Channel9.id – Jakarta. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, operasi difokuskan pada tiga provinsi tersebut melalui penyemaian awan menggunakan garam (NaCl) dan es kering atau dry ice.
“Kami tetap melakukan operasi modifikasi cuaca. Namun, kali ini kami akan menyampaikan tiga provinsi yang secara signifikan kami melakukan kegiatan ini,” ujar Berton dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, sebagaimana dikutip Channel9.id melalui kanal Youtube resmi BNPB, Kamis (5/11/2026).
Di Kalimantan Tengah, petugas gabungan telah melaksanakan enam sorti penerbangan dengan menyemai 10.600 kilogram dry ice dan garam. Operasi tersebut diikuti turunnya hujan ringan di Palangkaraya dan sejumlah kabupaten, seperti Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Gunung Mas, serta kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.
Sementara itu, OMC di Kalimantan Selatan dilakukan melalui dua sorti penerbangan dengan menyemai 1.800 kilogram garam. Hujan ringan kemudian turun di sejumlah wilayah, antara lain Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.
Adapun di Sumatera Selatan, petugas melaksanakan dua sorti penerbangan dengan menggunakan 5.600 kilogram garam. Hujan dengan intensitas cenderung lebat dilaporkan turun di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, sekitar Bandara Palembang, Muara Padang, dan Banyuasin.
Berton mengatakan, penanganan karhutla tetap menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga kesehatan dan keselamatan masyarakat serta aktivitas sosial ekonomi.
“Peristiwa kebakaran hutan dan lahan tentu memiliki konsekuensi terhadap aspek lingkungan hidup, keselamatan manusia, kesehatan masyarakat, dan kehidupan sosial ekonomi,” katanya.
Berdasarkan pemantauan BNPB hingga 3 November 2026, terdapat 864 titik api di sejumlah wilayah Indonesia. Luas lahan yang saat ini dalam penanganan mencapai 1.615 hektare.
BNPB mencatat enam wilayah yang menjadi perhatian berdasarkan perkembangan titik api dan luas lahan yang ditangani. Kalimantan Tengah mencatat peningkatan titik api sebesar 50 persen menjadi 425 titik dibandingkan hari sebelumnya. Luas lahan dalam penanganan di wilayah tersebut juga meningkat menjadi 664 hektare.
Di Sumatera Selatan, jumlah titik api naik 186 persen menjadi 60 titik, sedangkan luas lahan yang ditangani mencapai 105 hektare atau meningkat 66 persen. Jambi juga mengalami kenaikan 134 persen dengan total 150 titik api dan luas lahan dalam penanganan mencapai 403 hektare.
Sebaliknya, jumlah titik api di Kalimantan Timur turun menjadi 85 titik. Namun, luas lahan yang terbakar justru meningkat menjadi 182 hektare.
Di Papua Selatan, jumlah titik api berkurang menjadi 120 titik, sementara luas lahan yang ditangani turun 78 persen menjadi 203 hektare.
Adapun di Nusa Tenggara Timur, titik api menurun menjadi 24 titik, meskipun luas lahan dalam penanganan meningkat menjadi 58 hektare.
Berton mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan perhatian terhadap wilayah yang mengalami kenaikan jumlah titik api maupun luas lahan yang masih dalam penanganan.
“Tentu kami mengimbau kepada pemerintah daerah secara khusus melihat terutama adanya peningkatan titik api dan juga jumlah lahan yang sedang ditangani,” tutup Berton.
Baca juga: Kemenkes Catat 401.586 Kasus Ispa Akibat Karhutla, Balita Paling Banyak Terdampak
HT




