Channel9.id – Jakarta. Pemerintah akan memanfaatkan potensi hujan yang diperkirakan terjadi pada awal September 2026 untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan pertumbuhan awan hujan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan potensi hujan yang dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan OMC.
“Jadi ini kalau sudah ada nanti potensi (hujan) ini tentu kami juga akan memanfaatkan ini mengoptimalkan jatuhnya hujan melalui OMC. Mudah-mudahan nanti ada rekomendasi dari BMKG untuk melakukan operasi udara yang lebih intens lagi,” kata Berton dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan analisis curah hujan Stasiun Meteorologi Kelas 1 Supadio Kalimantan Barat, wilayah Kalimantan Barat pada 1-10 September diperkirakan secara umum mengalami hujan dengan intensitas rendah. Hujan di sejumlah wilayah Kalimantan juga diperkirakan bersifat sporadis atau tidak merata dan berlangsung dalam durasi singkat.
Berton mengatakan potensi hujan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi penanganan karhutla, terutama di wilayah yang terdampak.
“BMKG memperkirakan potensi hujan dengan intensitas sporadis di sebagian wilayah Kalimantan Barat akan ada pada tanggal-tanggal 1 sampai 7 September ini,” ujarnya.
Selain Kalimantan Barat, BMKG memperkirakan peningkatan hujan dengan intensitas sedang pada 4-7 September di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah dan Riau yang masih terdampak karhutla.
Di Sumatera, pelaksanaan OMC dengan memanfaatkan awan hujan juga disebut menunjukkan perkembangan dalam penanganan karhutla. Meskipun titik api masih ditemukan di Riau dan jarak pandang umumnya berada sekitar 9 kilometer, kondisi kualitas udara di Kota Pekanbaru dilaporkan membaik.
“ Kami bisa menyampaikan juga bahwa hari Minggu yang lalu, Car Free Day dilaksanakan di sana (Pekanbaru). Ini menandakan bahwa kualitas udara di Riau khususnya di kota Pekanbaru sudah membaik dan kita berharap dan berdoa senantiasa kualitas ini tetap terjaga dengan baik,” kata Berton.
Sementara itu, kualitas udara di Jambi secara umum disebut berada dalam kondisi baik. Kegiatan belajar mengajar dan aktivitas masyarakat di wilayah tersebut juga dilaporkan berjalan normal.
Hujan ringan hingga sedang turut terpantau di wilayah sasaran OMC, yakni Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Bungo.
Adapun kualitas udara di Sumatera Selatan umumnya berada pada kategori sedang, dengan kegiatan belajar mengajar dan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal, meski masyarakat dianjurkan menggunakan masker.
HT




