Connect with us

Hukum

Polisi Tangkap 5 Tersangka Praktik Wisata Seks di Puncak, Bogor

Tayang

,

Channel9.id-Jakarta. Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono mengatakan Polri, melalui Bareskrim, mengungkap kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus praktik wisata seks halal di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Argo melanjutkan, kasus berawal dari video yang tersebar dari Youtube. Video ber-Bahasa Inggris ini menawarkan wisata seks halal di Puncak, Bogor. “Video ini beredar ke internasional bahkan ada testimoninya dari para korban dan pelaku,” imbuhnya, di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2020).

Kemudian dilakukan penyelidikan. Hasilnya, lima tersangka ditangkap. Adapun di antaranya: NN dan OK sebagai perempuan, HS seorang Warga Negara Arab sebagai penyedia laki-laki, DO yang membawa korban untuk di booking, dan AA pemesan dan yang membayar perempuan untuk di-booking.

Mereka dijerat Pasal 2 ayat 1 dan ayat 2 UU No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun penjara, maksimal 15 tahun penjara.

Keterangan itu pun sebagaimana disampaikan Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdi Sambo. Ia melanjutkan, modus yang dilakukan yakni melalui booking out kawin kontrak dan short time.

“Jadi para korban dipertemukan dengan pengguna yang merupakan WN Arab yang ingin melakukan kawin kontrak ataupun booking out short time di villa daerah puncak dan di apartemen di kawasan Jakarta Selatan,” terangnya.

Ferdi Sambo menyita barang bukti dari para tersangka berupa 6 ponsel, uang tunai Rp 900 ribu, print out pemesanan villa dan apartemen, invoice, paspor hingga dua buah boarding pass.

(Lutfia Harizuandini)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

Pekan Depan, Polisi Gelar Perkara Kasus Pramugari Siwi Soal Akun @digeeembok

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Polisi tetap menyelidiki laporan pramugari Garuda Indonesia, Siwi Widi Purwantti atau Sidi Siwi terkait tudingan ‘gundik’ oleh akun Twitter @digeeembok. Pekan depan, Polisi akan menggelar perkara tersebut.

“Nanti Senin (24/2) kita akan gelar perkara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (21/2).

Gelar perkara merupakan mekanisme dalam proses penyelidikan di kepolisian. Dalam gelar perkara ini, penyidik nantinya akan mengambil kesimpulan, apakah kasus tersebut memenuhi unsur untuk ditingkatkan ke penyidikan atau tidak.

“Untuk menentukan apakah ada unsur persangkaannya, kalau sudah memenuhi unsur akan naik ke sidik,” katanya.

Seperti diketahui, Siwi Sidi melaporkan akun Twitter @digeeembok ke polisi karena cuitan soal ‘gundik Garuda’. Siwi merasa nama baiknya tercemarkan atas cuitan akun tersebut.

Polisi telah memeriksa sejumlah saksi terkait laporan Siwi itu, termasuk memeriksa Siwi sendiri sebagai pelapor.

Total sebanyak 7 saksi sudah diperiksa polisi, termasuk Siwi sebagai pelapor kasus ‘Gundik’. Dari saksi-saksi yang diperiksa, polisi juga mencari tahu terkait sosok Siwi. Polisi menyatakan Siwi Sidi hanya pegawai kontrak.

“Ini kan laporannya apa dulu, kan ini Siwi yang melapor. Kita harus hubungkan semuanya dulu, siapa sih Siwi yang melapor, dia merasa pegawai Garuda tapi setelah diperiksa, oh dia cuma kontrak 2 tahun,” kata Kombes Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (3/2).

(LH)

Continue Reading

Hukum

Polda Jatim Mengamankan Anggota Ikatan Gay

Published

on

By

Channel9.id-Surabaya. Jajaran Polda Jatim kembali mengamankan satu lagi anggota Ikatan Gay Tulungagung (IGATA). Sebelumnya, polisi juga mengamankan ketua dari komunitas ini, yakni Hasan.

Hasan diketahui telah melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak dengan jumlah korban 11 orang. Untuk kali ini, polisi mengamankan Hendri Mufida alias Hendri.

Hendri adalah anggota IGATA yang juga seorang guru. Untuk Hendri, dia melakukan pencabulan terhadap tiga anak yang masih dibawah umur.

“Hari ini Polda Jatim mengungkap, mengembangkan jaringan IGATA yang belum lama kita ungkap jaringan tersebut di salah satu kota di Jatim, Tulungagung,” ujar Kapolda Jatim, Irjen Pol Luki Hermawan.

