oleh: ReO Fiksiwan*
Channel9.id-Jakarta. “Melalui uang, demokrasi menjadi penghancur dirinya sendiri, setelah uang menghancurkan intelek.” — Oswald Spengler(1880-1936), Der Untergang des Abendlandes (Vol.1 1918; Vol.2 1922).
Apakah perang Iran versus Amerika dan Israel bisa dibaca sebagai tanda awal keruntuhan dominasi Barat?
Pertanyaan ini tidak sekadar spekulasi, melainkan bagian dari analisis prediktif yang berangkat dari karya terbaru Emmanuel Todd(71), La Défaite de l’Occident(2024).
Todd, seorang sejarawan, antropolog, demografer, sosiolog, dan ilmuwan politik asal Prancis, dikenal luas karena keberaniannya membaca gejala besar dari data kecil.
Ia pernah dianggap “absurd” ketika memprediksi runtuhnya Uni Soviet pada akhir 1970-an hanya dari angka kematian bayi dan penurunan kelahiran. Namun sejarah membuktikan bahwa prediksinya tepat.
Dalam La Défaite de l’Occident(2024), Todd kembali menggunakan metode yang sama: membaca keretakan besar melalui indikator sosial yang sering diremehkan.
Ia menunjukkan bahwa Amerika Serikat, sebagai tulang punggung Barat, mengalami kemunduran serius dalam industri, pendidikan teknik, dan kohesi sosial. Produksi insinyur, mobil, bahkan gandum menurun dibanding dekade 1980-an.
Sebaliknya, Rusia yang dicitrakan sebagai negara gagal justru memperlihatkan perbaikan dalam indikator sosial dasar: angka bunuh diri dan pembunuhan menurun, alkoholisme ditekan, dan angka kematian bayi kini lebih rendah dibanding AS.
Todd tidak menyanjung Rusia, tetapi ia mengajukan pertanyaan yang mengguncang narasi dominan: jika Barat masih dianggap lebih maju, mengapa indikator paling elementer justru menunjukkan sebaliknya?
Kritik Todd terhadap fetisisme Barat pada PDB juga relevan. Perang Ukraina membuka tabir bahwa PDB raksasa negara-negara NATO tidak otomatis berarti kapasitas industri nyata.
Rusia dengan PDB lebih kecil mampu memproduksi senjata dalam jumlah besar dan bertahan dari sanksi, sementara Barat kesulitan memenuhi kebutuhan amunisi Ukraina.
Todd menyimpulkan bahwa ekonomi politik Barat mengalami disonansi antara angka dan realitas.
Pandangan ini sejalan dengan ekonom seperti Ha-Joon Chang(62), profesor di SOAS University of London, dan Jacques Sapir(71), direktur studi di École des Hautes Études en Sciences Sociales(EHESS) Paris, yang menyoroti deindustrialisasi prematur dan ketergantungan Barat pada sektor jasa serta finansialisasi.
Lebih jauh, Todd menyoroti krisis keluarga dan agama di Barat. Ia menyebut Barat telah mencapai “titik nol agama”, di mana Katolik dan Protestan kehilangan daya ikat sosial.
Nilai-nilai yang dulu menopang etos kerja, pendidikan, dan disiplin sosial ikut runtuh. Barat, menurut Todd, kini lebih dekat pada nihilisme ketimbang inspirasi.
Model keluarga yang tercerai-berai dan krisis makna hidup membuatnya tidak lagi menjadi teladan bagi dunia non-Barat.
Krisis literasi di kalangan Gen Z Amerika memperkuat gambaran ini: mahasiswa kesulitan membaca teks sederhana, dosen menurunkan standar akademik, dan budaya “scanning” menggantikan membaca mendalam.
Ketergantungan pada ringkasan AI bukan sekadar soal teknologi, melainkan tanda melemahnya kapasitas berpikir kritis.
Apakah ini berarti Barat sudah runtuh? Todd tidak menyatakan demikian secara eksplisit.
Namun ia menegaskan bahwa Barat jelas tidak baik-baik saja. Keruntuhan peradaban jarang datang dari serangan luar semata, melainkan dari pembusukan internal.
Dalam konteks ini, perang Iran versus Amerika dan Israel bisa dibaca sebagai bagian dari gejala lebih besar: Barat yang semakin rapuh menghadapi dunia multipolar.
Todd mungkin terlalu gelap dan pesimistis, tetapi sejarah menunjukkan bahwa mengabaikan analisisnya adalah bentuk kesombongan intelektual.
Jika Barat menolak bercermin, maka “kekalahan” itu bukan lagi sekadar prediksi, melainkan proses yang sedang berlangsung pelan-pelan.
*Sastrawan dan Penulis Buku
Baca juga: Pastor Budayawan Itu Pergi





