Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Demikian dengan sutradara Chiska Doppert yang kembali menyapa penonton layar lebar dengan film terbarunya berjudul ‘Waru’. Film ini menghadirkan pendekatan horor psikologis dengan mengusung drama dan pesan moral yang kuat.
Diproduksi oleh Aglow Pictures berkolaborasi dengan Suraya Filem dan Film Q Indonesia, Waru diproduseri oleh Aji Fauzi, dengan skenario ditulis oleh Ery Sofid. Film ini diadaptasi dari novel karya sang produser sendiri, yang kemudian dikembangkan ulang agar lebih relevan dan kuat secara sinematik.
“Novel ini sebenarnya punya ide yang bagus, tapi ketika dibawa ke film, saya merasa perlu dikembangkan lagi. Kita harus kembali ke akarnya, memperkuat sebab-akibat ceritanya, dan membuat horornya bukan sekadar menakut-nakuti,” ujar Chiska Doppert usai Gala Premier film Waru di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (6/2/2026).
Lebih lanjut, Chiska Doppert yang dikenal lewat film-film horor dengan elemen klasik ini mengaku menghadapi tantangan yang berbeda.
“Biasanya saya mainnya pocong-pocongan, tapi di Waru ini beda. Pohon waru tidak hanya dijadikan media, tapi dibuat seolah ‘hidup’, punya dimensi psikis. Itu tantangan tersendiri buat saya,” ungkapnya.
Menurut Chiska, horor dalam Waru tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui konflik, trauma, dan konsekuensi dari setiap tindakan karakter.
“Di sini hantu itu bukan cuma hadir buat menakut-nakuti. Semua ada sebab-akibatnya. Bahkan ada plot twist besar di bagian belakang cerita yang baru kebuka kalau penonton nonton sampai habis,” jelasnya.
Selain horor psikologis, Waru juga mengusung drama yang kuat dengan alur cerita yang tidak mudah ditebak. Unsur moral menjadi fondasi utama dalam treatment cerita yang dikembangkan sejak awal.
“Unpredictable. Jadi penonton jangan setengah-setengah nontonnya. Harus sampai akhir biar tahu kebenaran ceritanya,” kata Chiska.
Film ini mengambil lokasi syuting di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Bogor, Sukabumi, Solo, hingga Tawangmangu, Boyolali, yang turut memperkuat atmosfer mistis dan dramatis dalam film.
Chiska mengaku sengaja memberi ruang bagi wajah-wajah baru yang sebelumnya lebih dikenal lewat FTV dan layar kaca.
“Saya senang kasih warna baru buat penonton. Mereka ini sebenarnya sudah punya fans sendiri, hanya saja jarang tampil di layar lebar. Semua pemain juga tetap melalui proses workshop akting yang cukup intens,” ujarnya.
Meski proses produksi Waru telah rampung sejak 2025, film ini baru dirilis pada 2026 karena melalui tahapan pascaproduksi yang cukup panjang dan menantang.
“Kami sempat melakukan online editing dua kali karena ada kendala di post-production. Tapi semua itu bagian dari proses. Strategi rilis sepenuhnya ada di tangan produser,” kata Chiska.
Chiska berharap Waru dapat menghadirkan nuansa baru bagi perfilman horor Indonesia dan diterima oleh penonton Tanah Air.
“Semoga film ini bisa jadi tontonan yang bukan cuma seram, tapi juga punya cerita dan makna,” pungkas Chiska Doppert.
Film ini dibintangi oleh Bella Graceva, Zikri Daulay, Jinan Safa, Yatti Surachman, Josiah Hogan, Sharifah Husna, Dewi Amanda, dan Sean Mikhail.
Kisahnya berpusat pada tokoh Lydia yang diperankan oleh Dewi Amanda. Lydia terpaksa dipasung karena sering mengalami kerasukan dan mengancam nyawa keluarganya.
Dalam kondisi itu, Lydia memohon kepada Nadine, yang diperankan Bella Graceva agar memusnahkan sebuah pohon terkutuk di kampung halaman orang tuanya, yang diyakini menjadi tempat bersemayam jin jahat bernama Iblis Waru.
Namun, pesan terakhir Lydia tidak mendapat kepercayaan dan dianggap sebagai ucapan orang yang sedang sakit. Sehingga kematiannya justru menimbulkan teror mengerikan yang menghantui Nadine, Adrian, yang diperankan Zikri Daullay, Anya, diperankan oleh Jinan Safa, dan Haqi, yang diperankan Sean Mikhail.
Didorong rasa bersalah dan serangkaian teror yang semakin nyata. Akhirnya mereka memutuskan mendatangi rumah tua peninggalan kakek dan nenek Nadine yang terletak di tengah hutan, mencari pohon terkutuk tersebut.
Sesampainya di sana, gangguan mistis semakin menjadi, termasuk kemunculan sosok nenek gaib yang ternyata adalah perwujudan Iblis Waru yang terus berusaha menggagalkan niat mereka untuk menemukan pohon terkutuk.
Kebenaran mengejutkan terungkap setelah ditemukannya sebuah surat perjanjian pesugihan yang ditulis menggunakan aksara Jawa kuno. Surat ini mengungkap bahwa Lydia pernah mengikat perjanjian dengan Iblis Waru.
Dalam perjanjian itu, Lydia menukar kemakmuran dengan menyerahkan tumbal berupa kepala manusia setiap tahunnya.
Kehadiran Reza, yang diperankan Josiah Hogan, dan Sarah, yang diperankan Syarifah Husna telah memperdalam konflik, ketika terungkap bahwa perjanjian pesugihan dilakukan Lydia demi kesejahteraan keluarga setelah perceraian yang dialaminya.
Kini, satu-satunya jalan keluar untuk menghentikan teror adalah dengan memusnahkan pohon terkutuk yang memiliki kekuatan gaib sebelum Iblis Waru kembali menagih tumbal berikutnya.
Film ‘Waru’ dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Februari 2026.
Kontributor: Akhmad Sekhu





