Opini

Kosta Rika vs Sumatera Barat: Tanah yang Sama-Sama Subur, Jalan yang Berbeda

Oleh: Akmal Yusmar

Channel9.id-Jakarta. Jika kesuksesan kopi Kosta Rika lahir dari kebijakan dan keberanian mengambil keputusan, maka Sumatera Barat justru menyimpan paradoks besar dalam sejarah kopi Indonesia. Secara alamiah, Sumatera Barat memiliki hampir semua prasyarat untuk melahirkan kopi kelas dunia.

Wilayah ini berada tepat di garis khatulistiwa, memiliki banyak gunung berapi aktif dan nonaktif, tanah vulkanik yang subur, serta ketinggian ideal untuk kopi Arabika. Bahkan, Sumatera Barat dianugerahi keistimewaan panen dua kali dalam setahun, sebuah keunggulan yang jarang dimiliki daerah penghasil kopi lain.

Indonesia ditakdirkan berada di jalur Sabuk Kopi Dunia atau The Coffee Belt, terutama wilayah Sumatera Barat. Sabuk kopi ini membentang disepanjang garis Khatulistiwa, yakni berada di 25 Lintang Uatara dan 30 Lintang Selatan.

Sabuk kopi adalah tempat hampir semua kopi arabika tumbuh. Melingkari planet bumi yang membentang dari Amerika Tengah hingga Papua Nugini dan Australia di Samudra Pasifik. Menciptakan aksesori paling bergaya yang pernah ada dan menjadi rumah yang sempurna untuk tumbuhnya tanaman kopi arabika .

Sekitar 70 negara terletak di sepanjang sabuk kopi, tetapi tidak semuanya ideal untuk budidaya kopi. Dari 70 negara tersebut, hanya 40 negara saja yang memenuhi kriteria sebagai negara sabuk kopi. Karena negara ini memiliki iklim yang disukai tanaman kopi, dan mampu menghasilkan kopi dalam jumlah besar.

Namun pertanyaannya mengemuka:
mengapa hingga kini Sumatera Barat belum melahirkan varietas kopi unggulan yang benar-benar di akui dunia sebagai “kopi lahir dari tanah Minangkabau”?

Padahal sejarah telah memberi petunjuk penting. Tahun 1908, dalam skripsi doktor W.K Huitema dari University Wegeningen, Belanda. menulis tentang keberadaan Kopi Minang sebagai penyumbang bibit kopi yang saat ini tumbuh danberkembang di tanah Gayo.

Huitema menulis bahwa saat itu Gubernur Letnan Sipil di Takengon diperintahkan untuk menanam Bibit Kopi Arabika dari Padangsche Bovenlanden atau tanah Minang

Dari bibit inilah kemudian berkembang kawasan kopi yang hari ini dikenal dunia, Tanah Gayo, yang menjadikan Aceh sebagai pusat kopi terbaik Indonesia hingga sekarang.

Ironisnya, tanah asal bibit tersebut justru tertinggal dalam pengembangan varietas dan branding kopi. Bukan karena alam yang kalah, melainkan karena ketiadaan visi kolektif.

Berbeda dengan Kosta Rika yang secara sadar memilih jalan kualitas, bahkan berani melarang Robusta demi menjaga standar.

Pada tahun 1989, Pemerintah Kosta Rika mengesahkan undang-undang yang melarang penanaman Varietas Kopi Robusta yang mereka anggap adalah kopi berkualitas rendah, dan hanya boleh menanam kopi Varietas Arabika, yang merupakan kopi berkualitas tertinggi. Hal ini memastikan bahwa setiap biji kopi yang diproduksi memenuhi standar ketat negara tersebut.

Sumatera Barat belum memiliki kebijakan kopi yang tegas dan berjangka panjang. Kopi masih dipandang sebagai komoditas biasa, bukan sebagai identitas daerah dan kekuatan ekonomi strategis.

Yang lebih disayangkan, peran pemerintah daerah, kampus, dan penggiat kopi belum terhubung dalam satu ekosistem riset dan inovasi. Kampus jarang didorong menjadi pusat pemuliaan varietas lokal, pemerintah belum menghadirkan regulasi mutu dan perlindungan petani, sementara penggiat kopi berjalan sendiri tanpa payung kebijakan yang kuat.

Padahal, seperti Kosta Rika, Sumatera Barat seharusnya bisa:

  • Melahirkan varietas kopi khas Minangkabau berbasis riset lokal
  • Menetapkan standar kualitas dan pascapanen yang jelas
  • Mengangkat petani sebagai aktor utama, bukan hanya pemasok bahan mentah
  • Menjadikan kopi sebagai narasi kebanggaan budaya dan ekonomi daerah

Tanah terbaik seharusnya melahirkan varietas terbaik.
Jika hingga kini belum terjadi, maka masalahnya bukan pada alam, melainkan pada kemauan bersama untuk memilih jalan kualitas.

Berkaca dari Kosta Rika membuktikan: negara kecil bisa besar karena kopi.
Sumatera Barat memiliki modal alam dan sejarah, yang kini menunggu keberanian untuk sandaran masa depan.

*Ketua Umum Asosiasi Kopi Minang

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

89  +    =  90