Channel9.id, Jakarta. Krisis penuaan tenaga kerja (aging workforce) dan kelangkaan SDM terampil memicu restrukturisasi besar-besaran pada peta manufaktur otomotif global. Raksasa otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corp., mengucurkan dana investasi hingga US$6,42 miliar (sekitar Rp114,6 triliun) per tahun untuk menyebar 400.000 unit robot—termasuk tipe humanoid—di ekosistem pabriknya mulai 2028.
Langkah masif ini menandai pergeseran otomatisasi industri, di mana robot tidak lagi dirancang untuk menggantikan peran manusia, melainkan bekerja berdampingan secara presisi demi menopang transisi menuju produksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
Berdasarkan laporan Ars Technica yang mengutip Nikkei Asia, Rabu (23/9/2026), dari total 400.000 unit robot yang disiapkan, sebanyak 150.000 unit akan ditempatkan di pabrik perakitan otomotif utama Toyota. Sementara itu, 250.000 unit sisanya dialokasikan ke fasilitas anak perusahaan grup yang memproduksi komponen serta material pendukung.
Wakil Presiden Eksekutif Toyota Hiroki Nakajima menegaskan bahwa integrasi teknologi ini berfokus pada kolaborasi simbiotis antara mesin dan tenaga kerja manusia.
“Perusahaan mengincar dunia di mana robot hidup berdampingan dengan manusia, bukan menggantikan mereka,” ujar Nakajima.
Sebagai bagian dari uji coba, Toyota telah mengoperasikan ELEY, robot humanoid beroda yang dibekali dua lengan presisi. Dalam proses pelatihannya, para pekerja pabrik dilibatkan secara langsung menggunakan perangkat sensor khusus di jari tangan untuk melatih mesin menirukan fleksibilitas dan gerak halus manusia.
Fenomena Penuaan Tenaga Kerja di Jepang
Adopsi robotik berskala besar oleh Toyota sejalan dengan temuan riset akademis terbaru yang dipublikasikan pada jurnal ScienceDirect edisi Desember 2025. Studi bertajuk “Aging workforce and industrial Robots: Industry-Level evidence from Japan” karya Fang Chen dan Wenge Liu mengonfirmasi bahwa laju penuaan angkatan kerja di Jepang secara signifikan mendesak industri manufaktur dan sektor padat modal untuk mempercepat otomatisasi.
Fenomena ini kian terdorong oleh tren kenaikan rata-rata upah tenaga kerja, yang membuat investasi pada robotik semakin efisien secara keekonomian jangka panjang.
Tren penggunaan robot humanoid serbaguna di lini perakitan kini menjadi arena persaingan baru bagi pabrikan otomotif global. Selain Toyota, Hyundai Motor Group juga mengambil langkah agresif melalui kemitraannya dengan Boston Dynamics.
Hyundai meluncurkan Robotics Metaplant Application Center (RMAC) di fasilitas Hyundai Motor Group Metaplant America (HMGMA), Georgia, AS. Pusat pengujian ini disiapkan untuk melatih robot humanoid Atlas dalam menangani tugas logistik dan penyusunan (sequencing) suku cadang.
Hyundai menargetkan penyebaran hingga 25.000 unit robot Atlas di seluruh jaringan pabrik global Hyundai dan Kia, serta merencanakan pembangunan fasilitas manufaktur robot baru di AS bertotal kapasitas 30.000 unit per tahun.




