Ekbis

Inflasi Pangan Turun Awal 2026, Deflasi Bulanan Capai 1,96%

Channel9.id, Jakarta. Tekanan harga pangan pada awal 2026 menunjukkan tren mereda. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan mengalami deflasi secara bulanan serta perlambatan secara tahunan menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan data BPS, inflasi pangan secara tahunan tercatat sebesar 1,14% pada Januari 2026. Sementara secara bulanan (month-to-month/mtm), komponen ini mengalami deflasi 1,96%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan komponen harga bergejolak menjadi penyumbang deflasi terbesar pada Januari.

“Komponen harga bergejolak mengalami deflasi 1,96% dan memberikan andil deflasi terbesar sebesar 0,33% terhadap inflasi bulanan,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Secara tahunan, sejumlah komoditas pangan pokok seperti beras, daging ayam ras, dan bawang merah masih mencatatkan kenaikan harga, meskipun kontribusinya dinilai tidak signifikan terhadap tekanan inflasi secara keseluruhan.

Jika dibandingkan periode sebelumnya, inflasi pangan menunjukkan perlambatan tajam. Pada Desember 2025, inflasi pangan tahunan sempat mencapai 6,21%, kemudian turun menjadi 1,14% pada Januari 2026. Secara bulanan, inflasi 2,74% pada Desember berbalik menjadi deflasi 1,96% pada awal tahun.

Adapun inflasi umum nasional tercatat sebesar 3,55% secara tahunan, dengan deflasi bulanan 0,15%.

BPS juga mencatat stabilisasi harga di sejumlah wilayah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Penurunan harga telur ayam dan cabai merah menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi di daerah tersebut.

Di sisi lain, pemerintah melanjutkan berbagai program stabilisasi pasokan dan harga pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) guna meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan pokok dengan harga terjangkau.

Hingga 29 Januari 2026, tercatat 296 kegiatan GPM digelar di 56 kabupaten/kota, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 173 kegiatan.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras dan jagung pakan juga dilanjutkan setelah tambahan anggaran disetujui Kementerian Keuangan. Pemerintah turut merencanakan penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk Februari–Maret 2026.

Sebanyak 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM) ditargetkan menerima 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng per bulan melalui Perum Bulog.

Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah akan mengawasi harga jual pangan agar tetap sesuai ketentuan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan penjualan (HAP).

“Pasokan beras, jagung, gula, bawang, telur, dan daging dalam kondisi aman. Fokus kami menjaga stabilitas harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  39  =  49