Channel9.id – Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2026. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,04 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS RI, Moh. Edy Mahmud, mengatakan pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan 3-2026 tumbuh solid sebesar 5,47 persen secara tahunan, utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga,” kata Edy dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring di kanal Youtube BPS, dikutip Channel9.id, Kamis (5/11/2026).
Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan dan memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, yakni 2,62 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2025 yang sebesar 4,89 persen.
Kuatnya konsumsi masyarakat terlihat dari meningkatnya transaksi barang dan jasa melalui kanal daring. Selain itu, mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata yang kembali meningkat turut mendukung permintaan, sementara pengendalian inflasi membantu menjaga daya beli.
Selain konsumsi rumah tangga, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh peningkatan investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen secara tahunan pada triwulan III-2026.
Konsumsi pemerintah juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,95 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen.
Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh belanja pegawai, termasuk gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN), serta belanja barang dan jasa, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi produksi, industri pengolahan menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni 1,20 persen. Sektor ini tumbuh 5,87 persen, didukung antara lain oleh industri makanan dan minuman yang tumbuh 7,09 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 8,10 persen, serta industri logam dasar sebesar 9,94 persen.
“Jika kita rinci menurut subsektor, terlihat bahwa kinerja positif sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh kinerja industri makanan dan minuman yang tumbuh hingga 7,09 persen; industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 8,10 persen; dan industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen,” jelas Edy.
Selain industri pengolahan, sektor perdagangan memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 0,94 persen. Sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 7,14 persen, meningkat dibandingkan triwulan III-2025 sebesar 5,46 persen dan triwulan III-2024 sebesar 4,85 persen.
Pertumbuhan perdagangan antara lain didukung peningkatan penjualan kendaraan, terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik. Ketersediaan pasokan barang dari dalam negeri maupun impor juga turut mendorong aktivitas perdagangan.
Sektor konstruksi tumbuh 6,42 persen, meningkat dibandingkan 4,21 persen pada triwulan III-2025. Pertumbuhan tersebut didukung pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dan swasta, termasuk proyek KDKMP, perumahan rakyat, sekolah rakyat, sekolah Garuda, serta revitalisasi sekolah.
Sementara itu, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen. Peningkatan lalu lintas data, pemanfaatan layanan pusat data atau data center, serta transaksi perdagangan melalui sistem elektronik menjadi sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan sektor tersebut.
Secara regional, pertumbuhan ekonomi tertinggi tercatat di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 6,08 persen. Posisi berikutnya ditempati Jawa dengan pertumbuhan 5,84 persen dan Sulawesi sebesar 5,68 persen. Ketiga kawasan tersebut mencatatkan pertumbuhan di atas angka nasional sebesar 5,47 persen.
HT




