Film ‘Hikayatussistance’ Dokumenter Asal Aceh Tembus Un•colonial Film Festival Jerman
Lifestyle & Sport

Film ‘Hikayatussistance’ Dokumenter Asal Aceh Tembus Un•colonial Film Festival Jerman

Channel9.id-Jakarta. Kita patut bangga film Indonesia kini berkibar di berbagai festival film internasional. Kali ini, film dokumenter hibrida berdurasi 18 menit 52 detik karya sutradara muda asal Aceh, Muhammad Hendri, kembali mengukir prestasi internasional. Film berjudul ‘Hikayatussistance’ (2025) terpilih untuk diputar di Un•colonial International Film Festival 2026 yang berlangsung di Münster, Jerman, pada 23–27 Agustus mendatang.

Film ‘Hikayatussistance’ lolos seleksi ketat di festival tersebut setelah menyisihkan lebih dari 2.000 karya dari 120 negara. Un•colonial International Film Festival sendiri memosisikan sinema sebagai praktik antikolonial yang menyoal ingatan, tanah, diaspora, arsip, dan kekuasaan.Film Dokumenter

Diproduseri oleh Muhammad Maulana dan diproduksi oleh Aceh Menonton Films, Hikayatussistance menghadirkan seniman tutur Aceh, Fuadi Klayu.

Mengenakan bahasa Aceh dan Indonesia, Fuadi melantunkan ‘Dongeng Sebelum Gulita’ dalam ruangan merah, sebuah pertunjukan hikayat tentang negeri subur yang berada di ambang kehancuran.

Perpaduan performatif, arsip, dan konstruksi visual artistik dalam film ini menempatkan hikayat tidak hanya sebagai ingatan hidup, tetapi juga sebagai ekspresi sosial-politik serta ideologi perlawanan.Referensi Geografis

Kehadiran di Jerman menjadi babak baru dari perjalanan panjang Hikayatussistance sejak April 2026. Film ini berhasil melintasi berbagai ruang pemutaran, mulai dari festival, museum, forum pendidikan, hingga komunitas di Indonesia, Ukraina, dan Rumania:Festival Film

April 2026 (Yogyakarta): Tayang di CineDocx, JFA Cinema Hub pada 12, 18, dan 23 April. Dipresentasikan bersama karya-karya dari Spanyol, Myanmar, dan kolaborasi Prancis–Swiss–Thailand dalam forum film eksperimental dunia.

4–8 Mei 2026 (Tangerang): Terpilih di UCIFEST 17 Universitas Multimedia Nusantara dengan tema ‘Power’, menguji bagaimana kuasa menentukan suara yang terdengar.

6 Mei 2026 (Banda Aceh): Pemutaran dan lokakarya bersama siswa serta guru SMKN 1 Banda Aceh, menjadikan dokumenter hibrida sebagai media diskusi realitas dan konstruksi.

Mei 2026 (Galați, Rumania): Menjadi Official Selection Internațional Open Frame Galați 2026 di Universitas Dunărea de Jos sebagai bagian dari Night of Museums 2026.

14 Mei–12 September 2026 (Ukraina): Lolos seleksi dari 2.500 film di ICJ International Film Award 2026 dan masuk dalam program pemutaran di 100 sekolah, termasuk sebuah lyceum di Kramatorsk yang direlokasi dari wilayah konflik aktif.Acara & Daftar

30 Mei 2026 (Sumatra Barat): Diputar di Bakaba Sinema, Nagari Koto Gadang, menyatu dengan tradisi berbagi cerita warga setempat.

24 Juli 2026 (Yogyakarta): Menjadi Official Selection International Djogja Earthsound Fest 2026 di ISI Yogyakarta dengan tema ‘Sacred Sound, Shared Earth’.

Melalui film ‘Hikayatussistance’, Muhammad Hendri dan Muhammad Maulana membuktikan bahwa kekhususan tradisi tutur lokal Aceh justru menjadi titik berangkat efektif untuk membuka percakapan global mengenai ingatan, estetika, spiritualitas, dan warisan kolonial.Film

Sebelumnya, film yang dikembangkan dari penelitian penciptaan seni 2024–2025 di Pascasarjana ISI Yogyakarta ini telah diputar di Inggris Raya, India, dan Italia.

Film ‘Hikayatussistance’ juga berhasil meraih Best Mathilda Award – Best Short Documentary, Honorable Mention di Films That Move, serta masuk nominasi Best Documentary di Sumedang Short Film Festival.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  4  =  7