Opini

Iran di Antara Pedang dan Puisi

Oleh: Sapri Sale

Channel9.id – Jakarta. Dalam pusaran konflik yang melanda Timur Tengah saat ini, Iran sering digambarkan semata-mata sebagai aktor negara, rezim, kekuatan militer, atau poros perlawanan. Namun, untuk memahami posisi Iran secara utuh—terutama dalam perspektif bahasa Persia (Farsi)—kita harus melihat lebih dalam dari sekadar peta geopolitik atau keseimbangan kekuatan di wilayah Timur Tengah. Kita harus melihat sejarah yang telah membentuk DNA dan jiwanya, sebuah sejarah yang dengan fasih diceritakan dalam artikel ilmiyah “Bagaimana Bahasa Persia Bertahan dari Setiap Kekaisaran yang Mencoba Menggantikannya”.

Di tengah gema suara-suara asing yang berusaha mendefinisikan kembali kawasan ini, Iran berdiri dengan sebuah keyakinan kuno: bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada pedang, senjata, kekuatan militer, tetapi pada kemampuan untuk mengubah para penakluk menjadi pecinta puisinya. Posisi Iran dalam perang saat ini adalah posisi dari sebuah peradaban yang telah ribuan tahun belajar bahwa ia akan bertahan, bukan dengan menjadi seperti musuhnya, tetapi dengan menjadi begitu tak tergantikan sehingga musuh pun pada akhirnya membutuhkannya.

Warisan Penaklukan: Dari Iskandar Agung, Pasukan Mongol hingga Bangsa Arab

Seperti yang diuraikan dalam banyak buku, bangsa Persia telah mengalami segalanya. Alexander Agung manaklukan dan membumi hanguskan Ibu Kota Persepolis, pusat Kekaisaran Akhemeniyah, dan memaksakan bahasa Yunani sebagai bahasa prestise. Namun, bahasa Persia tidak mati. Ia mundur ke dalam rumah-rumah, ke dalam bisikan para ibu kepada anak-anak mereka, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali.

Kemudian penaklukan Arab. Bahasa Arab datang bukan hanya sebagai bahasa penguasa baru, tetapi sebagai bahasa Tuhan. Selama dua abad, bahasa Persia nyaris terhapus dari ranah sastra dan administrasi. Namun, seperti yang dikisahkan dalam cerita-cerita, “bahasa Arab tidak dapat menjangkau ke dalam rumah-rumah.” Ketika Dinasti Samaniyah memutuskan untuk menghidupkan kembali bahasa Persia, dan Ferdowsi menghabiskan 30 tahun menulis Shahnameh (Kitab Para Raja) dengan kosakata Arab seminimal mungkin, bahasa itu bangkit kembali—diubah, tetapi tetap Persia.

Pelajaran dari masa lalu ini membentuk cara Iran memandang konflik saat ini. Mereka telah melihat kerajaan-kerajaan besar datang dan pergi: Yunani, Arab, Mongol, Inggris dan Uni Soviet. Setiap kali, mereka belajar bahwa kekuasaan militer bersifat sementara, tetapi kekuatan budaya adalah abadi.

Paradoks Mongol: Ketika Penghancur Menjadi Pemuja

Bagian paling mencengangkan dari sejarah Persia, yang menjadi kunci untuk memahami posisi Iran saat ini, adalah kisah invasi Mongol. Pada tahun 1219, Jenghis Khan dan pasukannya melakukan salah satu pembantaian paling dahsyat dalam sejarah. Kota-kota seperti Nishapur dan Merv—pusat peradaban—dihapus dari peta, sungai dialihkan untuk menggenangi reruntuhan, dan jutaan orang tewas. Persia secara fisik hampir dimusnahkan.
Namun, dalam dua generasi, istana-istana Mongol, yang dikenal sebagai Ilkhanat, sudah berbisnis dan memerintah dalam bahasa Persia, talih alim justru mengadopsi agama Islam sekaligus dengan budaya Persia. Mereka memesan puisi Persia dan menjadi pelindung seni dan sastra Persia. Para penakluk yang paling ditakuti itu pada akhirnya menyerah secara budaya. Mereka menyadari bahwa untuk mengelola sebuah peradaban yang kompleks dan untuk mendapatkan legitimasi, mereka membutuhkan bahasa Persia. Seperti yang dikatakan dalam satu artikel, “Bahasa Persia bukanlah bahasa kaum yang ditaklukkan. Ia menjadi bahasa yang digunakan oleh para penakluk untuk membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar penakluk.”