Kapolda menyatakan tersangka ditangkap di Tulungagung, yang mana pelaku semasa kecilnya juga adalah korban tindak kekerasan seksual.

“Ini mendapat perhatian khusus dari KPA, hadir langsung memantau bagaimana pengungkapan di Polda Jatim begitu juga dari Dinas Provinsi,” ujarnya.

Kasus ini akan terus dikembangkan, yang menjadi perhatian adalah korban. Korban ini ditakutkan bisa menjadi pelaku berikutnya, karena di dalam jaringan ini, saat di bawah umur dia menjadi korban.

Tetapi, setelah dia dewasa dia akan menjadi pelaku dan mencari korban baru. “Ini menjadi perhatian, kami terima kasih pada KPA dan Dinas provinsi, dari Jatim kita sering mengungkap kejahatan anak-anak,” ujarnya.

Dalam melakukan aksinya, para pelaku memanfaatkan media sosial ada dari facebook dan yang lainnya. Pihak Polda saat ini masih melakukan penyelidikan, dan pihaknya menghimbau seluruh masyarakat Jawa Timur dan keseluruhan dari orang tua, dari pihak sekolah, guru juga ikut memperhatikan anak didiknya di sekolah.

Continue Reading

Hukum

Polri Bongkar Komunitas Paedofil di Twitter

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Bareskrim Polri Subdit I Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) dan The US Immigration and Customs Enforcement (US ICE) membongkar jaringan komunitas paedofil anak sesama jenis di Twitter.

Menurut keterangan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono, kasus ini bermula dari penangkapan tersangka berinisial PS (44) di Jawa Timur.

Secara kronologis, tersangka itu ditangkap di rumah penjaga sekolah pada pukul 18.00 WIB, Rabu, 12 Februari 2020, di Jawa Timur. “Tersangka PS merupakan penjaga sekolah dan pelatih ekstrakurikuler sekolah,” sambung Argo, di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (21/2/2020).

Tersangka memanfaatkan perannya untuk memangsa korban, yaitu anak-anak sekolah di bawah umur. Pelaku melakukan pelecehan dan kekerasan terhadap korban. “Komunitas ini menyasar anak laki-laki sebagai sarana pemuas nafsu untuk dicabuli dan disodomi di lingkungan sekolah,” lanjut Argo.

Argo menambahkan Argo, PS kerap menggunakan ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah) dan rumah dinas penjaga sekolah untuk memuaskan hasratnya.

“Rekaman itu di-upload ke komunitas paedofil di Twitter dengan followers sekitar 350 akun. Melalui media ini, para paedofil bertukar koleksi,” ungkapnya.

Tersangka PS mengiming-imingi korban dengan uang atau memfasilitasi dengan internet. Lalu korban diajak merokok dan minum-minuman keras. “Mereka (korban) diancam apabila menolak untuk dicabuli dan disodomi oleh tersangka. Seperti tidak boleh ikut acara sekolah,” ujar Argo.

Sejauh ini terdapat tujuh korban dengan usia 6 hingga 15 tahun. “Mereka (korban) telah dicabuli serta disodomi oleh tersangka selama tiga sampai delapan tahun, namun ada juga yang hanya sekali,” tuturnya.

Akun Twitter komunitas paedofil milik tersangka PS telah di-suspend oleh pihak Twitter. Sebelumnya akun ini terdeteksi menyimpang oleh sistem aplikasi yang dikelola The National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) Cybertipline, yang berlokasi di Amerika Serikat.

Polisi menyita barang bukti: 1 telepon genggam, 2 SIM card, 1 memory card micro SD, 2 bantal tidur, 1 celana pendek warna hitam, 1 kaos dalam, 1 botol bekas minuman, dan 2 gelang tangan berbahan kayu.

Adapun tersangka PS dijerat Pasal 82 ayat (1) juncto Pasal 76E dan/atau Pasal 88 juncto Pasal 76I UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan/atau Pasal 29 juncto Pasal 4 ayat (1) juncto Pasal 37 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan/atau Pasal 45 Ayat (1) juncto Pasal 27 Ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomo 11 Tahun 2008 tentang ITE. Ancaman hukumannya penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp6 miliar.

Ia terkena hukuman pidana pencabulan terhadap anak dan/atau tindak pidana eksploitasi seksual terhadap anak dan/atau tindak pidana dengan sengaja, dan tanpa hak menyebarkan konten pornografi anak melalui media elektronik.

(Lutfia Harizuandini)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC