Channel9.id, Jakarta. Buku berjudul Prabowo: Politik Akal Sehat Tanpa Panggung karya wartawan senior Joseph Osdar akan diluncurkan pekan depan melalui diskusi dan bedah buku di Parle Senayan, Jakarta, Minggu (15/2/2026).
Peluncuran tersebut menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain akademisi tata negara Jimly Asshiddiqie, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) Aries Marsudiyanto, wartawan senior sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Singapura Suryopratomo, Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie, serta dimoderatori pakar komunikasi politik Effendi Gazali.
Anggota DPR RI yang juga Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Keluarga Besar FKPPI, Bambang Soesatyo, mengapresiasi penerbitan buku tersebut. Menurut dia, karya Osdar menawarkan sudut pandang berbeda tentang praktik politik di Indonesia.
“Buku ini mengangkat praktik politik yang jarang disorot, yakni politik yang bekerja tanpa sensasi dan lebih mengedepankan rasionalitas, etika, serta kepentingan kebangsaan,” ujar Bambang di Jakarta, Minggu (8/2/2026).
Osdar dikenal sebagai mantan wartawan Istana yang meliput enam presiden, mulai dari Soeharto hingga Joko Widodo. Dalam buku ini, ia menjadikan langkah politik Presiden Prabowo Subianto sebagai pintu masuk untuk membaca dinamika demokrasi Indonesia dari sisi yang lebih substantif.
Osdar mengatakan Bambang Soesatyo menjadi salah satu narasumber utama dalam penulisan buku tersebut. Ia menceritakan pengalamannya saat masih menjadi wartawan muda yang bertemu Prabowo ketika menjabat Komandan Jenderal Kopassus pada akhir 1980-an di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur.
Dalam buku itu juga disinggung sejumlah pengalaman militer Prabowo, termasuk keterlibatannya dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada dekade 1970-an serta operasi pembebasan tim ekspedisi Lorentz yang disandera di Papua pada 1996.
Selain aspek militer, Osdar menuliskan pandangan Bambang mengenai gaya kepemimpinan Prabowo, termasuk perhatian terhadap keluarga prajurit serta pendekatan politik yang menekankan dialog dan stabilitas jangka panjang.
Dalam pengantarnya, Osdar menegaskan buku tersebut tidak dimaksudkan sebagai glorifikasi tokoh, melainkan refleksi atas praktik politik yang menekankan akal sehat dan tanggung jawab kenegaraan.
“Buku ini merekam bagaimana politik sesungguhnya bekerja, tidak selalu di depan kamera atau panggung besar, tetapi lewat keputusan-keputusan penting bagi bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan, salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya kedewasaan elite politik dalam mengelola perbedaan pandangan, sebagai prasyarat kualitas demokrasi.





