Channel9.id, Jakarta. Presiden Prabowo Subianto menggunakan forum Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Karawang untuk merespons kritik politik yang menyebut dirinya memiliki ambisi memperkuat kekuasaan. Pada acara yang berlangsung di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026), Prabowo menyatakan tuduhan tersebut tidak beralasan dan menegaskan bahwa orientasi politiknya adalah pengabdian negara.
Tuduhan yang dimaksud berkaitan dengan label diktator, ambisi mempertahankan kekuasaan, dan isu kudeta yang sebelumnya dilontarkan oleh sejumlah pengkritik. Menurut Prabowo, narasi tersebut tidak sejalan dengan rekam jejaknya sebagai prajurit TNI. “Saya dituduh mau jadi diktator, saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta. Tetapi sejak muda saya bersumpah sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia. TNI adalah tentara rakyat,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan konstituen strategis: petani dan masyarakat desa. Secara politis, sektor ini dipandang penting karena memegang basis suara luas sekaligus historis dalam pembentukan identitas nasional. Prabowo memanfaatkan momen tersebut untuk mengaitkan kepemimpinannya dengan legitimasi sejarah, dengan menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1945 didukung penuh oleh rakyat dan petani, bukan oleh struktur negara.
“Pada waktu proklamasi, belum ada anggaran dan belum ada kementerian keuangan. Yang membiayai perjuangan adalah rakyat Indonesia,” ujarnya. Dengan menghadirkan narasi historis tersebut, Prabowo berupaya membangun citra kepemimpinan yang dekat dengan rakyat akar rumput, sekaligus menepis gambaran otoritarian yang diarahkan kepadanya.
Selain itu, Prabowo membagikan pengalaman ketika menjalani pendidikan militer pada 1970, di mana interaksinya dengan masyarakat desa memperkuat keyakinan bahwa loyalitas terbesar terhadap negara justru berasal dari kelompok petani. Narasi ini turut memberi landasan moral bagi legitimasi kekuasaan yang ia klaim bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kesejahteraan rakyat kecil.
Di tengah dinamika politik nasional yang sarat kritik terhadap gaya kepemimpinan dan konsolidasi kekuasaan pemerintah, pernyataan Prabowo di Karawang menambah konteks baru: upaya mengontraskan dirinya dengan figur otoriter, sekaligus memperluas basis dukungan melalui sektor pangan dan agraria yang strategis.
Prabowo menutup sambutannya dengan menyebut petani sebagai kelompok “paling setia” dan “paling merah putih,” yang secara politis mempertegas positioning dirinya di tengah perdebatan mengenai karakter rezim dan orientasi kebijakan negara ke depan.





