terdakwa Rahmat Kadir dan Ronny Bugis, dua pelaku penyiraman dengan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.   Prof Hamdi menyebutkan dirinya telah melakukan pemeriksaan  terhadap dua terdakwa Rahmat Kadir dan Ronny Bugis.

Jaksa Penuntut Umum sempat menanyatakan, soal pengakuan kedua terdakwa.  Apakah ada  kemungkinan mereka mereka berbohong? tanya jaksa kepada ahli.
Prof Hamdi menyebut, “Kemungkinan berbohong kecil, mereka Pelaku yang berada dalam institusi yang polos polos saja. mereka yang di pasukan tempur, pola pikirnya  hitam putih saja ,” katanya.
Bagaimana soal frase penghianat yang disampaikan terdakwa, sehingga yang disampaikan Rahmat menjadi sangat obsesif?
Prof Hamdi Muluk pun menjelaskan, orang punya role model.  Bagi orang seperti Rahmat, role model pada kesatuan. Kalau pimpinan saya baik mengayomi, bisa disebut sindrom espririt de corps yang salah,  iya. Tetapi ini ada pada tipe-tipe orang seperti Rahmat ini, katanya.
Seperti yang keluar dari ucapan Rahmat sendiri, menganggap sok suci ini kalimat Rahmat. Di kasus sarang walet di Bengkulu dia merasa Novel mengorbankan anak buah. Maka menyimpulkan korban sebagai  penghianat.
Ini mirip kisah pembunuh John Lennon, Mark Davis Chapman. Chapman mengidolakan Lennon tetapi pada satu titik dia kecewa dengan  idolanya. Ekspektasi terhadap Lennon berubah, berubah.
Maka pada suatu pagi, Chapman sudah menunggu di apartemen Lennon, “Dia sampaikan Halo Mr Lenon dan door, John Lennon mati. Jadi psikological genesis Rahmat sama dengan Mark Davis Chapman. Ini memang unik,” ujar Prof Hamdi Muluk.
Ini karakter prajurit, simple man, patuh loyal, tidak neko-neko. Pikirnya ya atau tidak.  Tetapi kemudian melihat sosok penghianat, maka dia melampiaskan dan merasa puas.
“Pelaku tidak cukup cerdas menghitung (dampaknya ke depan) kesatuannya bisa jadi bulanan-bulanan, itu di luar pemikirannya. Dia tidak berpikir sampai di situ,” katanya.
“Saya menanyakan apakah ada konspirasi besar?” kata Prof Hamdi menceritakan proses pemeriksaan psikologis kepada kedua terdakwa . Mereka Rahmat dan Roni, menjawab silahkan periksa sampai sedetil-detilnya,  saya sudah menyampaikan apa yang sebenarnya.
Hamdi menjelas, ini motif yang unik hanya milik Rahmat Kadir. Rahmat menyebut, bahwa dirinya punya perasaan.  “Saya punya perasaan, saya berhak mengatakan dia penghianat, ini terungkap berulang-ulang saat saya periksa. Bagi saya dia (Novel Baswedan) penghianat, itu hak saya untuk  marah. apakah tidak boleh saya punya perasaan, saya tidak peduli orang bilang apa,” ujar Prof Hamdi menjelaskan dengan detil.
Bagaimana dengan Ronie yang akhirnya dengan tiba-tiba membocorkan kepada pimpinan?  Kalau awalnya Rahmat marah karena Ronny yang membocorkan masalah ini, hingga terungkap.

Prof Hamdi pun menjelaskan, hal ini pun sudah dilakukan pemeriksaan psikologi berkali-kali.  Menurut pengakuan Ronny, ada pergulatan psikologis dalam dirinya.
“Dia merasa ada yang salah. Dia awalnya  datangi mentor dan seniornya  di gereja, karena ada tekanan batin ini saya punya rahasia. Atasan saya berkali-kali kaget tidak percaya, apa bener?  Apa benar.  Atasannya tidak pernah menyangka.  Karena ini masalah besar maka berjenjang laporan Brimob ke atasan yang lebih tinggi sampai kemudian ke Kabareskrim,” ujar Hamdi Muluk.
Jadi meansrea atau niat jahat kata Prof Hamdi, lebih pada Rahmat. Ronny pada awalnya tidak tahu menahu sahabatnya Rahmat akan menyakiti korban Novel Baswedan.
Tim pengacara pun sempat menanyakan, adakah kemungkinan pelaku Rahmat Kadir adalah seorang psikopat.  Merujuk pada pemeriksaan psikologi, Prof Hamdi menjelaskan latar belakang pelaku.  Apakah psikopat, patological vailur dari prilaku kebohongan yang biasa.
“Maka saya lakukan pemeriksaan dan pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kebohongan. Karena tidak mungkin anggota Brimob pasukan tempur menerima psikopat, apalagi setiap penugasan ada pemeriksaan psikologi, sementara psikopat itu melekat dan dibawa terus jadi pasti akan ketahuan atau terdeksi,” katanya.
Prof Hamdi menjelaska  ia juga diberikan data dari BAP, saya konfrontir, soal kemungkinan direkayasa atau (diperintah)?  Dari latar belakang tidak ada piskopat yang menunjukkan psikological vailure. Bahwa Rahmat lebih impulsif  atau bahasa mudahnya lebih brangasan, ujar Prof Hamdi.
Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC