Channel9.id, Jakarta. Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menyampaikan bahwa untuk memaksimalkan masuknya investasi teknologi tinggi, HKI mendorong pembentukan kerja sama usaha (joint venture/JV) antara perusahaan semikonduktor global dan pelaku industri dalam negeri.
Menurut Ma’ruf, skema JV dinilai penting agar investasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga berkontribusi pada alih teknologi, penguatan rantai pasok domestik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia nasional.
“Model ini kami dorong agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi manufaktur, tetapi juga ikut menguasai teknologi dan ekosistem industrinya,” ujar Ma’ruf dalam keterangan resmi, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan, investor asal Amerika Serikat saat ini mulai merealisasikan pembangunan fasilitas industri pada 2026. Investasi tersebut melibatkan perusahaan berbasis di AS dan Jerman yang tergabung dalam konsorsium di bawah PT Quantum Luminous Indonesia, PT Terra Mineral Nusantara, serta Tynergy Group.
Tynergy Group sendiri merupakan gabungan dari PT Energy Tech Indonesia dan PT Essence Global Indonesia. Total nilai investasi untuk proyek industri semikonduktor di Batam ini mencapai US$26,73 miliar atau setara Rp447,59 triliun dengan asumsi kurs Rp16.745 per dolar AS.
Sementara itu, minat investor dari Taiwan masih berada pada tahap awal berupa penjajakan dan pembahasan kerja sama. Adapun investor asal China disebut telah memulai proses investasi, meski realisasi pembangunan fisik yang semula ditargetkan pada 2025 mengalami keterlambatan akibat proses perizinan yang belum rampung.
“Kondisi ini tentu menjadi perhatian karena berpotensi menghambat momentum strategis pengembangan industri teknologi tinggi di dalam negeri,” kata Ma’ruf.
Ia menambahkan, rencana investasi semikonduktor dari Taiwan dan China memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan konsorsium AS-Jerman yang saat ini tengah membangun pabrik di Batam. Perbedaan tersebut terlihat dari struktur konsorsium, pemanfaatan teknologi, hingga segmentasi pasar, meski tetap berada dalam kerangka besar penguatan industri nasional dan integrasi ke rantai pasok global.
Ma’ruf menilai, kawasan industri di Indonesia saat ini memasuki fase ekspansi yang signifikan. Dalam konteks tersebut, sektor semikonduktor menjadi salah satu prioritas utama yang terus dijajaki HKI seiring meningkatnya permintaan global terhadap cip dan komponen elektronik.
Dari sisi kesiapan lokasi, HKI telah menyiapkan sejumlah kawasan industri strategis yang dinilai kompetitif untuk pengembangan semikonduktor, antara lain Kawasan Industri Batamindo, Kawasan Industri Wiraraja, Kawasan Industri Kabil di Batam, serta kawasan Galang Batang di Bintan.
Kawasan-kawasan tersebut dinilai unggul dari segi infrastruktur, konektivitas logistik internasional, serta ekosistem industri pendukung yang terus berkembang.
Ma’ruf optimistis, industri semikonduktor akan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi nasional dengan menciptakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, memperdalam hilirisasi industri, serta memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri teknologi global.
“Pengembangan industri semikonduktor melalui joint venture di kawasan industri Indonesia adalah langkah strategis untuk membangun fondasi ekonomi masa depan,” tutupnya.





