Channel9.id-Jakarta. Pemerintah memfokuskan pengendalian harga komoditas pangan untuk menjaga inflasi nasional tetap terkendali dan melindungi daya beli masyarakat. Langkah ini dinilai penting karena kenaikan harga pangan paling dirasakan dampaknya oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Hal itu disampaikan Mendagri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Tito mengatakan inflasi masih relatif terkendali berkat koordinasi rutin pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Desember 2025 secara year on year (y-o-y) tercatat sebesar 2,92 persen, masih di bawah ambang batas 3,5 persen.
Meski demikian, Tito mengingatkan tren inflasi menunjukkan kenaikan dibanding November 2025 yang berada di angka 2,72 persen. Jika inflasi terus naik, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling terdampak akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Harga beras, minyak, telur, daging, ikan naik, itu sangat terasa bagi masyarakat yang berpenghasilan harian,” ujarnya.
Tito menjelaskan salah satu penyumbang inflasi terbesar berasal dari harga emas perhiasan yang dipengaruhi dinamika global. Namun karena faktor tersebut sulit dikendalikan, pemerintah akan memfokuskan pengendalian pada komoditas yang paling dirasakan masyarakat.
“Kita harus bermain di faktor lain, terutama makanan dan minuman,” tegasnya.
Baca juga: Mendagri Pimpin Koordinasi Pemulihan Bencana Sumatera, Pulihkan 4.359 Sekolah





