Nasional

Emisi Kebakaran Hutan Indonesia Tertinggi di Dunia, Capai 19,7 Juta Ton

Channel9.id – Jakarta. Emisi karbon dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia meningkat seiring meluasnya kebakaran di kawasan hutan dan gambut yang mengalami kekeringan di Kalimantan dan Sumatra. Data pemantauan menunjukkan emisi kebakaran Indonesia menjadi yang tertinggi di dunia pada pekan pertama September.

Dilansir dari Reuters, Jumat (11/9/2026), Fire Emissions Watch, portal yang dikembangkan melalui layanan pemantauan iklim Copernicus Uni Eropa, mencatat emisi kebakaran Indonesia pada 1-7 September mencapai 19,7 juta ton metrik. Angka tersebut melampaui emisi kebakaran Rusia dan menyumbang lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global pada periode tersebut.

Kondisi Indonesia yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan tersebut diperparah fenomena El Nino kuat yang meningkatkan suhu dan menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah.

Mark Parrington, ilmuwan senior Copernicus Atmosphere Monitoring Service di Bonn, mengatakan fenomena El Nino meningkatkan intensitas kebakaran yang biasanya terjadi pada periode tersebut.

“Kondisinya jauh lebih kering, lebih panas, dan ketika terjadi pemicu kebakaran, api dapat membakar dengan cara yang jauh lebih ekstrem,” kata Parrington, menukil Reuters.

Fire Emissions Watch menggunakan pengamatan satelit untuk memperkirakan konsentrasi partikulat, senyawa organik volatil, gas rumah kaca, serta polutan lain yang dihasilkan dari kebakaran. Parrington mengatakan perkiraan tersebut bahkan berpotensi lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena keterbatasan sensor dalam mendeteksi kebakaran gambut.

“Jika kebakaran gambut berlangsung pada suhu rendah atau terjadi di bawah permukaan tanah, api tersebut dapat berada di bawah batas deteksi sensor sehingga tidak terlihat,” ujarnya.

Parrington memperkirakan kebakaran dan emisi masih dapat meningkat karena musim kebakaran belum berakhir. Berdasarkan pola 2015, kondisi tersebut dapat berlangsung hingga akhir Oktober.

“Ini masih awal musim, dan kami memperkirakan kebakaran akan terus terjadi serta emisi terus meningkat, kemungkinan hingga akhir Oktober, seperti yang terjadi pada 2015,” kata Parrington.

Menurut dia, tingkat keparahan musim kebakaran tahun ini baru dapat diketahui secara lebih jelas dalam dua bulan ke depan. Namun, indikator awal menunjukkan intensitas kebakaran tahun ini berada pada tingkat yang setara atau sedikit lebih tinggi dibandingkan periode El Nino sebelumnya.

Data Copernicus menunjukkan intensitas emisi kebakaran Indonesia pada 1-7 September melebihi 1.500 kg/km2. Angka itu lebih dari 10 kali tingkat emisi kebakaran Rusia, dengan konsentrasi tertinggi tercatat di Kalimantan dan wilayah timur Sumatra.

Emisi pada periode tersebut tercatat 273 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata musiman. Namun, angkanya masih di bawah emisi pada periode yang sama pada 2015 yang mencapai 21,7 juta ton, ketika Indonesia juga menghadapi kondisi El Nino yang kuat.

Salah satu wilayah yang terdampak kebakaran adalah Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Berdasarkan pemantauan perusahaan pemantau kualitas udara asal Swiss, IQAir, indeks kualitas udara di Pontianak mencapai 394 pada Rabu, sementara angka 300 sudah masuk kategori berbahaya.

Sementara itu, sekitar 202.000 hektare lahan di Indonesia terbakar sepanjang Januari-Juli tahun ini. Nisa Novita dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengatakan luas tersebut sekitar sepertiga dari luas lahan yang terbakar pada periode yang sama pada 2015.

Namun, data Agustus diperkirakan menunjukkan peningkatan signifikan dengan luas lahan terbakar sekitar 600.000 hektare, terutama di Kalimantan, Sumatra, dan Papua bagian selatan.

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6  +  4  =