Channel9.id, Jakarta — Peningkatan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela makin dibaca sebagai bagian dari strategi persaingan energi global, bukan semata-mata perubahan rezim di Caracas. Sejumlah analis geopolitik menilai langkah militer AS di wilayah itu merupakan upaya untuk menutup ruang pengaruh China dalam akses energi dunia.
Jurnalis investigasi Amerika Serikat, Seymour Hersh, dalam laporannya menulis bahwa faktor minyak menjadi motor utama operasi AS terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Hersh berpendapat, hubungan energi Venezuela–China membuat Caracas menjadi target strategis di tengah rivalitas ekonomi antara Washington dan Beijing.
Menurut Hersh, Venezuela menyediakan pasokan minyak mentah berat dengan harga kompetitif untuk China, sehingga menjadi salah satu simpul penting dalam rantai pasok energi yang menopang pertumbuhan industri Tiongkok.
“Tujuan utama Presiden AS Donald Trump adalah memutus China, saingan ekonomi Amerika, dari pembelian minyak mentah berat murah Venezuela yang berkelanjutan,” tulis Hersh.
Posisi Venezuela dalam geopolitik energi global cukup signifikan. Negara tersebut memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, melebihi Arab Saudi. Di saat yang sama, China membutuhkan pasokan minyak jangka panjang untuk menjaga stabilitas industrialnya.
Keterlibatan Beijing dalam pembangunan infrastruktur energi di Venezuela melalui investasi, pinjaman, serta perjanjian ekspor minyak membuat negara Amerika Selatan itu masuk dalam radar persaingan strategis AS.
Di Washington, sejumlah pejabat menyampaikan pandangan terbuka bahwa penguasaan cadangan energi oleh negara yang dianggap “musuh” akan merugikan kepentingan nasional AS.
Stephen Miller, Wakil Kepala Staf Gedung Putih, dalam wawancaranya menyebut, “Tidak masuk akal jika sebuah negara di halaman belakang kita memasok sumber daya ke musuh kita, tetapi tidak ke kita.”
Pernyataan itu sejalan dengan komentar Duta Besar AS untuk PBB, Michael Waltz, yang menilai cadangan energi Venezuela sebagai aset strategis yang tidak boleh jatuh ke tangan rival geopolitik.
Selain operasi militer, Washington juga menggunakan tekanan diplomatik untuk menekan Caracas. Laporan ABC News menyebut bahwa AS meminta Venezuela memutus hubungan ekonomi dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba untuk kemudian bermitra eksklusif dengan AS dalam produksi dan penjualan minyak.
Di level global, langkah Washington memicu kritik keras dari Rusia dan sejumlah negara anggota BRICS yang menilai operasi itu sebagai pelanggaran hukum internasional serta ancaman terhadap prinsip kedaulatan.
Dampaknya bagi Konstelasi Geopolitik
Dari sudut pandang geopolitik, operasi AS terhadap Venezuela menambah babak baru dalam persaingan energi global yang melibatkan tiga pusat kekuatan utama: AS, China, dan Rusia. Venezuela sendiri berada di tengah tarikan kepentingan energi, diplomasi, dan militer.
Apabila Washington berhasil menggeser pengaruh Beijing dari Caracas, AS tidak hanya meraih posisi dominan atas cadangan minyak Venezuela, namun juga menekan akses energi alternatif China di belahan dunia Barat.
Situasi ini juga menguatkan dugaan bahwa kebijakan luar negeri AS di Amerika Latin kembali mengadopsi pendekatan Doktrin Monroe — yakni mempertahankan Amerika sebagai “halaman belakang” politik dan ekonomi Washington — namun kini dengan konteks perang energi dan persaingan teknologi global.
Meski masih menuai kontroversi, dinamika ini memperlihatkan bahwa operasi di Venezuela tidak bisa dipahami sekadar sebagai konflik domestik atau pergantian rezim. Pada level strategis, Venezuela menjadi arena pertarungan energi, investasi, dan pengaruh geopolitik di era transisi multipolar.
Dalam lanskap yang lebih luas, energi kembali menjadi instrumen utama perebutan hegemoni global — dan Venezuela, dengan cadangan minyak raksasa dan poros diplomatik yang tidak konvensional, berada tepat di titik temu persaingan itu.





