Connect with us

Lifestyle & Sport

Jebakan Impian

Tayang

,

Oleh: Fatchuri Rosidin*

Channel9.id-Jakarta. Tulisan saya minggu lalu mengajak Anda untuk menuliskan impian. Kenapa judul tulisan kali ini Jebakan Impian?

Menuliskan impian itu langkah pertama untuk mewujudkannya. Kita mungkin punya banyak impian, mulai dari impian punya karir yang bagus, penghasilan yang lebih dari cukup, punya bisnis sendiri, punya kendaraan baru, punya rumah sendiri, sampai impian masuk surga. Semua impian ini bisa kita bagi 2: impian yang merupakan halte, dan impian yang bersifat terminal.

Apa bedanya? Impian halte itu impian antara; saat kita mencapainya, kita masih ingin meraih yang lebih tinggi lagi. Saat penghasilan kita 5 juta, kita ingin 10 juta. Kita merasa 10 juta lebih dari cukup untuk kebutuhan kita. Tapi saat sampai di angka 10 juta, pikiran kita berubah. Kita ingin naik lagi jadi 15 juta. Itu artinya penghasilan itu impian halte.

Impian jadi manajer juga halte. Kenapa? Karena saat sudah jadi manajer, kita ingin karir kita naik lagi sampai General Manager (GM). Sudah jadi GM ingin naik lagi sampai direktur. Sudah jadi direktur, ingin jadi direktur di perusahaan yang lebih besar. Begitu seterusnya. Itulah ciri halte: saat kita sudah sampai, kita ingin melanjutkan ke tujuan berikutnya.

Jadi, jabatan itu halte. Uang itu halte. Rumah itu halte. Mobil juga halte. Hidup yang hanya mengejar halte tak akan membuat kita bahagia. Kita akan selalu merasa kurang. Dan akhirnya terjebak untuk mengejar halte demi halte tanpa tahu apakah perjalanan kita semakin mendekat ke terminal.

Itulah fenomena hedonic treadmill. Di atas treadmill, meskipun berlari kita tak berpindah tempat. Kecepatan kita tambah dan kita pun berlari lebih cepat, tapi posisi kita tak berpindah tempat.  Penghasilan mungkin bertambah, tapi kebahagiaan jalan di tempat.

Sebaliknya, saat kita sampai di impian terminal, kita tak menginginkan yang lain. Impian terminal adalah ujung perjalanan hidup kita, cita-cita tertinggi kita. Impian yang saat kita sudah berhasil meraihnya, tak ada  lagi keinginan baru. Impian yang merupakan puncak kebahagiaan kita. Impian yang menjadi ujung perjalanan hidup kita. Impian yang berasal dari suara terdalam hati nurani kita. Impian terminal saya adalah masuk surga bersama keluarga. Itu impian tertinggi saya. Saat itu tercapai, saya tak menginginkan yang lain.

Mengenali mana impian terminal dan halte akan membantu kita menentukan prioritas. Ibarat supir angkot, saat jalanan macet karena banjir, supir angkot akan mencari jalan lain dan

mengorbankan halte di depannya daripada terjebak dan tak sampai terminal. Halte bisa dikorbankan, tapi terminal tidak.

Begitu juga impian kita. Impian halte bisa dikorbankan jika mengganggu sampainya kita di impian terminal. Saya rela mengorbankan impian punya penghasilan tinggi jika untuk mendapatkannya saya harus korupsi. Karena kalau itu saya ambil, saya mengorbankan impian terminal masuk surga bersama keluarga.

Impian terminal akan memandu kita dalam mengejar karir dan mencapai impian halte yang lain. Impian masuk surga bersama keluarga membantu saya untuk menilai apakah impian-impian halte yang sedang saya kejar mendekatkan saya ke surga atau justru menjauhkannya; apakah cara yang saya tempuh untuk mewujudkan impian halte tidak membuat saya terganjal masuk ke surga.

Setiap awal tahun, banyak orang menuliskan impian yang ingin dicapai tahun itu. Menuliskan impian tahunan itu bagus; akan mengingatkan apa yang ingin dicapai dan membuat kita bersemangat mengejarnya. Tapi tanpa menuliskan impian terminal lebih dahulu, mengejar impian tahunan akan membuat kita seperti mengejar halte demi halte tanpa kita melihat apakah halte yang kita kejar semakin mendekatkan kita ke terminal atau justru menjauhinya.

Di usia pensiun, banyak orang baru menyadari bahwa yang mereka kejar selama ini hanya halte dan baru bersiap melangkah ke terminal di ujung usia. Sebagian orang bahkan baru menyadari bahwa halte yang mereka kejar selama ini justru menjauhkannya dari terminal.

Jadi, apa impian terminal Anda? Apakah impian halte yang sedang Anda kejar makin mendekatkan Anda ke impian terminal atau menjauhkannya?

*Direktur Inspirasi Melintas Zaman (IMZ)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Pengrajin Eva Sanjaya Bersama Komunitas Buldom Crafter Sulap Limbah Bulu Domba Jadi Boneka

Published

on

By

Channel9.id-Sidoarjo. Limbah bulu domba kini bernilai ekonomi, dari tangan salah satu Pengrajin Eva Sanjaya bersama komunitas buldom crafter, limbah bulu domba di manfaatkan menjadi boneka, lukisan, bunga dan kerajinan lainnya, kerajinan ini berpusat di perumahan Griya Samudra Asri, Desa Kramat Jegu, Taman, Sidoarjo, Jawa Timur.

