Connect with us

Opini

Rekor, Defisit APBN 2019 Mencapai 353 Triliun

Tayang

,

Oleh: Awalil Rizky*

Channel9.id-Jakarta. Defisit APBN 2019 dilaporkan sebesar Rp353 triliun pada tanggal 7 Januari lalu. Kementerian keuangan mencoba menjelaskan bahwa capaian itu tidak terlampau jauh dari target. Yang dikedepankan adalah realisasi 2,2% dari PDB dibandingkan targetnya yang 1,84%. Padahal, selisihnya secara nominal terbilang cukup besar, yaitu Rp57 triliun.  

Realisasi APBN selama era reformasi memang selalu mengalami defisit. Total belanja negara lebih besar dibandingkan dengan pendapatan. Nilai defisit berfluktuasi, atau tidak selalu bertambah. Sejak tahun 2011 hingga tahun 2017, kenaikan belanja lebih tinggi dibanding kenaikan pendapatan. Defisit secara nominal cenderung makin lebar.

Hal sebaliknya terjadi pada tahun 2018, sehingga nominal defisit turun. Sayangnya, defisit tahun 2019 kembali meningkat. Bahkan, merupakan rekor defisit terbesar secara nominal.

Pemerintah nyaris tak pernah mengedepankan nilai nominal defisit sebagai alat analisis ataupun narasi penjelasan kepada publik. Ukuran yang dipakai adalah persentase atau rasio defisit atas Produk Domestik Bruto (PDB). PDB dianggap mewakili besaran pendapatan nasional.

Rasio defisit APBN atas PDB cukup berfluktuasi dari tahun ke tahun. Rasio defisit tahun 2019 sebesar 2,20%. Rata-rata rasio defisit pada periode Jokowi I (2015-2019) sebesar 2,31%. Jauh lebih lebar dibanding periode SBY I (2005-2009) yang hanya 0,80%. Masih lebih lebar pula dari periode SBY II (2010-2014) yang sebesar 1,58%.

Defisit secara nominal dan secara rasio sebenarnya berhasil ditekan pada tahun 2018. Sri Mulyani semula mengklaim sebagai kinerja luar biasa, menjadi defisit paling rendah sejak tahun 2012. Klaim berdasar laporan realisasi sementara pada awal Januari 2019, yakni sebesar 1,72% dari PDB. Sedangkan defisit tahun 2012 tercatat 1,78%. Secara nominal, defisitnya sebesar Rp259,9 triliun.

Tatkala Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) telah diselesaikan dan kemudian diaudit oleh BPK, defisit nominal bertambah sebanyak Rp9,5 trilun menjadi Rp269,4 triliun. Sedangkan rasio atas PDB naik menjadi sebesar 1,82% dari PDB.

Meski defisit dalam LKPP 2018 audited ternyata lebih lebar dari laporan sementara, namun hal sebaliknya terjadi pada tahun 2017.

Faktor yang membuat perbedaan signifikan antara laporan sementara dengan yang audited pada tahun 2018 adalah besaran Belanja. Dapat dikatakan, ada beberapa Belanja yang belum terlaporkan. Sedangkan dalam hal pendapatan, perubahan hanya kecil.

Belanja yang semula dilaporkan Rp2.202,2 triliun, bertambah Rp11,1 triliun menjadi Rp2.213.1 triliun. Sedangkan Pendapatan hanya bertambah Rp1,4 triliun.

Pada tahun 2017, perbedaan signifikan terdapat pada laporan tentang Pendapatan, yang bertambah sebesar Rp10,6 triliun. Antara lain karena soal administrasi kebijakan tax amnesty saat itu. Sedangkan tambahan dari Belanja yang kemudian terlaporkan sebesar Rp5,8 triliun.

LKPP 2019 APBN sendiri baru akan diketahui beberapa bulan lagi. Dan yang telah diaudit akan terpublikasi bulan Mei. Defisit definitif tampaknya akan lebih besar dari yang sementara.

Pendapatan yang belum terlaporkan kemungkinan tidak banyak, mengingat telah ada upaya keras sebulan terakhir untuk menggenjotnya. Tidak ada program tax amnesty seperti tahun 2017 yang menyisakan penyesuaian administrasi signifikan hingga hari terakhir tahun berjalan.

