Channel9.id-Jakarta. Wamendagri Bima Arya Sugiarto mengungkap tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia untuk melangkah menjadi negara maju. Menurutnya, Indonesia saat ini berada di titik krusial atau simpang jalan, dengan peluang besar dalam 20 tahun ke depan, namun masih dibayangi tantangan utama untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap).
Hal tersebut disampaikan Bima saat menjadi keynote speaker dalam Talkshow Kompetisi Ekonomi (KOMPeK) ke-28 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Bima menjelaskan, secara historis hanya 34 negara yang berhasil naik kelas menjadi negara maju, sementara 108 negara lainnya gagal melampaui status berpendapatan menengah. Jika Indonesia gagal memanfaatkan momentum saat ini, peluang untuk menjadi negara maju akan semakin sulit dicapai.
“Banyak negara itu enggak lolos. Dari kelas bawah ke kelas menengah tapi enggak bisa loncat ke atas. Kalau kita gagal memanfaatkan apa yang ada saat ini, maka kita enggak bisa menjadi negara maju,” ujarnya.
Ia menambahkan, upaya membawa Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah menjadi fokus utama Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran pemerintah, ekonom, serta pelaku usaha. Prediksi peluang Indonesia menjadi negara maju juga didukung data dari lembaga internasional kredibel seperti World Bank, The Economist, dan Goldman Sachs.
Namun demikian, Bima menegaskan perjalanan menuju negara maju tidak mudah. Ia menyebut sedikitnya empat prasyarat utama yang harus dipenuhi. Pertama, adanya visi nasional yang konsisten dan berkelanjutan lintas kepemimpinan. Kedua, kemandirian ekonomi agar Indonesia tidak bergantung pada pihak lain.
Syarat ketiga adalah kepemimpinan yang efektif dan solid di seluruh level pemerintahan. Adapun syarat keempat, menurut Bima, adalah kolaborasi dan inovasi, bahkan melampaui sekadar kolaborasi menuju co-creation.
“Kalau kolaborasi itu pemerintah mengundang komunitas atau swasta. Tapi kalau co-creation, kita mendesain sama-sama, merancang sama-sama,” jelasnya.
Bima juga memaparkan ciri negara maju, antara lain tidak ada warga yang tertinggal (no one is left behind), partisipasi masyarakat yang kuat, serta pembangunan berkelanjutan dengan perspektif jangka panjang.
“Jalannya panjang dan berliku. Tapi kalau kita serius, insyaallah bisa,” tandasnya.
Acara tersebut turut dihadiri Kepala BPSDM Kemendagri Sugeng Hariyono, Sekretaris BPSDM Kemendagri Afrijal Dahrin, Ketua BEM FEB UI Jundi Al Muhandis, serta sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.
Baca juga: Bima Arya Terima APCAT Award, Tegaskan Perang Melawan Industri Tembakau





