Nasional

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, SETARA Dorong Pemerintah Evaluasi Mandat Misi UNIFIL

Channel9.id – Jakarta. SETARA Institute mendorong pemerintah Indonesia dan TNI untuk meninjau ulang aturan pelibatan (rules of engagement) dalam mandat misi UNIFIL menyusul gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon Selatan. SETARA menilai peristiwa ini harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan personel penjaga perdamaian di wilayah konflik berisiko tinggi serta memastikan kesiapan mitigasi dan evakuasi darurat.

“SETARA Institute mendorong Pemerintah Indonesia dan TNI untuk mengambil langkah konkret dalam menjamin perlindungan personel—termasuk melakukan peninjauan ulang terhadap aturan pelibatan (rules of engagement) dalam kerangka mandat UNIFIL, memperkuat sistem mitigasi risiko, dan memastikan kesiapan mekanisme evakuasi dalam situasi darurat,” kata Peneliti HAM dan Reformasi Sektor Keamanan SETARA Institute Merisa Dwi Juanita dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan, serangan militer Israel yang menyebabkan korban tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan melemahkan mandat UNIFIL dalam menjaga stabilitas kawasan. Menurutnya, tindakan itu juga melanggar prinsip perlindungan personel penjaga perdamaian sebagaimana diatur dalam Konvensi Jenewa 1949 dan bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006.

“SETARA Institute mengecam keras serangan keji militer Israel,” katanya.

Merisa menilai PBB harus menjamin ketidakberulangan dengan memastikan perlindungan penuh bagi personel penjaga perdamaian serta memberikan sanksi terhadap pelanggaran serius. Ia juga mendorong Pemerintah Indonesia bersama otoritas UNIFIL untuk mendesak dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel sesuai hukum internasional.

“Keamanan dan keselamatan personel kita harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap misi perdamaian,” ucapnya.

Di samping itu, Merisa menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL. Ia juga menyampaikan simpati kepada prajurit lain yang mengalami luka dan berharap mereka segera pulih serta tetap dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

“SETARA Institute menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian Indonesia,” ucapnya.

Dua personel Indonesia di bawah UNIFIL gugur pada Senin (30/3/2026) dalam serangan kedua di dekat Bani Hayyan, Lebanon. Insiden itu terjadi sehari setelah satu personel lainnya gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr.

Kepala Operasi Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah Indonesia dan keluarga korban atas dua insiden tersebut. Ia juga menegaskan bahwa penjaga perdamaian tidak boleh dijadikan target dalam konflik bersenjata.

“Para penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” kata Lacroix kepada para wartawan dalam jumpa pers di Markas Besar PBB di New York.

PBB melalui UNIFIL menyatakan tengah melakukan investigasi untuk mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Hasil penyelidikan akan disampaikan kepada pihak terkait, termasuk kemungkinan langkah protes resmi jika pelaku teridentifikasi.

“Untuk saat ini, kami belum memiliki gambaran jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi itulah yang akan diungkap dalam investigasi,” katanya.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  41  =  43