Pengecualian adalah jika ada yang belum tercatat dari upaya “injak kaki” wajib pajak kelas kakap yang dipersuasi untuk bayar lebih. Kelebihan bayar itu tetap dicatat sebagai pendapatan 2019, meski akan memperoleh restitusi pada tahun berikutnya. 

Sementara itu, belanja definitif dapat dipastikan akan lebih besar dibandingkan laporan yang bersifat sementara. Kemungkinan bertambah sekitar Rp10 triliun.

Dengan pertimbangan tersebut, defisit definitif secara nominal dari APBN 2019 dapat mencapai Rp360 triliun. Rasionya atas PDB yang presisi masih bergantung realisasi setahun yang akan dipublikasikan BPS pada bulan Februari mendatang.

Perhitungan saat ini berdasar asumsi PDB harga berlaku sebesar Rp16.045 triliun. Jika ternyata setara, maka rasionya akan menjadi 2,24%. Jika nilai PDB lebih besar, maka rasionya dapat sedikit turun. Dan sebaliknya.   

Penulis memprakirakan PDB harga berlaku akan lebih rendah dari asumsi itu, kemungkinan sekitar Rp15.900 hingga Rp16.000 triliun. Pada akhirnya, rasio defisit yang definitif akan sekitar 2,25%. Lebih besar dari laporan sementara yang sebesar 2,20%.

Defisit itu masih dalam batas yang diperbolehkan oleh undang-undang. Pemerintah menjelaskan bahwa kondisinya tetap terjaga dan telah dilakukan secara terukur, sebagai bentuk countercyclical pelemahan ekonomi.

Bagaimanapun, rekor defisit nominal telah tercipta. Dan secara rasio atas PDB juga makin lebar. Ruang untuk “manuver fiscal” menyempit pada tahun 2020.

Semoga kondisi perekonomian tidak jauh lebih buruk dari prakiraan Nota Keuangan dan APBN 2020.

*Chief Economist Institut Harkat Negeri

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Dunia Siber dan Populisme Islam

Published

on

By

Oleh: M.S. Ridho*

Channel9.id-Jakarta. Dunia siber merupakan arena perebutan ruang publik –meminjam istilah dari Jurgen Habermas– di dunia digital yang seringkali memengaruhi realitas yang terjadi di alam nyata. Satu dekade terakhir praktik kehidupan sosial, politik, budaya, dan ekonomi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh praktik-praktik para pelaku di dunia siber, buzzer termasuk di dalamnya.

Buzzer adalah individu atau akun yang memiliki kemampuan amplifikasi pesan dengan cara menarik perhatian dan/atau membangun percakapan dan bergerak dengan motif tertentu (CIPG, 2017). Buzzer merupakan istilah yang populer karena keberadaan dunia siber dan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian praktisi media sosial. Buzzer digunakan untuk kepentingan promosi sebuah produk. Pun dalam isu radikalisme, tidak sedikit akun-akun media sosial di twitter, instagram, yang menggunakan buzzer sebagai metode efektif penyebarluasan gagasan atau promosi radikalisme.

 Tidak sedikit riset yang menunjukkan bahwa perubahan seseorang menjadi radikal karena dipengaruhi oleh informasi dari media dunia siber. Sebagaimana dikatakan oleh Wakil Presiden 2014-2019, Jusuf Kalla bahwa “Teknologi juga itu membuat menyebabkan orang radikal. Itu tandanya Lone Wolf itu. Karena yang mengajarkan itu bukan orang. Mereka membaca di internet dan sebagainya”, diungkapkan pada saat menyikapi teror yang terjadi di Mapolda Sumatera Utara, dan juga di Masjid Falatehan dekat Mabes Polri pada awal Juli 2017.

