Channel9.id, Jakarta. Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengapresiasi peluncuran buku “Penguatan Koperasi Merah Putih Melalui Produk Lokal Berbasis Merek Kolektif” karya Dewi Tenty Septi Artiany sebagai rujukan penguatan koperasi desa di tengah percepatan program pembentukan 80 ribu kopdes. Apresiasi ini disampaikan dalam talk show dan peluncuran buku di Jakarta, Kamis (30/4/2026), seiring upaya pemerintah menopang ekonomi rakyat di tengah tekanan global.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan percepatan tersebut merupakan respons atas arahan Prabowo Subianto. Pemerintah menargetkan pembentukan koperasi di 80 ribu desa dan kelurahan.
“Dari target itu, sekitar 30 ribu bangunan sedang dikerjakan dan 6.300 sudah selesai serta siap beroperasi,” kata Ferry.
Ia menjelaskan, setiap desa mendapat alokasi anggaran sekitar Rp3 miliar yang mencakup pembangunan fisik, gudang, perlengkapan, hingga manajemen koperasi. Pemerintah juga menyiapkan sumber daya manusia profesional dengan merekrut manajer untuk mengelola koperasi desa.
Ferry menekankan, pembentukan kopdes tidak bersifat top-down, melainkan melalui musyawarah desa khusus. Ia berharap koperasi menjadi instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari distribusi bahan pokok seperti LPG, beras, dan minyak goreng, hingga menyerap hasil pertanian dan kerajinan masyarakat.
Selain itu, koperasi desa juga akan berfungsi sebagai penyalur bantuan sosial agar lebih tepat sasaran, sekaligus menyediakan akses layanan kesehatan dan alternatif pembiayaan guna menekan ketergantungan masyarakat pada pinjaman online ilegal.
Dalam kesempatan itu, Ferry juga menyoroti pentingnya merek kolektif seperti yang ditawarkan dalam buku tersebut karya Dr. Dewi Tenty. Menurutnya, merek kolektif dapat menjadi bentuk kekayaan intelektual yang berpotensi dijadikan jaminan pembiayaan di perbankan.
“Kami ingin produk UMKM lokal bisa masuk dan dijual di gerai koperasi desa, sehingga benar-benar menjadi akses ekonomi rakyat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai kondisi ekonomi saat ini tengah berada di bawah tekanan berat. Ia menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah, lesunya pasar modal, hingga menurunnya daya beli masyarakat.
“Koperasi harus kembali menjadi solusi, karena sejak dulu koperasi adalah soko guru ekonomi kita,” kata Bambang.
Ia menambahkan, konsep koperasi sebenarnya telah lama diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Mohammad Hatta, namun sempat tergerus arus ekonomi liberal. Karena itu, ia menilai penguatan koperasi desa menjadi momentum penting untuk memperkuat ekonomi berbasis kekuatan domestik.
Peluncuran buku ini diharapkan menjadi panduan dalam mendorong penguatan koperasi, termasuk pemanfaatan merek kolektif sebagai instrumen ekonomi baru bagi pelaku usaha lokal.





