Channel9.id, Jakarta. Kenaikan harga bahan baku plastik mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kementerian UMKM mencatat lonjakan harga mencapai 40% hingga 60% dalam beberapa waktu terakhir, seiring terganggunya pasokan global.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menjelaskan, lonjakan tersebut dipicu tersendatnya distribusi nafta bahan baku utama plastik dari kawasan Timur Tengah. Gangguan ini tidak lepas dari penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dan bahan baku industri.
Menurut Maman, dampaknya langsung terasa di tingkat pelaku usaha. Dalam sepekan terakhir, kementeriannya menerima banyak laporan dari UMKM yang mengeluhkan kenaikan biaya produksi akibat mahalnya bahan kemasan plastik.
Ia menggambarkan, harga plastik yang sebelumnya berada di kisaran Rp1.000 kini naik sekitar Rp400 hingga Rp600 per unit. “Kenaikannya cukup signifikan dan langsung dirasakan pelaku usaha,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Meski biaya produksi meningkat, banyak pelaku UMKM memilih tidak menaikkan harga jual. Mereka berupaya menjaga daya beli konsumen di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Namun, keputusan itu berdampak pada menipisnya margin keuntungan.
“Pelaku UMKM menahan harga jual, tapi konsekuensinya keuntungan mereka tergerus karena biaya produksi naik,” kata Maman.
Pemerintah berupaya meredam tekanan tersebut dengan mencari sumber pasokan alternatif. Negara-negara seperti India, kawasan Afrika, dan Amerika Serikat mulai dijajaki sebagai pengganti pasokan dari Timur Tengah. Saat ini, proses pengalihan tersebut masih berada pada tahap administrasi.
Selain itu, Kementerian UMKM juga berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk menyiapkan langkah stabilisasi, termasuk kemungkinan operasi pasar.
Di lapangan, kenaikan harga plastik sudah dirasakan pelaku usaha kecil. Moja (37), pedagang gorengan di Parung Panjang, mengaku harga kantong plastik melonjak dari Rp10.000 menjadi Rp17.000 per pak setelah Lebaran. Meski demikian, ia memilih tidak mengubah harga jual dagangannya.
Kondisi serupa dialami pedagang minuman di Jakarta Pusat. Harga gelas plastik dan kemasan lainnya naik, sehingga menambah beban modal harian. “Modalnya jelas bertambah, tapi harga jual masih sama,” ujar seorang pedagang.
Ekonom dari Indef, Esther Sri Astuti, menilai kenaikan harga plastik memberi tekanan besar, terutama bagi UMKM sektor kuliner yang sangat bergantung pada kemasan. Ia menyebut dampaknya tidak hanya pada biaya produksi, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Jika kondisi ini berlangsung lama, Esther memperingatkan risiko yang lebih luas, mulai dari inflasi hingga perlambatan sektor riil. “Ketika biaya terus naik, pelaku usaha pada akhirnya akan menaikkan harga. Itu bisa menekan daya beli dan memicu inflasi,” ujarnya.
Dari sisi perdagangan, pemerintah mengakui diversifikasi sumber impor bukan perkara mudah. Kepala Biro Humas Kementerian Perdagangan Ni Made Kusuma Dewi mengatakan proses peralihan pasokan membutuhkan waktu karena melibatkan penyesuaian logistik dan kontrak dagang.
Pemerintah, kata dia, terus berkoordinasi dengan pelaku industri dan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk membuka akses ke pemasok baru. Langkah ini diharapkan dapat menjaga ketersediaan bahan baku di tengah tekanan global.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia masih bergantung pada impor plastik dan produk turunannya. Pada Februari 2026, nilai impor mencapai US$873,2 juta. China menjadi pemasok utama, disusul Thailand dan Korea Selatan.
Namun, kemampuan industri petrokimia dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar separuh kebutuhan nasional. Sisanya masih bergantung pada impor, termasuk dari Timur Tengah yang kini terganggu.