Berdasarkan amatan saya, banyak situs yang menggunakan identitas Islam, portal-islam.id misalnya, seringkali mengunggah judul-judul berita yang bombastis dan sangat prejudice. Seperti berikut: “Lutfi: Saya Disetrum dan Dipukul Agar Akui Lempar Batu Ke Polisi” (22 Januari 2020), “Ahmad Dhani: Islam Difitnah! SIAPA YANG UNTUNG dengan TERORISME??? Pake OTAK DOBOL Lu untuk MIKIR” (2 Juli 2017). Lalu pada bulan Agustus 2017 menampilkan judul-judul diantaranya berikut ini: “AWAS! JEBAKAN BETMEN Soal AHOK” (portal-islam.id, 6 Agustus 2017), “Allahu Akbar! Mantan Pendeta Penista Islam Yang Pernah Dilaporkan FPI Akhirnya Masuk Islam” (portal-islam.id, 16 Agustus, 2017). Sementara itu pada bulan September 2017 diantaranya yaitu: “Bagaimana Akhir Kesudahan Teroris Botak yang Bantai Muslim Rohingya? Ini Isyarat Al Quran” dan “Abaikan Perintah, Polisi Izinkan Pengungsi Rohingya Masuk Bangladesh” (Minggu, 3 September 2017), “Allahu Akbar! MESKI DICEGAT DAN DIPERSULIT, Ribuan Massa Tumpah Ruah Bela Rohingya di “Aksi Borobudur” (8 September 2017), “Air Susu Dibalas Air Tuba… Saat Pemilu Muslim Myanmar Dirayu Dukung Suu Kyi, Saat Berkuasa Muslim Dibantai” (10 September 2017).

Dari beberapa judul di atas tersebut mengindikasikan bahwasanya portal-islam.id sedang berusaha melakukan penguasaan media siber dengan menggunakan idiom-idiom Islam dalam headline laman mereka. Islam sekadar dijadikan sebagai instrumen ideologi politik, demi memenuhi syahwat politik elite di kalangan mereka. Islam tidak dijadikan sebagai rujukan nilai-nilai dalam menjalani kehidupan sosial, politik, budaya, maupun ekonomi. Di mana keramahan, kesetaraan, keadilan, menghormati dan menghargai satu sama lain yang berbeda, serta keberagaman misalnya merupakan nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam dan diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, menurut hemat saya apa yang terjadi dalam dunia siber kita saat ini merupakan bagian dari populisme Islam (Islamic populism) –meminjam istilah Vedi R. Hadiz—sebuah gerakan politik yang menggerakkan umat sebagai gerakan sentimen tertentu atas nama demokrasi. Populisme Islam ini berkembang sebelum dan pasca terjadinya Arab spring di sebagian kawasan Arab pada 2013 (Hadiz 2014 & 2016).

Psy War Gerakan Islam Baru

Gerakan Islam baru, karena menggeliat pasca reformasi–, ini demikian intim menggunakan media siber, demi menggerakan warganet Muslim untuk mereproduksi konten sentimen, provokatif, bernada anti pemerintahan sah di akun-akun media sosial mereka ataupun di situs-situs maupun laman-laman blog yang mereka miliki. Populisme Islam dalam dunia siber (cyber Islamic populism) saat ini sedang terjadi, dan makin marak dijumpai dalam laman-laman (websites) yang menggunakan identitas Islam sebagai ciri khas mereka. 

Situs portal-islam.id misalnya, dalam penelusuran saya lebih didisain sebagai media propaganda. Sebagai propaganda maka tujuannya menjadi sangat umum yang dimaksudkan untuk mengubah sistem kepercayaan publik luas tanpa harus melampirkan bukti-bukti konkrit, cenderung samar-samar.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa makna propaganda yaitu penerangan (paham, pendapat, dan sebagainya) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu (KBBI online).Tidak lagi melihat seberapa reliabel sebuah data maupun fakta di lapangan untuk dijadikan berita yang layak diinformasikan kepada publik luas. Hal tersebut banyak ditemukan dalam berita yang dimuat oleh portal-islam.id meskipun tidak seluruhnya bersifat seperti itu. Namun sebagai media daring yang menggunakan label Islam, tentu hal ini sangat jauh dari semangat nilai-nilai Islam itu sendiri yang menjunjung tinggi kejujuran, tabayyun (check and recheck), tidak memfitnah, untuk menyebut beberapa saja.

Perebutan ruang publik dalam dunia siber yang menggunakan simbol, identitas Islam di Indonesia ini bukannya tanpa alasan. Pertama, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, hampir 87,7% warganya menganut Islam sebagai agamanya. Kedua, kontestasi ideologi –termasuk ideologi Islam– akan mudah disebarkan dengan biaya murah menggunakan media siber (internet).

