dr Rizky Adriansyah
Opini

Dokter Residen Merangkap Supir Taksi: Potret Buruk Pendidikan Kedokteran dan Layanan Kesehatan

Oleh: Rizky Adriansyah*

Channel9.id-Jakarta. Kisah Dokter Rosa—residen yang menyambi menjadi pengemudi taksi online lalu menolong persalinan seorang ibu di dalam mobil—ramai dipuja sebagai cerita “mengharukan”. Padahal, bila kita berhenti sejenak dari tepuk tangan, peristiwa itu lebih tepat dibaca sebagai potret telanjang dua sistem yang compang-camping: pendidikan dokter spesialis dan pelayanan kesehatan, terutama layanan maternal dan sistem rujukan.

Menolong persalinan di dalam mobil bukan prosedur yang patut dianggap normal, apalagi di kota besar seperti Surabaya. Itu hanya dapat dibenarkan bila benar-benar darurat dan tidak ada pilihan lain. Persalinan adalah proses fisiologis yang bisa berubah menjadi bencana dalam menit, perdarahan pascapersalinan, gawat napas bayi, preeklamsia/eklamsia, distosia bahu, retensio plasenta. Ketika semua itu terjadi, yang menentukan hidup-mati bukan niat baik, melainkan kesiapan sistem, alat, obat, tim, akses darah, ruang tindakan, dan jalur rujukan.

Karena itu, menjadikan adegan “melahirkan di mobil” sebagai konten inspiratif sama saja mengubah alarm menjadi lagu pengantar tidur. Masyarakat diajak terharu, bukan tersadar. Kita merayakan outcome yang kebetulan baik, lalu menutup mata pada proses yang sejak awal sarat risiko. Ini cara paling halus untuk menormalisasi keadaan yang seharusnya memalukan, seorang ibu melahirkan tanpa fasilitas kesehatan memadai, dan seorang dokter—lebih-lebih residen—bekerja di luar sistem pendidikan dan sistem pelayanan karena alasan ekonomi.

Pertanyaan yang semestinya muncul bukan “betapa hebatnya Dokter Rosa”, melainkan “mengapa residen harus mencari nafkah di jalan?” Pendidikan dokter spesialis di Indonesia sudah lama dikenal mahal, panjang, dan melelahkan. Di banyak tempat, residen diperlakukan sebagai tulang punggung layanan sekaligus “peserta didik” yang mudah diminta berkorban. Kelelahan dilabeli tempaan. Jam kerja panjang diberi bumbu pengabdian. Ketidakpastian pendapatan dianggap konsekuensi panggilan. Ketika pada titik tertentu residen harus memilih antara bertahan hidup atau bertahan sekolah, itu bukan cerita ketangguhan personal. Itu indikator kegagalan desain.

Negara masih saja sering bermain alibi, memuji moral individu untuk menutup lubang kebijakan. Janji tentang insentif atau jasa bagi residen sudah bergema sejak masa UU Pendidikan Kedokteran (tahun 2013) hingga era UU Kesehatan (tahun 2023), tetapi kepastian teknis—aturan turunan, skema pembiayaan, perlindungan kerja—sering menguap dalam debat dan seremonial. Ketidakjelasan itu akhirnya dibayar dengan cara paling brutal: waktu tidur, kesehatan mental, bullying, keselamatan kerja, dan martabat profesi.

Ada dimensi lain yang sengaja jarang dibicarakan karena merusak suasana haru, keselamatan pasien dan keselamatan publik. Residen yang habis jaga panjang lalu mengemudi untuk menambah penghasilan menghadapi risiko ganda: risiko medis karena kelelahan dan risiko kecelakaan lalu lintas. Sistem transportasi tidak mengenal alasan “habis jaga 24 jam”. Namun sistem membiarkan kombinasi berbahaya itu tumbuh, lalu bertepuk tangan ketika tidak terjadi tragedi.

Lebih gawat lagi, siapa yang menanggung konsekuensi bila persalinan di mobil berujung komplikasi? Di rumah sakit ada SOP, rekam medis, tim, alat, rantai rujukan, dan kerangka perlindungan hukum. Di dalam mobil, yang tersisa hanya tangan seorang dokter dan nasib. Jika berhasil, dokter dipuji. Jika gagal, dokter berhadapan sendiri dengan stigma, tuntutan, bahkan pidana. Negara memindahkan risiko dari sistem ke individu—dan dari individu ke rakyat—sambil tetap memamerkan narasi heroik.

Kisah Dokter Rosa semestinya membuat kita marah, bukan sekadar terharu. Marah karena layanan maternal dan rujukan masih bisa gagal secara telanjang. Marah karena pendidikan spesialis masih kerap memproduksi eksploitasi yang dibungkus romantisme pengabdian. Dan marah karena perbaikan struktural—insentif layak, jam kerja manusiawi, perlindungan hukum jelas, serta sistem rujukan obstetri yang benar-benar siap—terlalu sering berhenti sebagai slogan.

Jika publik hanya berhenti pada kekaguman, maka kekaguman itu berubah menjadi anestesi sosial, membius kita agar menganggap semua “baik-baik saja”, padahal yang kita lihat adalah gejala dan tanda sistem yang sakit.

*Dokter Spesialis Anak Konsultan Kardiologi

Baca juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  1  =