Channel9.id, Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus meminta kepala daerah memimpin langsung percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC). Ia menilai langkah ini krusial untuk mencapai target Indonesia bebas TBC pada 2030. Program tersebut juga mendukung agenda quick win Presiden RI.
Wiyagus menegaskan, penanganan TBC tidak bisa hanya dibebankan kepada dinas kesehatan. Pemerintah daerah harus turun tangan dan memimpin koordinasi lintas sektor.
Indonesia Peringkat Kedua Kasus TBC Tertinggi
Data Global Tuberculosis Report 2024 menempatkan Indonesia di posisi kedua dengan kasus TBC tertinggi di dunia. Saat ini, baru 62 persen kasus yang berhasil ditemukan.
Kondisi ini menunjukkan deteksi masih rendah. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kolaborasi pusat dan daerah.
“Sektor kesehatan saja tidak mungkin mampu menanggulangi TBC secara sektoral,” kata Wiyagus dalam Rapat Koordinasi di Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Wiyagus mengingatkan kewajiban daerah sesuai Perpres Nomor 67 Tahun 2021. Pemda harus memasukkan indikator TBC ke dalam RPJMD dan Renstra perangkat daerah.
Selain itu, kepala daerah wajib mengoordinasikan seluruh program penanggulangan TBC di wilayahnya.
Ia juga meminta Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) tetap aktif dan dievaluasi rutin. Menurutnya, hasil penanganan TBC harus menjadi indikator kinerja kepala daerah.
Dengan begitu, tanggung jawab tidak hanya berada di sektor kesehatan.
Camat hingga RT/RW Perkuat Deteksi Dini
Wiyagus menekankan peran camat sebagai koordinator wilayah. Camat perlu menggerakkan desa, kelurahan, kader PKK, Posyandu, hingga RT/RW untuk mendeteksi kasus lebih awal.
Ia juga mendorong indikator kinerja (KPI) bagi camat, lurah, dan kepala desa. Fokusnya pada tata kelola dan mobilisasi warga, bukan aspek medis.
“Jika masih banyak kasus tersembunyi, berarti koordinasi wilayah belum optimal. KPI ini mendorong aksi cepat dan kolaboratif,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Wiyagus meminta daerah mengoptimalkan gerakan Temukan, Obati, Sampai Sembuh (TOSS) TB. Program ini bertujuan memastikan pasien terdeteksi, diobati, dan sembuh total.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Dirjen Penanggulangan Penyakit Murti Utami, serta jajaran kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.