Ketiga, besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 64,8%  atau 171,17 juta (APJII, 2019) dari total jumlah penduduknya merupakan aset yang sangat besar sebagai ladang pasar ideologi, pasar politik, maupun pasar ekonomi. Keempat, dari 64,8% pengguna internet tersebut hampir 66%nya adalah generasi Y dan Z, yakni mereka yang berusia 18-36 tahun, usia sangat produktif, sekurang-kurangnya 113 juta adalah pengguna aktif media sosial setiap harinya, yang menghabiskan tidak kurang dari 3 jam 26 menit untuk mengakses media sosial mereka (wearesocial Januari 2019).

Berdasarkan argumen tersebut, yang terjadi saat ini bagian dari psy war di dunia siber, siapa yang berhasil memenangkan “peperangan” tersebut maka dia yang akan menguasai kaum muda (gen Y, Z, dan alpha) hari ini demi politik kekuasaan satu dua dekade kedepan dan seterusnya. Demi memenangkan pertarungan tersebut, seringkali diabaikanlah etika bermedia, serta aturan-aturan lainnya, karena yang dipentingkan adalah mengubah cara pandang, logika, perspektif kaum muda tersebut untuk dapat mengikuti arus berpikir tanpa sikap kritis sama sekali, cenderung provokatif mengarah ke fitnah, melalui situs-situs yang mereka miliki. 

*Intelektual Muhammadiyah dan Pengamat Keamanan Publik

Continue Reading

Opini

Dua Sosok Agamis Pemburu Teroris

Published

on

By

Oleh : Khairul Anam Ketua Milenial Muslim Bersatu 

Belakangan ini media sosial dan media daring dihebohkan dengan foto lawas Jenderal Polisi (Purn) Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D dan Jenderal Polisi Drs. Idham Azis, M.Si., diperkirakan foto tersebut ketika mereka berdua masuk di Tim Anti Teror dan Bom (ATB) Polri Cikal Bakal Densus 88.

Saat ini keduanya sama-sama menjadi tokoh nasional berpangkat Jenderal, namun bedanya Tito Karnavian sebagai Jenderal Polisi (Purn) sebagai orang nomor satu di tubuh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang sebelumnya menjadi Kapolri 2016-2019, sedangkan rekannya Idham Aziz sekarang menggantikannya menjadi orang nomor satu di tubuh Korps Bhayangkara.

Dua sosok ini tentu sudah tidak asing lagi bagi kelompok aksi kekerasan, bahkan teror  di Indonesia. Mereka pernah berada dalam tim yang sama, terutama saat menangani kasus terorisme di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polda Metro Jaya.

Aksi yang tidak akan pernah terlupakan oleh masyarkat Indonesia ketika Tito Karnavian memimpin tim Densus 88 berhasil melumpuhkan gembong teroris Dr. Azahari bin Husin seorang insinyur asal Malaysia yang  jadi otak serangkaian serangan terorisme di Indonesia di Batu, Jawa Timur pada November 2009. Dimana  Idham Aziz juga menjadi salah seorang anggota tim ini saat itu.

Kecakapan Tito Karnavian dan Idham Aziz dalam mengungkap kasus terorisme dan beberapa rangkaian kejahatan sudah tidak diragukan lagi , bahkan di luar kasus terorisme sekalipun. Karena mereka tahu betul peta kejahatan, dan orang terlatih memahami segala metode penyelidikan kasus kejahatan.

Galak pada teroris, mungkin menjadi ungkap yang tidak berlebihan kita sematkan pada Jenderal berdua ini. Langkah mereka bukan menjadi penanda Islamopobia, karena secara kultur dan keseharian tidak ada Islamopobia di kalangan pejabat atau elitis.

Hal ini terbukti dengan ketaatan pada ajaran agama Islam bagi masing-masing individu. Baru-baru ini Tito Karnavian sempat menjadi trending topic twitter ketika jadi imam sholat Jumat di Masjid An-Nur yang berada di dalam lingkungan kantor Kemendagri, yang ternyata beberapa kali ia lakukan.

Ketika shalat Jumat, Tito yang memimpin salat terdengar melantunkan ayat Kursi pada rakaat pertama dan surat Al-Kafirun pada rakaat kedua. Tito membacakannya dengan lancar. Usai menjadi imam, juga sempat membaca doa singkat. Kedekatannya dengan para Kyai dan ulama tidak perlu pertanyakan,  Ia adalah keturunan ulama  Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia saat ini.

