surplus telur
Ekbis

Mendag: Produksi Telur Berlebih 12 Persen, SPPG Diminta Serap Pasokan

Channel9.id, Jakarta. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan produksi telur ayam nasional saat ini berada dalam kondisi surplus sekitar 12 persen. Kelebihan pasokan tersebut berdampak pada penurunan harga telur di sejumlah wilayah, termasuk di sentra peternakan seperti Blitar, Jawa Timur.

Untuk membantu menjaga kestabilan harga di tingkat peternak, pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar program Makan Bergizi Gratis melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat meningkatkan penyerapan telur dari daerah-daerah yang mengalami surplus produksi.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kepala BGN yang baru. Salah satu langkah yang disepakati adalah mendorong SPPG di wilayah yang mengalami kelebihan produksi telur untuk menyerap hasil peternak,” ujar Budi dalam konferensi pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, peningkatan penyerapan oleh SPPG diharapkan dapat membantu memperbaiki harga telur di pasar sehingga peternak memperoleh harga jual yang lebih menguntungkan.

Selain melalui program Makan Bergizi Gratis, pemerintah juga tengah menyiapkan skema pemanfaatan telur dalam program bantuan pangan ketika terjadi kelebihan pasokan di pasar. Dengan demikian, komoditas yang mengalami surplus dapat terserap dan tidak menyebabkan harga jatuh terlalu dalam.

Budi menjelaskan bahwa mekanisme tersebut tidak hanya berlaku untuk telur, tetapi juga dapat diterapkan pada komoditas pangan lain yang mengalami kondisi serupa.

“Ketika produksi meningkat dan harga turun, pemerintah dapat menyesuaikan bentuk bantuan pangan yang disalurkan. Jadi tidak selalu beras atau MinyaKita, tetapi bisa juga telur maupun komoditas lain yang sedang mengalami surplus produksi,” katanya.

Dia menilai persoalan utama saat ini bukan pada ketersediaan pasar, melainkan pada pengelolaan distribusi agar pasokan dari peternak dapat terserap secara optimal.

Menurut Budi, berbagai lembaga pemerintah sebenarnya memiliki kapasitas untuk menyerap produk pangan domestik. Namun diperlukan koordinasi dan pengaturan distribusi yang lebih baik agar penyerapan berjalan efektif.

“Pasarnya sebenarnya tersedia. Yang perlu diperkuat adalah manajemen penyaluran dan penyerapannya, sehingga produk peternak bisa terserap dengan baik dan harga kembali stabil,” ujarnya.

Lebih lanjut, pemerintah juga membuka peluang agar komoditas lain seperti ikan, ayam ras, dan daging ayam dapat diserap melalui jaringan SPPG apabila harga di tingkat produsen mengalami penurunan signifikan.

“Kesepakatannya, jika harga komoditas tertentu turun di bawah tingkat yang wajar, maka BGN akan mempertimbangkan untuk meningkatkan penyerapan melalui SPPG. Langkah ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan pasar sekaligus melindungi pendapatan produsen,” kata Budi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  2  =