Channel9.id – Jakarta. Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto menegaskan tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal dan merupakan bagian dari penyesuaian global, bukan persoalan domestik semata.
“Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal. Ini bukan semata persoalan domestik, melainkan bagian dari penyesuaian global,” ujarnya.
Menurutnya, nilai tukar rupiah yang sempat tertekan ke level 17.105 per dolar AS pada Selasa (7/4/2026) tidak mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan dipengaruhi dinamika global seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik.
Di tengah tekanan tersebut, indikator domestik tetap solid dengan pertumbuhan ekonomi stabil di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, sektor perbankan kuat, serta cadangan devisa mencapai USD 148,2 miliar yang menopang ketahanan eksternal dan membuka peluang peningkatan daya saing ekspor.
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus juga menjadi penopang penting, terutama didorong oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, CPO, dan nikel.
Ekonom Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah saat ini telah memasuki fase overshooting, yakni ketika nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.
Ia menilai kondisi tersebut dinilai memberikan ruang bagi Indonesia untuk memanfaatkan pelemahan rupiah sebagai momentum meningkatkan ekspor dan memperbaiki transaksi berjalan.
“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam fase tersebut nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan dibandingkan harga domestik yang relatif kaku, terutama pada komponen yang diatur pemerintah. Menurutnya, kondisi ini juga membuka peluang bagi pelaku pasar untuk menyiapkan strategi menghadapi fase normalisasi nilai tukar.
Di tengah situasi tersebut, langkah Bank Indonesia (BI) melalui intervensi pasar dinilai tepat untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan investor. Meski tidak menghilangkan tekanan secara instan, kebijakan tersebut dianggap mampu meredam volatilitas dan menjaga keseimbangan pasar keuangan.
David menilai pelemahan rupiah juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri domestik melalui substitusi impor dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.
“Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik,” katanya.
Seiring mulai meredanya tensi global dan meningkatnya harga komoditas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berangsur menurun dalam beberapa waktu ke depan.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujar Fakhrul.
HT