Sementara koleganya  Idham Aziz, juga telah membangun komunikasi yang intens dengan Habib, Ulama, dan pesantren. Langkah ini sebagai legitimasi bahwa polisi dan umat Islam bersatu.

Pria kelahiran Kendari 30 Januari 1963 itu, dikenal sebagai seorang yang religius dan taat beragama. Bahkan saat memberikan pandangan tentang radikalisme, menurutnya upaya melawan paham radikalisme bukan berarti anti terhadap agama Islam.

Kegiatan melawan paham radikalisme adalah untuk orang atau kelompok tertentu yang memang menyebarkan paham radikalisme. Masalah radikalisme tidak identik dengan Islam. Radikalisme adalah menyangkut oknum atau kelompok.

Sebagai tokoh nasional, mereka berdua dikenal sebagai Jenderal Polisi berbintang empat yang progresif dan adaptif dengan kondisi bangsa dalam berbagai situasi. Tak kenal takut dan selalu bertindak berdasarkan kepentingan bangsa dan maslahat.

Jenderal Pol Idham Aziz memiliki sepak terjang yang tak perlu diragukan lagi. Sepak terjangnya di Polri kerap berhasil mengungkap sejumlah kasus besar yang menyedot perhatian publik. Kesuksesan menjaga kamtibmas pada perayaan natal 2019 dan pergantian tahun 2020 tidak lepas dari langkahnya sebagai sosok “Talk less  do more”  seolah menjadi prinsip yang melekat pada dirinya.

Proses pembentukan jiwa leadhership dua Jenderal ini telah ditempa dari berbagai aktivitas, ibarat sebuah bangunan, pengalamannya itu memperkokoh fondasinya sekarang. Mereka telah membuktikan, bahwa pengalaman itu berkontribusi besar mengantarkan di posisi saat ini.

Mereka juga berhasil menjadi  tokoh nasional yang moncer, sekaligus menduduki jabatan strategis di pemerintahan Presiden Joko Widodo. 

Dibalik kesuksesan seorang pria, selalu ada sosok wanita  hebat di baliknya. Itulah para Bhayangkari yang setia mendampingi. Istri Tito Karnavian dan Idham Aziz dikenal sebagai sosok agamis dan taat pada ajaran Islam, bagaimana tidak, keduanya sama-sama menggunakan hijab sebagaimana disyariatkan agama Islam.

Sebagai penutup, kisah sukses, perjuangan, dan kedekatan mereka berdua yang sempat viral , secara tidak langsung mengajarkan pada kita khususnya generasi milenial, bahwa  proses tidak akan menghianati hasil. Dengan kerja keras dan sikap yang pantang menyerah dapat membuahkan hasil maksimal.

Continue Reading

Opini

Memimpin Dengan Tiga Kecerdasan

Published

on

By

Oleh : Varhan Abdul Aziz (Sekretaris Eksekutif IBSW/Indonesian Bureaucracy and Service Watch)

Menjelang shalat Jumat lalu kebetulan saya sedang di dekat Istana. Iseng saya memilih shalat Jumat di salah satu institusi nasional. Saya datang agak belakangan. Imamnya  tidak kelihatan. Tapi kok sepertinya suaranya  tidak asing. Jumat selesai, zikir dan kembali beraktifitas. Benar hati mengira. Tito Karnavian yang jadi Imam.

Agak merinding rasanya. Karena baru pertama menyaksikan Menteri  langsung mengimami shalat. Sebagai pemantau birokrasi, keluar masuk banyak kementerian, numpang shalat dari satu gedung ke gedung lain sudah jadi langganan. Tapi hari ini ada satu penilaian yang spesial. Serius saya terkesan.

Saya adalah alumni dari ESQ 165 Ary Ginanjar Agustian. Selain itu saya juga seorang trainer yang mendalami penerapan materi tersebut. Dimana kecerdasan manusia terbagi menjadi tiga. Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ).

Pertanyaanya, berapa banyak pemimpin yang memiliki kemapanan kecerdasan di ketiga bidang tersebut?

IQ dijadikan tolak ukur utama sejak tahun 1890 hasil penemuan Francis Galton. Sejak 1987 Keith Basley menyatakan EQ lebih penting dari IQ. Barulah pada 1997 Danah Zohar menemukan pelengkap landasan kecerdasan yaitu SQ – Spiritual Quotient.