Dalam konteks geopolitik saat ini, Iran memproyeksikan kekuatan dengan mentalitas yang sama. Mereka tidak berusaha menjadi versi lain dari Barat atau kekuatan lain. Mereka memposisikan diri sebagai pusat peradaban yang begitu berpengaruh sehingga lawan-lawannya, pada akhirnya, harus memperhitungkannya. Ini adalah strategi bertahan hidup yang telah terbukti selama ribuan tahun: menjadi sangat esensial sehingga Anda tidak bisa diabaikan.

Bahasa Persia sebagai Simbol Perlawanan

Dalam konflik saat ini, baik secara regional maupun dalam narasi global, Iran memainkan kartu “peradaban” dan “identitas” dengan sangat cerdik. Ketika tekanan modern datang pada abad ke-19 dan ke-20—dari ekspansi Inggris dan Rusia, dari sekularisasi paksa ala Ataturk yang membersihkan bahasa Turki dari pengaruh Persia, hingga upaya Uni Soviet yang memisahkan bahasa Persia Tajik dari akarnya—Iran (dahulu Persia) kita belajar satu hal: identitas linguistik adalah benteng terakhir.

Saat ini, Iran adalah jantung dari 110 juta penutur bahasa Persia yang tersebar di Iran, Afghanistan, dan Tajikistan. Seorang penutur di Teheran dapat berkomunikasi dengan mudah dengan seorang penutur di Kabul, meskipus politik modern berusaha memisahkan mereka dengan nama-nama seperti Bahasa Dari dan Tajik. Dalam perang proksi dan ketegangan regional, Iran menggunakan ikatan budaya ini sebagai jembatan kekuatan lunak (soft power). Mereka tidak hanya menawarkan dukungan militer kepada sekutu di Lebanon, Suriah, atau Yaman, tetapi juga menawarkan akses ke sebuah jaringan peradaban yang lebih besar, yang akar sejarahnya melampaui batas-batas negara modern.

Tiga Pilar Ketahanan: Puisi, Fleksibilitas, dan Prestise

Mengapa posisi Iran terasa begitu kokoh meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan militer yang luar biasa? Karena mereka berdiri di atas tiga pilar yang sama yang membuat bahasa mereka bertahan, seperti yang diuraikan dalam buku-buku:

Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia yang karya-karyanya yang terkumpul dianggap oleh banyak orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya sering ditemukan di rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari. Kehidupan dan puisi-puisinya telah menjadi objek banyak analisis, komentar, dan interpretasi, serta memengaruhi penulisan Persia setelah abad ke-14 lebih daripada penulis Persia lainnya.
Hafez paling dikenal melalui Divān-nya, yaitu kumpulan puisi-puisinya yang masih tersisa dan kemungkinan disusun setelah wafatnya. Karya-karyanya dapat digambarkan sebagai “antinomian” dan, dalam penggunaan istilah abad pertengahan, bersifat “teosofis”; istilah “teosofi” pada abad ke-13 dan ke-14 digunakan untuk merujuk pada karya-karya mistik oleh “penulis yang hanya terinspirasi oleh kitab-kitab suci Islam” (berbeda dengan teologi). Hafez terutama menulis dalam genre sastra puisi lirik atau ghazal, yang merupakan gaya ideal untuk mengekspresikan ekstase inspirasi ilahi dalam bentuk mistik puisi cinta. Ia adalah seorang sufi.

