Sutradara Joko Anwar Hadirkan Kritik Sosial dalam Film ‘Ghost in the Cell’
Lifestyle & Sport

Sutradara Joko Anwar Hadirkan Kritik Sosial dalam Film ‘Ghost in the Cell’

Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Demikian dengan sutradara Joko Anwar yang menghadirkan kritik sosial dalam film garapannya ke-12 bersama rumah produksi Come And See Pictures berjudul ‘Ghost in the Cell’ (Hantu di dalam Penjara).

Joko Anwar menyampaikan bahwa pemilihan latar penjara dalam film tersebut berfungsi sebagai metafora bagi kondisi sosial masyarakat.

“Penjara itu kan adalah miniatur dari kehidupan, dari society (masyarakat). Ada pemerintahnya, ada petugas lapas itu kan sebagai pemerintahnya, ada warga negaranya, bapak napi-napinya,” kata Joko Anwar saat acara peluncuran trailer film ‘Ghost in the Cell’ di Jakarta, Senin (23/2/2026).

Lebih lanjut, lelaki kelahiran Medan, 3 Januari 1976 ini menerangkan bahwa dinamika antara masyarakat dan penguasa terepresentasi sangat kuat di dalam sel penjara.

Menurut Joko Anwar, dirinya menulis riwayat hidup yang sangat mendetail bagi setiap pemain, meskipun jumlahnya mencapai puluhan orang.

“Kalau di film kami ada 40 karakter, ya 40 aku bikin kayak gini. Dari dia lahirnya kapan, pendidikannya kapan, kehidupannya lengkap semuanya. Internal fear (ketakutan batin)-nya apa, segala macam. Bahkan aku, misalnya, nulis surat yang dia tulis ke ibunya. Walaupun di film nggak ada, tapi ini membantu dia mengetahui karakternya,” bebernya.

Joko Anwar mencontohkan karakter Tokek yang diperankan Aming. Meski orang yang menonton nanti beranggapan dia jahat, karakter tersebut memiliki latar belakang trauma yang kuat.

“Walaupun dia dianggap karakter evil (jahat), tapi dia karakter utuh. Dia mengalami trauma misalnya. Jadi ketika dia berbuat seperti itu, dia tidak punya intention (niat) untuk jadi jahat,” papar Joko.

Keunikan lain dari produksi film ini adalah keterlibatan kru teknis sebagai aktor. Di antaranya sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung yang berperan sebagai pejabat tinggi atau penyanyi lagu “The Rising Man” yang menjadi lajur suara film tersebut, Tony Merle.

“Kru kita selalu jadi pemain. Ical Tanjung, dia jadi wakil menteri, jadi Wamen. Pejabat. Cocok enggak mukanya?” kata Joko.

“Nah iya, Tony Merle main juga, dia pembuat lagu,” imbuhnya.

Joko menambahkan bahwa setiap film produksinya selalu memiliki dua versi video pratinjau sebagai panduan visual atau storyboard video. “Satu versi yang dibikin diperankan oleh para aktor, satu lagi versi yang diperankan oleh para kru. Kru kita semua hafal dialog,” tambahnya.

Mengenai genre horor komedi yang diusung, Joko Anwar memiliki pandangan unik tentang cara masyarakat Indonesia bereaksi terhadap tensi atau tekanan (tension).

“Komedi di sini justru menajamkan tensinya. Karena di Indonesia, tension dan ketawa itu satu paket sebenarnya. Kita sering kan, lagi susah tapi ketawa dulu. Banyak kita ketawa saat gugup. Misalnya kita ditegur, didatangi polisi pas razia, kita kayak ‘Pak…’ nyengir. Jadi di sini itu menunjukkan bahwa komedi itu menajamkan tensi,” kata Joko.

Terkait genre horor, ia percaya bahwa hal tersebut adalah identitas nasional yang mampu menyatukan keragaman suku di Indonesia. “Kita terdiri dari banyak sekali kelompok etnis, lebih dari 300. Yang bisa menyatukan itu sebagai shared pop culture yaitu horor. Jadi apakah efektif menyampaikan pesan? Efektif banget,” tegasnya.

Meski filmnya menyimpan kritik sosial, Joko Anwar lebih suka menyebut karyanya sebagai refleksi dari sesuatu yang relevan.

“Film Come And See selalu berangkat dari yang relevan di masyarakat, bukan kritik. Kritik itu kan jadinya datang kemudian ketika kita mengungkapkan apa yang sedang terjadi secara faktual dan ternyata itu membuka mata masyarakat. Sayang kalau hasil pekerjaan yang dikonsumsi banyak orang enggak diisi dengan sesuatu yang penting, seperti bersuara tentang ketidakadilan,” tuturnya.

Setelah film horornya sukses menembus seleksi Festival Berlinale (Berlin International Film Festival), Joko Anwar membocorkan proyek masa depannya yang akan mengambil genre romansa. “Proyek ke depannya aku romance (romansa). Sudah di-announce (diumumkan) juga ya di Glasgow. Judulnya ‘The Charms of Broken Things’, tentang Pesona Barang-Barang yang Sudah Pecah. Lagi dikembangkan,” ungkapnya mantap.

Mengenai judul ‘Ghost in the Cell’ yang menggunakan bahasa Inggris, Joko Anwar beralasan itu hanya selera. “Ada judul bahasa Indonesia-nya, Hantu di dalam Penjara. Orang Indonesia tahu ghost, orang tahu cell. Ghost in the Cell,” pungkas Joko Anwar.

Setelah sukses melakukan world premiere (pemutaran perdana dunia) di Festival Film Internasional Berlin (Berlinale) 2026, film ‘Ghost in the Cell’ telah diakuisisi untuk distribusi global oleh Plaion Pictures.

Film horor komedi ‘Ghost in the Cell’ dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 16 April 2026.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  77  =  83