Sambil memakai sepatu saya termenung. Mendadak saya kepikiran menganalisa seorang Tito Karnavian. Secara IQ , dia tidak bisa dibilang kurang. Seorang Profesor , track record-nya menjadi penguji disertasi doktoral sudah dijalaninya.

Irjen Po. Boy Rafli Amar pernah dikupas habis disertasinya dengan pembahasan yang detail dan sangat ilmiah. Seorang mantan Kapolri, jenderal yang professor, dua puncak paripurna diraih. Hatrick jadi menteri pula.

Dipikir-pikir Tito jadi Kapolri meloncati lima angkatan. Kapolri sebelumnya angkatan 82, dia 87. Ada banyak bintang 3 yang sudah lebih lama dan matang bintangnya. Seniornya di AKPOL, yang dulu membina dia , menyuruh push up, dan lain-lain. Lalu berada di bawah komandonya. Kalau bukan orang yang cakap dengan mentalitas dan matang emosionalnya takkan bisa.

Empat tahun lalu saya meragukan, ia bisa mengelola  dinamika senioritas yang perlu seni tinggi. Ternyata mulus ia jalani sebagai  Kapolri. Masih sisa dua tahun bahkan, sudah diminta amanah baru oleh Presiden Jokowi.

Dalam semalam statusnya berganti jadi sipil 100%, jadi ia Mendagri. EQ test passed. Memimpin orang yang lebih senior  butuh kematangan emosional dan komunikasi yang gacor. Anda lulus Pak.

Spiritual menjadi satu tantangan besar.ada orang cerdas, baik, tapi kehidupannya  jauh dari beragama, kalaupun ada hanya sesekali ritual belaka, work hard play hard. Hidup senang-senang. Professional, tapi imannya kosong.

Istri Pak Tito berjilbab, warisan jilbab Polwan era Kapolri  Jenderal Badrodin Haiti diteruskan tidak dicabut. Hak berhijab dipenuhi. Padahal dulu mantan Kepala BNPT, yang sering dituduh ini itu, tapi sabar saja kayaknya. Lurus jalankan tugas. Yang sering main ke Trunojoyo, akan sering lihat di Masjid Mabes Polri rajin sekali pengajian. Indah sekali suasana sejuk Masjid sana.

Mahfud MD, Menko Polhukam dalam tulisannya di Kompas  “Tidak ada Islamophobia di Indonesia.” Memuji Polri di era Kapolri Tito Karnavian, memiliki pola ke-Islaman yang baik. Polisi dalam penanganan demo, shalat berjamaah di jalan bahkan berdzikir asmaul husna. Santunan Yatim di kediamannya  sering dilakukan bahkan pernah disaksikan langsung Mahfud MD saat itu. Baca tulisanya hati jadi tenang.

Baru beberapa hari ramai di media, video Mendagri mendapat penghargaan dari Presiden Singapura. Saya yang menonton tertegun, itu dengan Pakaian Dinas Upacaranya Pejabat  Indonesia bisa sampai ke Negeri Singa dengan penghargaan  tertinggi Negara sana, kalau  bukan karena high achivement yang dia ukir, apa sampai itu PDU ke negeri sana.

Memori saya flashback dua tahun lalu, saat saya melakukan penyuluhan ke 200 sekolah se- Sumsel. Salah satu sekolah yang saya singgahi SMAN 2 Palembang. Saya baru tahu kalau Pak Tito sekolah disana. Ada fotonya waktu masih siswa sempat lihat.

Guru-guru kalau cerita tentangnya semangat sekali, seperti ada taburan bangga yang ingin dibagi. Inspirasi, 1 orang Tito Karnavian menjadi gemilang, membuat jutaan lain anak Palembang di belakang punya harapan masa depan yang tinggi ditanam. Optimisme itu tumbuh karena perintis yang lahir.

Oalah saya jadi bengong kelamaan. Kok saya jadi semangat lagi hidup ya. Tito Karnavian saja bisa jadi Mendagri. Kita juga bisa jadi Pemimpin! Mimpi saja dulu, karena gratis. Tapi tekuni semua yg dilakukan. Sukarno pernah berkata, “Bermimpilah setinggi langit, jangan takut jatuh. Karena jika engkau  jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang.”

Bersiap – siap, jadi Tito Karnavian selanjutnya.

ReplyForward
Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC