Channel9.id, Tanjungpinang. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekankan pentingnya memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta memperluas pasar produk halal di daerah. Ia menilai kedua sektor tersebut berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memanfaatkan peluang pasar yang terus berkembang di tingkat nasional maupun global.
“UMKM memang menjadi tulang punggung utama sektor riil kita,” ujar Tito saat menutup Kepulauan Riau Ramadan Fair 2026 di halaman Gedung Dekranasda, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Minggu (8/3/2026).
Tito mencontohkan keberhasilan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam memulihkan ekonomi daerah. Ia menyebutkan ekonomi DIY tumbuh hingga 5,53 persen pada 2021 setelah sebelumnya hanya mencapai 0,68 persen pada masa pandemi 2020.
Menurutnya, sektor UMKM menopang pemulihan tersebut dengan kontribusi sekitar 79,6 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi kerajinan tangan yang sangat beragam dan termasuk terbesar di dunia. Pemerintah perlu memaksimalkan potensi tersebut agar mampu memberi nilai tambah bagi perekonomian.
Tito menilai masyarakat tidak boleh lagi memandang kerajinan lokal sekadar sebagai barang biasa, melainkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif yang memiliki daya saing global.
Indonesia Harus Kuasai Pasar Produk Halal
Dalam kesempatan itu, Tito juga menyoroti peluang besar pasar produk halal. Ia mengungkapkan bahwa produsen produk halal terbesar di dunia justru berasal dari negara yang bukan mayoritas muslim, seperti Tiongkok dan Brasil.
Ia menilai Indonesia harus mampu bersaing dan mengambil peran sebagai produsen utama, bukan hanya sebagai pasar.
“Ini ironis. Kita menjadi pasar bagi negara yang bukan mayoritas muslim, tetapi mereka justru memproduksi produk halal. Kenapa kita tidak bisa menguasai pasar tersebut?” ujarnya.
Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Kepri
Tito juga mengapresiasi kinerja ekonomi Provinsi Kepulauan Riau yang memanfaatkan kedekatan geografis dengan Singapura sebagai tujuan ekspor produk daerah.
Berdasarkan data yang dipaparkan, ekonomi Kepri tumbuh 7,89 persen secara year-on-year (y-o-y) pada triwulan IV 2025. Angka tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,39 persen.
Meski demikian, Tito mengingatkan pemerintah daerah agar tetap memperhatikan pemerataan ekonomi antara wilayah maju dan kawasan kepulauan terluar.
Tito juga mengapresiasi inovasi Bank Indonesia melalui sistem pembayaran digital QRIS. Menurutnya, pemerintah dapat mengembangkan sistem tersebut untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu caranya dengan membuat sistem daring yang memungkinkan pajak konsumen dari hotel dan restoran langsung masuk ke kas daerah.
“Kami sedang menyiapkan program agar sistem ini terhubung secara online. Jadi, ketika masyarakat membayar pajak di restoran, dana tersebut langsung masuk ke Dispenda,” jelasnya.
Dorong Ramadan Fair Digelar Rutin
Tito berharap Kepulauan Riau Ramadan Fair dapat terus digelar secara rutin setiap tahun. Ia menilai kegiatan tersebut mampu mendorong interaksi masyarakat sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi daerah.
“Acara seperti ini bisa menghadirkan kegembiraan bagi masyarakat dan menarik pengunjung dari luar daerah. Saya berharap kegiatan ini terus dilanjutkan,” pungkasnya.
Acara penutupan ini turut dihadiri Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti bersama jajaran kepala BPS se-Sumatera. Hadir pula Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad beserta Ketua TP PKK Provinsi Kepri, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri, serta Kepala OJK Provinsi Kepri. Selain itu, sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Kepri dan berbagai pemangku kepentingan lainnya juga turut menghadiri kegiatan tersebut.