Kerajinan dari bulu domba ini dijual dengan harga Rp 50.000 – Rp 900 ribu dan sudah di pasarkan ke Sidoarjo, Surabaya, Jember, Bondowoso hingga Aceh.

“Awal pemanfaatan bulu domba ini setelah melihat banyaknya limbah bulu domba dari sejumlah peternak di Sidoarjo. Daripada dibuang percuma” ucap Eva, selasa (4/8/20).

Dia menerangkan, bulu domba lebih dulu dihaluskan dan diberi pewarna tekstil sebelum disulap menjadi kerajinan. Kemudian, bulu domba dirangkai dengan jarum dan kertas khusus untuk menjadi lukisan.

Dalam sehari, Eva bersama komunitasnya mampu memproduksi 20 boneka dan dua lukisan bulu domba.

Eva bersama komunitas buldom crafter juga beberapa kali mengikuti pelatihan dan pameran, baik di jawa maupun luar jawa. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki kualitas serta memperluas pangsa pasar.

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Belajar Online Melulu, Berikut Cara Agar Anak Tak Kecanduan Gawai

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Masih banyak sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PPJ) hingga saat ini. Alasan utama penerapan sistem ini ialah untuk mencegah penularan Covid-19.

Situasi pandemi ini memang memaksa anak-anak untuk lebih banyak tinggal di rumah dan mengikuti PJJ. Namun, kemudian muncul kekhawatiran soal penggunaan gawai atau ponsel yang tidak terkontrol.

Pasalnya, durasi waktu menatap layar saat ini meningkat dibanding masa sebelumnya. Oleh karenanya, Sekretaris Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dr Catharine Mayung Sambo, SpA(K) mengatakan anak-anak harus mendapat perhatian khusus dari orang tua, demi menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan gawai.

IDAI pun menyarankan sejumlah hal berikut ini agar anak tidak terlalu terikat dengan gawai.

1. Gunakan gawai sesuai usia
Untuk anak sekolah penggunaannya sesuai keperluan sekolah. Sedangkan, adik-adik yang lebih kecil tidak usah pakai gawai dulu.

2. Beri waktu dan ruang khusus
Orang tua mesti menyiapkan ruangan khusus untuk anak belajar di rumah. Tujuannya agar anak belajar di rumah dengan efektif dan orang tua bisa mengawasi penggunaan gawainya.

“Kalau sudah selesai waktunya (belajar), keluarlah dari ruangan tersebut dan tinggalkan gawainya di situ,” ujar dr Mayung, Senin (3/8).

3. Variasikan kegiatan
Orang tua sebaiknya selalu mendampingi anak dan mendiskusikan aktivitas selanjutnya yang akan mereka lakukan, setelah menggunakan gawai. Terlebih lagi jika anak masih di usia pra-sekolah.

4. Atur jadwal istirahat
Perhatikan jadwal istirahat anak. Setelah lelah menatap gawai, berikan anak waktu untuk istirahat. Misalnya dengan melakukan aktivitas fisik atau bermain.

Misalnya, setelah 45 menit hingga 1 jam menggunakan gawai, anak diajak bermain interaktif, makan, dan melakukan aktivitas fisik.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Ramai Gilang Kain Jarik, Fetish tidak Melulu Penyakit Mental

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Beberapa hari terakhir, netizen dibuat geger dengan kasus Gilang bungkus kain jarik. Banyak orang yang akhirnya mengaku pernah menjadi korban penelitian palsu yang dilakukan Gilang.

Dikatehui, Gilang, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga meminta korbannya untuk membungkus dirinya sendiri. Kemudian, korban diminta mendokumentasikan dan mengirimkannya kepada Gilang.

Sebenarnya, ketertarikan seksual terhadap benda yang dianggap aneh tak hanya dilakukan oleh Gilang bungkus jarik. Ada banyak orang yang memiliki ketertarikan seksual dengan sepatu, patung, kayu, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, apakah ketertarikan seksual terhadap objek-objek aneh termasuk dalam penyakit mental? Mengutip dari Live Science, pertanyaan tersebut memiliki jawaban kondisional. Bisa saja ketertarikan seksual termasuk dalam penyakit mental, tapi tidak seharusnya.

Hasrat seksual terhadap hal tertentu yang dianggap menyimpang bisa disebut dengan fetish. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders mendeskripsikan fetish sebagai pengalaman multisensor.

Fetisisme adalah salah satu ketertarikan tak biasa yang dapat menyebabkan penyimpangan. Hal itu juga dikenal dengan sebutan paraphilias. Fetisisme tergolong sebagai penyimpangan jika sudah melewati batas, seperti membahayakan orang lain.

Dalam kasus Gilang bungkus kain jarik, fetis yang dimiliki tidak akan menjadi masalah jika tidak membahayakan orang lain. Namun, apa yang dilakukan Gilang ternyata sangat merugikan korban-korbannya. Hal itu tergolong dalam fetishistic disorder atau penyimpangan fetish.

Terkadang, tidak semua orang yang memiliki fetish merasa nyaman karena ia percaya bahwa ketertarikan seksualnya menyimpang. Hal penting yang perlu dilakukan saat memiliki fetish adalah mengaturnya agar tidak melewati batas dan merugikan orang lain.

IG

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC