Oleh: Rudi Andries
Channel9.id-Jakarta. Indonesia sedang berhadapan dengan rangkaian persoalan struktural yang saling mengunci: bencana hidrometeorologi yang semakin sering, degradasi lahan pascabencana, kemiskinan mendadak di wilayah terdampak, serta pola bantuan darurat yang cepat habis namun miskin keberlanjutan. Setiap bencana bukan hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus mata rantai penghidupan warga.
Dalam konteks inilah Juncao Technology—sebuah inovasi yang tampak sederhana—menawarkan jawaban yang justru strategis. Juncao bukan sekadar rumput. Ia adalah teknologi pembangunan yang menjembatani pemulihan lingkungan, penciptaan kerja, dan kemandirian ekonomi komunitas.
Teknologi ini dikembangkan dengan prinsip mengganti ketergantungan pada kayu dengan biomassa rumput berproduktivitas tinggi. Juncao telah diterapkan di lebih dari seratus negara dan terbukti menciptakan lapangan kerja hijau, memperbaiki lahan rusak, serta mendukung ketahanan pangan dan energi. Yang paling relevan bagi Indonesia: teknologi ini murah, adaptif, dan cepat menghasilkan dampak—tiga prasyarat penting bagi negara berkembang dengan keterbatasan fiskal dan risiko bencana tinggi.
Secara teknis, Juncao memanfaatkan rumput cepat tumbuh seperti Pennisetum purpureum dan Arundo donax sebagai bahan baku multifungsi: media tanam jamur berprotein tinggi, pakan ternak, biomassa energi, sekaligus penahan erosi. Dalam satu tahun, Juncao dapat dipanen hingga enam kali, bahkan di lahan marginal yang rusak akibat banjir atau longsor.
Sistem perakarannya yang kuat menjadikan Juncao bukan sekadar tanaman, melainkan infrastruktur ekologis hidup. Ia menstabilkan tanah, memperbaiki struktur lahan, dan meningkatkan daya simpan air—fungsi yang krusial di wilayah pascabencana.
Nilai strategis Juncao meningkat signifikan ketika dipadukan dengan biochar—arang hayati hasil pengolahan limbah kayu pascabencana. Biochar berfungsi memperbaiki kesuburan tanah, mengikat karbon secara jangka panjang, dan meningkatkan produktivitas lahan.
Kombinasi ini membentuk Biochar–Juncao Grass Complex: sebuah sistem pemulihan hijau yang bekerja secara ekologis, ekonomis, dan sosial sekaligus. Limbah bencana tidak lagi menjadi beban, tetapi sumber daya. Bantuan darurat tidak berhenti sebagai konsumsi sesaat, melainkan dikonversi menjadi aset produktif milik masyarakat.
Kesepakatan kerja sama antara DNIKS dan Asosiasi Biochar Internasional Indonesia (ABII) pada Januari 2026 menandai pergeseran paradigma tersebut. Program Pemulihan Hijau Pascabencana di Sumatera dirancang bukan sekadar menolong korban, tetapi memulihkan daya hidup wilayah.
Program ini diarahkan untuk menahan degradasi lanjutan, menyerap tenaga kerja korban bencana secara padat karya dan bermartabat, membangun cadangan biomassa nasional, serta meredam potensi konflik sosial akibat hilangnya sumber ekonomi.
Pengalaman negara-negara Pasifik dan Asia menunjukkan bahwa Juncao mampu meningkatkan pendapatan rumah tangga, menurunkan kerentanan pangan, dan memperkuat ekonomi lokal. Bagi Indonesia, manfaat ini sejalan dengan agenda nasional rehabilitasi hutan dan lahan, ketahanan pangan, serta transisi menuju ekonomi hijau.
Lebih jauh, pengembangan Juncao membuka ruang kerja sama Selatan–Selatan yang lebih setara. Transfer teknologi dan pelatihan menjadi fokus utama, bukan ketergantungan struktural. Indonesia tidak ditempatkan sebagai lokasi proyek semata, melainkan sebagai aktor yang menentukan desain, tujuan, dan kepemilikan manfaat.
Dalam konteks global, pendekatan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang tidak sekadar reaktif terhadap krisis iklim, tetapi menawarkan solusi praktis berbasis pengalaman lapangan.
Juncao memang terlihat sederhana—hanya rumput. Namun dalam kerangka kebijakan publik, ia bisa menjadi instrumen strategis pemulihan jangka panjang. Ketika digabungkan dengan biochar, kelembagaan komunitas, dan kepemimpinan negara yang kuat, Juncao menjadi pintu masuk menuju model pemulihan pascabencana yang berdaulat.
Jika dikelola secara disiplin, transparan, dan konsisten di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Biochar–Juncao Grass Complex berpotensi menjadi warisan kebijakan: contoh bagaimana Indonesia mengubah krisis menjadi kekuatan, dan bagaimana negara-negara Global South membangun masa depan dengan caranya sendiri.
Dari rumput, Indonesia bisa menumbuhkan ketahanan. Dari bencana, Indonesia bisa membangun kembali—lebih hijau, lebih adil, dan lebih berdaulat.
*Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)
Baca juga: Limbah Banjir Disulap Jadi Biochar, DNIKS–ABII Dorong Pemulihan Hijau Sumatera





