Channel9.id, Jakarta. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyoroti kenaikan inflasi nasional yang melampaui target pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 4,76 persen pada Februari 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Januari yang berada di 3,55 persen. Kenaikan ini juga melampaui target inflasi nasional yang dipatok 2,5 persen ±1 persen, atau berada di kisaran 1,5-3,5 persen.
“Desember lalu inflasi kita 3,55 persen, sekarang menjadi 4,76 persen. Artinya inflasi sudah berada di atas target nasional,” kata Tito saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Kepulauan Riau, Senin (9/3/2026).
Menurut Tito, secara teori angka tersebut masih tergolong inflasi ringan. Namun dampaknya tetap terasa, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Yang paling terdampak adalah masyarakat desil 1 sampai 4 yang hidupnya bergantung pada kebutuhan harian,” ujarnya.
Harga Emas Jadi Penyumbang Utama
Tito menjelaskan, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan. Kelompok ini mencatat kenaikan hingga 16,66 persen.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari harga emas perhiasan dan perlengkapan pribadi.
Ia menilai lonjakan harga emas dipicu oleh dinamika global, termasuk konflik geopolitik seperti perang Rusia dan Ukraina. Ketegangan tersebut mendorong sejumlah negara meningkatkan cadangan emas.
“Beberapa negara yang berhadapan dengan Amerika Serikat mulai mengurangi ketergantungan pada dolar dan meningkatkan cadangan emas. Rusia, China, dan India termasuk di antaranya. Ini ikut mendorong harga emas naik,” jelasnya.
Efek Perhitungan Tarif Listrik
Selain emas, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga mencatat kenaikan tinggi, yakni 16,19 persen.
Namun Tito menilai angka tersebut muncul karena perbedaan metode perhitungan. Pada Februari 2025, pemerintah memberikan subsidi listrik kepada pelanggan dengan daya 2.200 watt ke bawah.
Program subsidi tersebut menjangkau sekitar 20 juta pelanggan dan membuat inflasi listrik tahun lalu sangat rendah.
Ketika BPS membandingkan harga Februari 2026 dengan Februari 2025, perbedaan tersebut terlihat seperti lonjakan harga yang besar.
“Padahal sebenarnya tarif listrik relatif stabil. Angka tinggi itu muncul karena efek perbandingan dengan tahun lalu saat ada subsidi,” kata Tito.
Karena itu, ia meminta BPS meninjau kembali metodologi penghitungan inflasi agar lebih mencerminkan kondisi harga barang dan jasa secara aktual.
“Kalau komponen listrik tidak dihitung, inflasi kita sebenarnya sekitar 2,5 persen,” ujarnya.
Harga Ayam Ras dan Cabai Juga Naik
Tito juga menyoroti kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencapai 1,54 persen.
Komoditas yang paling berkontribusi adalah daging ayam ras. Ia menduga kenaikan harga terjadi di tingkat distribusi.
Menurutnya, harga di tingkat peternak relatif stabil. Namun harga meningkat setelah komoditas tersebut masuk ke rantai distribusi.
“Ada kemungkinan permainan di tingkat middleman. Peternak tidak menaikkan harga, tetapi harga naik ketika masuk ke pedagang perantara,” jelasnya.
Selain ayam, cabai rawit juga mengalami kenaikan harga di sejumlah daerah. Meski demikian, Tito menilai komoditas tersebut masih bisa diatasi melalui gerakan tanam cabai.
Beberapa daerah telah menjalankan program tersebut, seperti Surabaya dan Makassar, sehingga mampu memenuhi kebutuhan cabai secara mandiri.
Masalah Distribusi di Daerah
Tito juga menyoroti persoalan distribusi cabai di Aceh. Daerah dataran tinggi seperti Gayo memiliki produksi cabai melimpah. Namun harga cabai di wilayah dataran rendah seperti Lhokseumawe dan Tamiang justru tinggi.
Hal itu terjadi karena rantai distribusi yang tidak efisien. Cabai dari Gayo terlebih dahulu dijual ke Medan, lalu kembali didistribusikan ke daerah lain di Aceh.
“Akibatnya harga menjadi lebih mahal karena jalur distribusinya panjang,” kata Tito.
Ia meminta pemerintah daerah memperbaiki sistem distribusi pangan agar harga tetap stabil dan inflasi dapat dikendalikan.





