Internasional

KBRI Tokyo Fasilitasi Kerja Sama RI–Jepang–AS Dukung Transisi Energi Nasional

Channel9.id-Tokyo. KBRI Tokyo memfasilitasi penguatan kerja sama Indonesia–Jepang–Amerika Serikat (AS) dalam pengembangan sumber daya manusia dan tata kelola energi nuklir untuk mendukung transisi energi nasional menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

Kerja sama tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di KBRI Tokyo, bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian RI.

Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Tokyo Maria Renata Hutagalung menegaskan bahwa tantangan pengembangan energi nuklir tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut aspek tata kelola, keselamatan, dan pengembangan SDM.

“Energi nuklir diakui sebagai bagian dari sumber energi utama Indonesia dalam Rencana Induk Kelistrikan Nasional 2025–2060. Pengembangannya bergantung pada standar keselamatan tertinggi, kesiapan regulasi, kelembagaan yang kuat, dan SDM berkualitas,” ujar Maria Renata.

Ia menambahkan, KBRI Tokyo berkomitmen terus memfasilitasi kerja sama Indonesia–Jepang, termasuk di bidang energi nuklir yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Sementara itu, Presiden Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) Yasuhiko Yoshida menyampaikan komitmen Jepang dalam pengembangan kapasitas SDM Indonesia di bidang teknologi energi maju. Hingga kini, lebih dari 26.000 peserta asal Indonesia telah mengikuti program pelatihan AOTS.

Dari sisi kebijakan nasional, Prof. Agus Puji Prasetyono menyampaikan bahwa energi nuklir dibutuhkan sebagai sumber baseload rendah karbon untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah Indonesia, kata dia, telah memasukkan energi nuklir dalam Kebijakan Energi Nasional dan RUPTL.

Sejumlah perwakilan dari Jepang dan Amerika Serikat juga menegaskan bahwa teknologi SMR merupakan opsi strategis penyediaan energi bersih yang stabil, namun memerlukan kesiapan regulasi, infrastruktur, serta kepercayaan publik.

Baca juga: KBRI Tokyo Gaungkan Diplomasi Olahraga Lewat Friendly Football 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  86  =  90