Channel9.id, Jakarta. Perayaan Tahun Baru Imlek kerap dipahami sebatas pergantian tahun dalam tradisi Tionghoa. Namun di balik kemeriahan lampion dan barongsai, Imlek menyimpan makna yang jauh lebih luas, mulai dari sistem penanggalan, dimensi spiritual, hingga refleksi sosial dan ekonomi.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) Budi Tanuwibowo dalam wawancara di sela perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, Senin (2/3/2026). Menurutnya, Imlek tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang sistem kalender dunia.
Secara global, terdapat puluhan sistem kalender yang pernah digunakan manusia. Namun, secara garis besar, sistem tersebut terbagi dalam empat kategori utama.
Pertama, sistem lunar, yang menghitung peredaran bulan mengelilingi bumi. Satu siklus bulan rata-rata 29 hari. Kalender Hijriah, Jawa, dan Saka termasuk dalam kategori ini.
Kedua, sistem solar (matahari), yang berbasis pada peredaran bumi mengelilingi matahari selama sekitar 365 hari. Kalender Masehi atau Gregorian menjadi contoh paling umum.
Ketiga, sistem lunisolar, yang menggabungkan keduanya. Perhitungan bulannya mengikuti siklus lunar, tetapi tetap disesuaikan dengan siklus matahari. Di sinilah kalender Imlek berada. Sistem ini mengoreksi selisih sekitar 11 hari per tahun antara lunar dan solar. Dalam siklus 19 tahun, selisih tersebut diakumulasi dan ditambahkan tujuh bulan kabisat (bulan ke-13). Sistem serupa juga digunakan dalam kalender Ibrani di Israel.
Di Indonesia sendiri, sedikitnya lima kalender hidup berdampingan: Masehi (2026), Hijriah (1447), Jawa (1959), Saka (1947), dan Imlek (2577).
Setiap kalender memiliki titik awal sejarahnya masing-masing. Kalender Masehi merujuk pada kelahiran Yesus Kristus, Hijriah pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, sedangkan Imlek dikaitkan dengan era Konfusius (551 SM), yang hidup jauh sebelum masehi.
Awalnya, kalender Tionghoa disusun untuk membaca musim. Di wilayah dengan empat musim, penanggalan menjadi instrumen penting untuk menentukan masa tanam dan panen.
“Dulu raja memimpin ritual setiap pergantian musim. Menjelang Imlek, orang memohon ampun. Pagi harinya berprasetya memulai hidup baru,” ujar Budi kepada Channel9.id.
Makna spiritual ini menempatkan Imlek sebagai momen “titik nol” untuk memperbarui diri. Refleksi menjadi inti perayaan, bukan sekadar seremoni.
Ekonomi, Pertanian, dan Tradisi Sosial
Dalam sejarahnya, kalender lahir dari kebutuhan ekonomi—terutama pertanian dan peternakan. Pada masa lalu, petani hanya bisa panen sekali setahun. Kini, dengan teknologi modern, panen bisa berlangsung hingga empat kali.
Seminggu sebelum Imlek, tradisi berbagi kepada masyarakat kurang mampu juga dilakukan. Praktik ini memiliki kemiripan nilai dengan zakat dalam Islam—menegaskan bahwa solidaritas sosial menjadi bagian penting dari perayaan.
Beragam makanan khas pun muncul mengikuti musim. Bacang identik dengan musim panas, kue bulan hadir saat musim gugur, ronde dinikmati ketika musim dingin, sementara kue keranjang dahulu menjadi persediaan makanan di cuaca dingin. Seiring waktu, masyarakat memberi makna simbolis: hidup manis, kehangatan, atau kebersamaan.
Filosofi Bacang dan Pengembangan Diri
Budi juga menyinggung legenda bacang yang dikaitkan dengan seorang pejabat jujur pada era Tiongkok kuno. Ia setia kepada negara, namun tersingkir oleh intrik politik dan akhirnya bunuh diri di danau. Rakyat yang setia melemparkan bacang ke air agar ikan tidak memakan jasadnya.
Di balik kisah itu, tersimpan filosofi sederhana. “Titik kalau dua jadi garis, tiga jadi segitiga, lalu bidang, lalu ruang. Guru memberi dasar, murid harus mengembangkannya,” katanya.
Pesannya jelas: manusia tidak boleh berhenti belajar. Diam berarti tertinggal.
Kerja Keras di Atas Simbol
Budi menekankan, makna Imlek tidak terletak pada kepercayaan simbolik semata. Tahun apa pun, menurutnya, tidak otomatis membawa keberuntungan tanpa kerja keras.
“Kalau hanya berdoa tanpa usaha, sulit maju. Doa penting, tapi harus disertai kerja,” ujarnya.
Baginya, Imlek mengandung pesan universal: sistem kalender, nilai spiritual, solidaritas sosial, budaya, hingga refleksi diri. Semua bermuara pada pembaruan kemauan untuk memperbaiki diri dan merencanakan masa depan.
Di Singkawang, kota yang dikenal dengan kerukunan antarumat beragama, perayaan Imlek dan Cap Go Meh menjadi simbol harmoni tersebut. Tradisi berjalan berdampingan dengan semangat kebangsaan.
Pada akhirnya, Imlek bukan sekadar pergantian angka tahun. Ia menjadi pengingat bahwa waktu terus bergerak, dan manusia dituntut untuk ikut bertumbuh bersamanya.
Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa Imlek adalah simbol pembaruan. “Intinya, kalau suatu hari kita bisa memperbarui diri, jaga supaya terus baru. Jangan berhenti belajar,” katanya.





