Opini

Karma Pemecatan di Tubuh NU

Oleh: Kiyai Jamaluddin Mohammad (Alumni Pesantren Lirboyo dan Pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon)

Channel9.id, Jakarta. Sebagai Ormas yang memiliki basis kultur yang kuat dan mengakar, Jamiyyah NU selalu mengedepankan kekeluargaan, pertemanan, kearifan lokal, dan hikmat kebijaksanaan. Ini sangat terasa pada saat kepemimpinan PBNU dipegang oleh KH. Said Aqil Siradj, KH. Hasyim Muzadi, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), juga pimpinan NU sebelum-sebelumnya. Mereka adalah para pemimpin yang lahir dari tradisi keilmuan, kebijaksanaan, dan ketokohan yang kuat.

Namun, sayang sekali, saat ketua umum PBNU dipegang KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), agaknya kebijaksanaan mulai terkoyak dan kekeluargaan semakin tercabik-cabik oleh arogansi kuasa. Semoga dugaan saya keliru.

Saya menyaksikan fenomena pecat-memecat seolah menjadi pemandangan yang lazim mencolok mata. Sebagaimana nasib yang dialami teman-teman muda NU yang tergabung dalam Rahim untuk Perdamaian. Mereka difitnah mengirim 5 Nahdliyyin ke Israel. Tindakan tersebut sama halnya membunuh generasi-generasi potensial NU masa depan. Sikap gegabah seolah tidak mau ada regenerasi penerus yang cemerlang dan gemilang. Entah bagaimana jika Gus Dur melihat “pemutusan” generasi ini.

Regenerasi sudah pernah dicontohkan oleh para pendahulu NU dengan sangat baik. Semisal Gus Dur. Gus Dur melakukan regenerasi dan kaderisasi dengan sangat baik. Gus Dur merekrut dan mengayomi para generasi cemerlang NU yang dikemudian hari menjadi tokoh-tokoh nasional yang mewarnai dan menentukan arah pemikiran Islam Indonesia, seperti KH. Said Aqil Siradj yang diberikan fasilitas rumah oleh Gus Dur di Ciganjur agar berkiprah dan mengembangkan NU di Jakarta, KH. Masdar Farid Masudi, KH. Imam Aziz, KH. Zastrow al-Ngatawi, KH. Jadul Maula, Gus Abdul Muhaimin, Gus Sapullah Yusuf (Gus Ipul), Prof. Dr. Mahfudz MD., AS. Hikam, dan masih banyak yang lain. Regenerasi yang sangat sukses. Gus Dur bagaikan lautan yang bisa menampung keragaman dan keberagamaan dari generasi penerusnya. Gus Dur akan memaklumi kekeliruan atau kontroversial dari kader-kadernya, tanpa harus membunuh citranya, bahkan Gus Dur mempromosikan semuanya ke panggung nasional hingga meninggalkan legacy Jaringan Gusdurian.

Tampaknya Gus Yahya tak sanggup merawat generasi penerus yang potensial dengan berbagai kelebihannya masing-masing. Alih-alih dirawat dan diberikan saluran sesuai potensinya, Gus Yahya malah menghabisi karir bintang gemintang muda NU itu di depan publik.

Contohnya, sahabat karib dan teman diskusi saya KH. Mukti Ali Qusyairi, kader potensial dan penulis produktif, mursyid tarekat dan ahli bahtsul masail Kiyai Asnawi Ridwan, dan Kiyai Roland Gunawan, seorang penulis dan editor nasional. Setelah saya tanya dari hati ke hati, mereka bertiga ternyata tidak tahu menahu soal keberangkatan 5 Nahdliyyin ke Isarel. Tanpa diberikan kesempatan untuk tabayyun mereka langsung dipecat dari LBM PWNU DKI Jakarta. Mereka difitnah memberangkatkan 5 Nahdliyyin ke Israel atas izin dari LBM PWNU DKI Jakarta dan Rahim untuk Perdamaian. Karir intelektual mereka terganggu akibat kejadian ini. Butuh pemutihan citra publik kembali.

5 Nahdliyyin yang bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog ialah Zainal Maarif (saat itu dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, UNUSIA), Munawir Aziz (Sekjen Pagar Nusa PBNU), Syukron Makmun (pengurus PWNU Banten), Nurul Bahrul Ulum dan Izza Annafisah Dania (aktivis Fatayat NU).

