Nasional

Bagi Murid di Aceh Tamiang, Masuk Sekolah Lagi Jadi Pelipur Lara usai Bencana

Channel9.id, Aceh Tamiang — Bagi Denico Felix Batubara (17), murid kelas 11 SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, momen kembali masuk sekolah adalah saat yang paling ditunggu. Masih terasa dalam ingatannya, bencana banjir yang melanda sebulan lalu, merenggut kebahagiaannya.

“Pertama kali masuk ke sekolah, bertemu teman-teman, rasa bahagia itu mulai muncul lagi,” kata Denico, di momen dimulainya tahun ajaran baru, Senin (5/1).

Suasana menyenangkan di sekolah menjadi pelipur lara bagi Denico. Apalagi setelah bertemu dengan teman-teman dan para guru.

“Momen paling saya kangen pada saat duduk-duduk saling bercerita. Cita-cita yang ingin kami raih atau lelucon-lelucon yang kami bicarakan,” kata Denico yang dipercaya menjadi pemimpin upacara saat sekolah pertama kali dimulai kembali.

Sekolah juga menjadi momen pertama kalinya dia bertemu dengan teman-temannya setelah bencana melanda. Selama bencana, dia tak pernah lagi bercengkerama dengan teman-temannya.

Meski masuk ke sekolah dengan keadaan yang terbatas, dia tetap merasa bahagia. Dia bercerita, ada temannya yang rumahnya hanyut tetap menyempatkan untuk ke sekolah.

“Bahkan saya ke sekolah sekarang ini pakai baju pinjam. Sepatu juga. Semua perlengkapan sudah tidak ada lagi,” kata dia.

Salah satu momen yang dia rindukan saat di sekolah adalah saat bekerja kelompok. Denico mengaku senang ketika berdiskusi dengan teman-temannya.

“Kangen kerja kelompok karena memicu daya berpikir kritis,” ujarnya.

Bagi Nabila Safitri Rahayu (17), murid kelas 12 SMAN 4, momen kembali ke sekolah juga sangat mengharukan sekaligus menggembirakan. Dia mengaku sangat rindu dengan teman dan wali kelasnya.

“Sebulan tanpa aba-aba. Libur begitu saja karena ada bencana. Belum ada salam perpisahan, ada rasa mengganjal,” kata dia.

Begitu masuk sekolah, dia merasa terharu melihat teman-temannya lagi. Apalagi lebih dari satu bulan tak bertemu sejak bencana melanda.

Begitu bertemu, Nabila mengaku banyak berbagi cerita sedih. Namun, karena mereka sudah menerima, cerita-cerita sedih itu jadi seperti menguatkan mereka untuk menghadapi bencana.

“Kami sudah menerima itu, jadi kami ceritanya sambil ketawa-ketawa,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  65  =  66