Channel9.id – Jakarta. Pemerintah Irak menghentikan operasi di pelabuhan minyak setelah dua kapal tanker asing diserang di perairan negara tersebut. Insiden ini berada tepat di kawasan perairan sekitar pelabuhan Al Faw.
Direktur Jenderal Perusahaan Umum Pelabuhan Irak, Farhan Al Fartousi, menyampaikan keputusan penghentian operasi itu pada Rabu (12/3/2026).
“Sebuah kapal milik Perusahaan Pelabuhan Irak menyelamatkan 25 awak kapal dari kedua kapal tersebut, dan api masih berkobar di kedua kapal,” kata Al Fartousi, dikutip dari Al Jazeera.
Serangan terjadi setelah dua kapal tanker asing terbakar akibat hantaman proyektil di perairan Irak. Kapal yang terdampak diketahui berbendera Kepulauan Marshall dan Malta.
Insiden tersebut menyebabkan satu awak kapal tewas, sementara tim penyelamat Irak masih melakukan pencarian terhadap kru yang terdampak.
Pemerintah Irak juga menyampaikan kekhawatiran terkait keamanan jalur pelayaran internasional.
“Keamanan dan keselamatan navigasi di jalur maritim internasional dan jalur pasokan energi harus tetap terpisah dari konflik dan persaingan regional,” demikian rilis Kementerian Perminyakan Irak, dikutip dari Al Jazeera.
Sejumlah pejabat Irak menggambarkan serangan terhadap dua kapal tanker tersebut sebagai tindakan sabotase. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Ketegangan regional meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel serta aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Iran juga menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia. Selain itu, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa setiap kapal yang melintasi selat tersebut dapat menjadi sasaran serangan.
HT





