Hot Topic Hukum

Begini Awal Mula Bertemunya Aipda M dengan Sindikat Jual Ginjal ke Kamboja

Channel9.id – Jakarta. Polisi menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dengan modus penjualan ginjal ke Kamboja di Kecamatan Tarumaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Salah satu tersangka merupakan oknum polisi inisial M berpangkat Aipda.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi mengatakan Aipda M tidak termasuk bagian sindikat TPPO penjualan ginjal di Kamboja, tetapi ia menerima aliran dana dari jaringan tersebut.

Hengki pun mengungkapkan awal mula keterlibatan Aipda M di kasus ini. Mulanya, sindikat kasus TPPO modus penjualan ginjal di Kabupaten Bekasi mengenal sosok anggota Polri berinisial Aipda M dari seorang sopir taksi online.

Hubungan tersebut bermula saat polisi mengungkap sebuah rumah di Kabupaten Bekasi yang digunakan sebagai tempat penampungan para korban atau calon pendonor.

Mengetahui tempatnya terbongkar, para tersangka pun panik. Mereka lantas berusaha melarikan diri dari kejaran aparat kepolisian.

Dalam upaya pelarian ini, salah satu tersangka mengenal seorang sopir taksi online dan akhirnya membantu mereka melarikan diri. Melalui sopir taksi online inilah para tersangka akhirnya berkenalan dengan Aipda M.

“Sopirnya (mengatakan) ‘nih saya kenal anggota kepolisian yang informasinya bisa membantu agar tidak dilanjutkan kasusnya’,” kata Hengki di Polda Metro Jaya, Jumat (21/7/2023).

Sindikat ini kemudian berkenalan dengan Aipda M yang merupakan anggota Polres Metro Bekasi. Setelahnya, Aipda M memberikan trik agar dapat lolos dari sergapan pihak berwajib, seperti berpindah-pindah tempat, menghilangkan handphone, serta menghapus jejak data-data milik sindikat tersebut.

Trik ini pun diikuti oleh para tersangka dan berhasil membuat polisi kesulitan untuk melakukan proses penyelidikan hingga penangkapan.

“Itu mempersulit penyidikan, kita tidak tahu ini berapa yang ada di Kamboja, berapa identitasnya apa, paspornya apa itu kesulitan pada saat sebelum berangkat ke Kamboja itu, bahkan setelah berangkat kita untuk koordinasi dengan tim yang di Kamboja kesulitan karena handphonenya sudah hilang semua,” ungkap Hengki.

Berkat bantuannya, Aipda M mendapat imbalan sebesar Rp612 juta dari para tersangka lantaran sudah membantu menghindari pengejaran pihak kepolisian. Aipda M menjanjikan seolah-olah bisa mengurus agar kasus tersangka tidak dilanjutkan.

“Boleh dikatakan ini adalah obstruction of justice. Tapi dalam pasal dalam UU TPPO ada itu di sana. Untuk mengahalangi penyidikan secara langsung atau tidak. Itu ancamannya sangat berat,” ucap Hengki.

Adapun selain Aipda M, 11 tersangka lainnya yakni, sindikat dalam negeri sebanyak sembilan orang, sindikat luar negeri sebanyak satu orang, dan pegawai Imigrasi berinisial AH.

Oknum berinisial AH ini diketahui menerima uang hingga Rp3,5 juta untuk membantu meloloskan para WNI ke Kamboja.

Untuk tersangka anggota Polri dikenakan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Jo Pasal 221 ayat (1) ke 1 KUHP.

Kemudian, pegawai Imigrasi dikenakan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang TPPO. Sementara 10 tersangka lainnya dijerat Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) dan atau Pasal 4 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang TPPO.

Baca juga: Parah! WNI Didagangkan ke Luar Negeri, Polri Bongkar Jaringan Internasional TPPO dan Menangkap 2 Tersangka

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  14  =  16