Saya menyimak dengan seksama pidato Zainul Maarif di Israel. Dari mulutnya tidak ada satu kata pun tentanng LBM PWNU DKI Jakarta atau Rahim untuk Perdamaian. Ia hanya menyebut identitasnya sebagai dosen kampus NU, meneruskan warisan Gus Dur, dan mengenalkan NU sebagai organisasi terbesar yang moderat. Saya kutipkan di sini pidato Zainul Maarif:

“Pejabat dan pimpinan program itrek (Israel Trek) yang saya cintai. Izinkan saya untuk memperkenalkan diri saya. Nama saya Zainul Maarif. Saya muslim. Saya dosen di salah satu universitas milik NU (Nahdlatul Ulama). Nahdlatul Ulama adalah organisasi muslim terbesar di Indonesia dan mungkin di dunia yang dikenal sebagai muslim moderat. Salah satu pemimpin kami, pemimpin besar kami adalah KH. Abdurrahman Wahid atau yang dikenal juga sebagai Gus Dur, presiden keempat Republik Indonesia, yang memiliki hubungan yang erat dengan Shimon Peres (PM Israel ke-81), dengan Yahudi.

Jadi beberapa di antara kami, saya adalah salah satu muslim yang menjadi peserta program ini. Semua muslim (yang ikut) juga dari Nahdlatul Ulama. Jadi kami adalah generasi ketiga dari Nahdlatul Ulama yang akan melanjutkan warisan dari Gus Dur, menguatkan dialog antar umat beragama, hubungan dengan Yahudi, Kristen, Muslim, dan agama apapun yang eksis di dunia ini.”

Sangat jelas dalam pidato Zainul Maarif yang diunggah di medsos tidak menyebut Rahim dan LBM PWNU DKI Jakarta. LBM PWNU DKI Jakarta dan Rahim justeru keluar dari mulut Gus Yahya. Akhirnya terjadilah pembunuhan karakter bahkan teror pribadi yang berujung pada pemecatan. Sedangkan lembaga yang jelas-jelas disebutkan oleh Zainul Maarif dalam pidatonya di Israel yaitu Kampus UNUSIA tidak ada satupun pejabatnya yang dipecat.

Belakangan, KH. Said Aqil Siradj dalam acara kyai sepuh di Tebuireng Jombang, menyatakan bahwa Gus Yahya yang mengirim 5 orang ke Israel itu. Mungkin kita bertanya, apa kaitannya antara Gus Yahya yang disebut Kiyai Said Aqil dengan Kampus NU yang disebut Zainul Maarif dalam pidatonya?

PBNU saat diketuai Gus Yahya seolah kehilangan kearifan dan kebijaksanaan dalam merawat generasi-generasi NU potensial. Kebijaksanaan bak gunung meletus yang laharnya membakar apa saja yang ada di sekelilingnya. Padahal, ketika Gus Yahya menduduki jabatan Katib Am PBNU pernah berkunjung ke Israel dan bertemu dengan Benjamin Netanyahu, KH. Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU dan KH. Ma’ruf Amin sebagai Rois Am menyikapinya dengan arif dan bijaksana. Tidak Ada drama pemecatan.

Sebagaimana Kiyai Said Aqil Siradj memaklumi gerakan NU Garis Lurus (GL) Kiyai Idrus Romli dkk.. Malahan Kiyai Said dengan asyik berdiskusi dan berdebat dengan Kiyai Idrus Romli dan kubu GL. Ada cerita kalau salah seorang Kiyai pernah menyampaikan keresahannya tentang NU GL kepada Kiyai Said Aqil. Respons Kiyai Said Aqil sangat bijaksana dengan mengatakan bahwa mereka adalah para tokoh muda NU yang potensial yang harus diberi tempat selagi ilmiyah dan argumentatif.

Para kader tua seharusnya punya rasa tanggungjawab untuk memberi ruang kiprah baik intelektual maupun organisasi. Jika ada kekeliruan maka disikap secara arif dan bijaksana. Generasi muda adalah kader penerus, bukan saingan atau halangan.

Sikap keras Gus Yahya ternyata berbuah karma. Rois Am dan Suriyah PBNU memecat Gus Yahya karena dituduh melakukan pelanggaran yang sama bahkan boleh jadi lebih parah yaitu mengundang tokoh garda depan zionisme Peter Berkowitz untuk mengkader para kiyai di acara Akademi Kepemimpinan AK-NU PBNU. Mungkin hikmah dari pemecatan ini agar Gus Yahya juga instrospeksi dan merasakan sendiri bagaimana rasanya dipecat dari organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1  +  2  =