Archandra Tahar
Opini

Apa Yang Dicari Presiden Trump di Greenland?

Oleh: Arcandra Tahar*

Channel9.id-Jakarta. Di bulan Januari 2026, dunia dikejutkan oleh kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump yang menimbulkan keguncangan geopolitik antar negara. Aksi sepihak dan tiba-tiba oleh Presiden Trump dengan menangkap dan menahan Presiden Venezuela Nicholas Maduro merupakan tindakan yang tidak biasa. Hal ini telah menimbulkan kemarahan dari masyarakat internasional maupun dari public di AS sendiri.

Belum selesai dengan persoalan Venezuela, Presiden Trump mengumumkan rencana untuk mengambil alih pulau Greenland yang merupakan wilayah otonomi dari Denmark. Berbagai strategi, termasuk ancaman disampaikan oleh Presiden Trump kepada pihak-pihak yang tidak sejalan dengan rencana beliau.

Sebenarnya apa yang dicari oleh Presiden Trump di Greenland. Apakah ini semata-mata kepentingan geoplolitik atau ada potensi kekayaan alam yang sangat dibutuhkan oleh AS?

Selama ini yang terungkap ke media pengambilalihan Greenland ditujukan untuk memperkuat pertahanan Amerika Serikat dan NATO dalam menghadapi persaingan dengan Rusia dan China. Tapi dibalik itu, data geologi mengungkapkan bahwa ada potensi (resources) critical mineral (mineral strategis) yang sangat besar di Greenland. Diantara critical mineral itu ada tembaga, mineral tanah jarang, lithium, zinc, gold dan graphite.

Tulisan ini akan fokus membahas berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh AS jika berniat mengekploitasi tambang mineral di Greenland.

Dalam beberapa tulisan terdahulu, kami menyampaikan bahwa setiap project atau inisitif harus melalui tiga proses evaluasi sebelum project tersebut bisa dijalankan. Evaluasi pertama apakah proyek tersebut layak secara TEKNIKAL. Seperti yang kita tahu, deposit yang ada di Greenland masih berstatus resources (potensi) dan belum masuk kategori reserves (cadangan). Artinya kemungkinan akan ditemukan mineral strategis masih dalam tahap awal.

Untuk itu perlu dilakukan rangkaian kegiatan eksplorasi yang salah satunya adalah kegiatan pengeboran. Disinilah tantangan secara teknikal muncul. Greenland diselimuti oleh ice sheet (lapisan es) yang sangan tebal. Rata-rata ketebalan lapisan es disini adalah 1.7 km. Jangankan untuk menambang, merencanakan aktivitas drilling diatas fondasi lapisan es yang membeku bukan pekerjaan mudah. Rusia dan Kanada memang sudah melakukan penambangan mineral di Artic. Tapi di kedua negara ini lapisan es nya tidak setebal di Greenland.

Tantangan secara teknikal selanjutnya adalah di Greenland bagian utara matahari hampir tidak pernah muncul (polar night) selama kurang lebih 4 bulan dalam setahun. Shipping window untuk ekspor dan impor barang di pelabuhan utara Greenland hanya bisa dilakukan kurang dari 4 bulan dalam setahun. Hal ini diperparah dengan infrastruktur jalan dan pelabuhan yang belum memadai untuk kegiatan pertambangan.

Selain infrastruktur, yang tidak kalah menantangnya adalah bagaimana Greenland memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang masif, sementara penduduknya hanya sekitar 57 ribu orang. Kegiatan tambang dan pengolahan membutuhkan puluhan ribu orang, bahkan lebih. Mendatangkan pekerja profesional dari luar bukanlah masalah sederhana, karena penduduk lokal ingin menjaga budaya meraka dari pengaruh pendatang. Ini tantangan yang tidak mudah dicari solusinya.

Evaluasi kedua yang harus dilakukan sebelum sebuah proyek bisa dilaksanakan adalah apakah secara KOMERSIAL proyek tersebut menguntungkan. Dengan harga mineral yang fluktuatif ditambah dengan tantangan dari sisi teknikal yang memerlukan biaya tinggi, maka keekonomian proyek ini menjadi rentan dan susah bersaing bila dibandingkan dengan tambang sejenis di wilayah yang lebih mudah. Perusahaan-perusahaan tambang besar akan berpikir ulang untuk ikut serta dalam proyek penambangan di Greenland ini.

Evaluasi ketiga adalah apakah proyek ini secara POLITIK bisa diterima oleh masyarakat dunia dan tentu saja publik di Greenland. Dengan maraknya protes yang dilancarkan oleh penduduk Greenland dan penolakan oleh negara-negara NATO menjadikan proyek penambangan mineral strategis di Greenland ini menjadi susah terwujud.

Hampir seluruh proyek-proyek besar didunia ini apalagi menyangkut pengelolaan sumber daya alam, memerlukan dukungan penuh dari penduduk lokal. Gangguan-ganguan dalam proses eksplorasi dan eksploitasi, sekecil apapun bisa berdampak kepada keekonomian proyek. Apalagi kalau tambang tersebut tidak dikelola dengan praktek-praktek yang baik secara lingkungan dan sosial, maka tantangan dan resiko penolakan akan semakin besar.

Dari uraian diatas, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum menjadikan Greenland wilayah pertambangan. Mari kita menunggu apa episode selanjutnya. Apakah Presiden Trump akan tetap dengan rencana pengambilalihan Greenland dan mengelola sumber daya alamnya, atau justru mengurungkan niat dan mundur teratur mengingat tantangannya tidak mudah dan biayanya juga tidak murah. Semoga bermanfaat.

*Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo

Baca juga: Denmark Tegaskan AS Tak Bisa Akuisisi Greenland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

60  +    =  70