Channel9.id – Jakarta. Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) mulai beroperasi sejak 10 Agustus 2026. Saat ini, sekolah tersebut telah melayani 1.360 murid di berbagai daerah Indonesia.
Sebagaimana disiarkan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Senin (14/9/2026), dari 1.360 murid tersebut, sebanyak 680 merupakan siswa jenjang SMP dan 680 lainnya jenjang SMA. Mereka merupakan angkatan pertama SNT yang tersebar di 17 wilayah.
Juru Bicara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Gogot Suharwoto mengatakan SNT merupakan salah satu upaya untuk mendekatkan layanan pendidikan bermutu kepada masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan kesempatan pendidikan antardaerah.
“Anak-anak dengan potensi luar biasa lahir di seluruh penjuru Indonesia. Mereka tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena jauh dari pusat-pusat pendidikan,” ujar Gogot.
Menurut dia, melalui SNT, pemerintah berupaya memberikan kesempatan kepada anak untuk memperoleh pendidikan bermutu tanpa harus meninggalkan daerah asal, keluarga, dan lingkungan sosialnya.
Salah satu SNT yang telah menjalankan kegiatan belajar mengajar adalah SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo. Sekolah tersebut saat ini melayani 80 murid yang terdiri atas 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA.
Kegiatan pembelajaran di SNT 6 Bone Bolango didukung guru dan tenaga pendamping pembelajaran. Sekolah juga menyediakan layanan transportasi dengan dua bus untuk mengantar dan menjemput sebagian murid dari sejumlah titik kumpul yang disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal mereka.
Gogot mengatakan keberhasilan program pendidikan perlu dilihat dari manfaat yang diterima langsung oleh murid. Saat ini, menurut dia, para siswa SNT telah mengikuti pembelajaran dan berinteraksi dengan guru serta teman-temannya.
“Ukuran keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan pada akhirnya adalah ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak. Hari ini, murid-murid SNT sudah belajar di kelas, didampingi guru, berinteraksi dengan teman-temannya, dan mulai membangun cita-cita mereka,” kata Gogot.
Pada tahun pertama penyelenggaraannya, SNT hadir di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, Kota Tarakan, Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Setiap SNT melayani murid kelas VII SMP dan kelas X SMA. Dari 2.068 calon murid yang mendaftar dalam angkatan pertama, sebanyak 1.360 dinyatakan lolos melalui proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Seleksi tersebut meliputi tahapan administrasi dan Tes Skolastik. Calon murid yang berdomisili di wilayah penyelenggaraan SNT menjadi prioritas, sementara calon murid berprestasi dari wilayah sekitar tetap dapat mengikuti seleksi sesuai ketentuan dan daya tampung.
Selain menyediakan layanan pendidikan bagi murid, SNT dirancang sebagai bagian dari ekosistem peningkatan mutu pendidikan di daerah. Sekolah tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kompetensi guru, inovasi pembelajaran, pengembangan minat dan bakat, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi dengan sekolah di sekitarnya.
Konsep SNT juga menggunakan pendekatan nonasrama sehingga murid tetap dapat tinggal bersama keluarga. Dengan demikian, layanan pendidikan diberikan melalui sekolah tanpa mengharuskan murid meninggalkan lingkungan sosial dan keluarganya.
“Semangatnya sederhana: pendidikan bermutu harus semakin dekat dengan anak-anak Indonesia. Kita ingin anak dari Bogor, Bone Bolango, Kupang, Tidore, Tarakan, hingga daerah lainnya memiliki ruang yang sama untuk bermimpi besar dan mengembangkan potensinya,” ujar Gogot.
Pemerintah selanjutnya akan mengembangkan SNT secara bertahap, termasuk memperkuat layanan serta menyiapkan sarana dan prasarana permanen. Pengembangan tersebut diarahkan agar SNT menjadi salah satu instrumen pemerataan akses dan mutu pendidikan di berbagai daerah.
HT