Pertama adalah Puisi (Tradisi Sastra): Iran memiliki banyak pujangga sepeti Sa’di Shirazi (c. 1210–1291/1292) adalah penyair dan moralis Persia terkemuka dari abad pertengahan, yang dikenal sebagai salah satu guru sastra klasik terbesar dengan julukan “Ostâd-e Soxan” (Sang Ahli Kata). Karya utamanya, Bustan (Kebun Buah) dan Gulistan (Taman Mawar), menggabungkan prosa dan puisi yang kaya akan nilai moral, kebijaksanaan, dan kisah-kisah perjalanan, Hafez Shirazi (1325–1390) adalah seorang penyair lirik Persia yang karya-karyanya yang terkumpul dianggap oleh mayoritas orang Iran sebagai salah satu puncak tertinggi sastra Persia. Karya-karyanya ditemukan hampir di semua rumah-rumah penutur bahasa Persia, yang menghafal puisi-puisinya dan menggunakannya sebagai peribahasa serta ungkapan sehari-hari. Kehidupan dan puisi-puisinya telah menjadi objek banyak analisis, komentar, dan interpretasi, serta memengaruhi penulisan Persia setelah abad ke-14 lebih daripada penulis Persia lainnya. Belum lagi Shahnameh-nya Ferdowsi kitab para raja. 50.000 baris puisi epik, seluruh rentang mitologis dan historis Persia dari penciptaan dunia hingga penaklukan Arab. dan mistisismenya Rumi. Ini bukan sekadar sastra; ini adalah DNA kebangsaan. Selama masa-masa tersulit, seperti saat invasi Mongol atau krisis modern, rakyat Iran kembali ke puisi. Seorang pemimpin Iran tahu bahwa ia tidak hanya mewarisi sebuah negara, tetapi sebuah peradaban yang telah merebut “waktu” melalui kata-kata. “Pasukan merebut wilayah. Penyair merebut waktu.”

Kedua adalah Fleksibilitas: Sejarah menunjukkan bahwa bahasa Persia adalah bahasa yang luar biasa fleksibel. Ia menyerap kosakata Arab, Turki, dan Mongol tanpa kehilangan struktur tata bahasanya yang khas. Dalam diplomasi dan politik luar negeri, Iran menunjukkan fleksibilitas yang mirip. Mereka mampu bernegosiasi dengan kekuatan Barat, menjalin aliansi dengan negara-negara non-Arab dan non-Persia seperti Rusia dan Tiongkok, namun tetap mempertahankan inti ideologis revolusi dan identitas nasional mereka. Mereka beradaptasi, tetapi tidak kehilangan jati diri.

Dan ke tiga adalah Prestise Kultural: Inilah senjata paling ampuh Iran. Ketika negara-negara tetangga atau bahkan kekuatan global berhadapan dengan Iran, mereka berhadapan dengan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rezim. Mereka berhadapan dengan “gagasan tentang kecanggihan, tentang kehalusan, tentang peradaban.” Sepanjang sejarah, para penakluk mengadopsi bahasa Persia untuk menaikkan status mereka sendiri. Dalam dunia modern, Iran menggunakan warisan ini untuk memproyeksikan citra bahwa meskipun dilanda sanksi dan tekanan, mereka adalah pewaris peradaban agung yang tidak bisa direduksi menjadi sekadar angka-angka ekonomi atau kekuatan militer belaka.

Di Atas Reruntuhan, Puisi Tetap Bersuara

Posisi Iran dalam perang saat ini bukanlah posisi seorang prajurit yang sekadar berperang di medan laga, tetapi posisi sebuah peradaban yang bermain dalam jangka waktu yang sangat panjang. Konflik hari ini, dengan segala dinamikanya, akan berlalu. Kekaisaran demi kekaisaran akan berganti.

Namun, seperti yang diajarkan sejarah, tidak ada yang bisa membakar sebuah puisi dari ingatan sebuah peradaban. Anda dapat mengalihkan sungai ke atas reruntuhan kota, seperti yang dilakukan bangsa Mongol, tetapi Anda tidak bisa menghentikan seorang anak di Teheran, Isfahan, atau Kabul untuk melantunkan syair Hafez. Iran bertahan karena mereka memahami bahwa bahasa, budaya, dan identitas adalah benteng yang tak tertembus oleh rudal atau sanksi.

Dalam pusaran ketidakpastian Timur Tengah saat ini, Iran berdiri dengan tenang, bukan karena tidak memiliki musuh, tetapi karena ia telah melihat begitu banyak musuh datang dan pergi. Pada akhirnya, mereka yang datang dengan pedang dan senjata akan pergi, tetapi mereka yang datang untuk memahami puisi akan tinggal. Itulah posisi Iran: sebuah negeri yang telah mengajarkan dunia bahwa kekuatan paling abadi yang dapat dimiliki sebuah bangsa bukanlah politik, melainkan budaya.

Penulis adalah pengajar tiga bahasa semitik, Arab, Ibrani dan Suryani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  54  =  64