Nasional

Mengenang Juwono Sudarsono, Akademisi yang Menjadi Pilar Kebijakan Negara

Channel9.id, Jakarta. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Juwono Sudarsono, guru besar ilmu hubungan internasional Universitas Indonesia dan mantan Menteri Pertahanan, wafat pada Sabtu, 28 Maret 2026 pukul 13.45 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Kepergiannya menutup perjalanan panjang seorang intelektual yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia akademik dan pemerintahan. Keluarga merencanakan pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Jejak Akademik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) mencatat Juwono sebagai salah satu alumninya yang paling berpengaruh. Ia tidak hanya berkiprah di kampus, tetapi juga berperan besar dalam kebijakan nasional. Lima presiden Republik Indonesia mempercayainya mengemban berbagai jabatan strategis.

Juwono lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 5 Maret 1942. Ia merupakan putra bungsu dari Sudarsono, seorang diplomat yang pernah menjabat Menteri Sosial, Menteri Dalam Negeri, dan Duta Besar RI. Sejak kecil, ia tinggal di berbagai negara mengikuti penugasan ayahnya. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap dunia.

Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di FISIP UI pada 1965. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke University of California, Berkeley, dan meraih gelar doktor di London School of Economics dalam bidang hubungan internasional. Universitas Indonesia mengukuhkannya sebagai Guru Besar pada 1988.

Karier Pemerintahan

Juwono memulai karier sebagai dosen di Universitas Indonesia. Ia kemudian masuk ke birokrasi pada masa Soeharto sebagai Wakil Gubernur Lemhanas. Setelah itu, ia menjabat Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Pada era B. J. Habibie, ia menjabat Menteri Pendidikan Nasional. Di masa Abdurrahman Wahid, ia menjadi Menteri Pertahanan dan mencatat sejarah sebagai sipil pertama yang memimpin kementerian tersebut.

Pada era Megawati Soekarnoputri, ia menjabat Duta Besar RI untuk Inggris. Selanjutnya, Susilo Bambang Yudhoyono kembali menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan.

Warisan Pemikiran

Selama menjabat, Juwono mendorong reformasi TNI dan memperkuat kerja sama pertahanan regional. Ia juga aktif melobi untuk mengakhiri embargo senjata terhadap Indonesia. Ia memahami keterbatasan anggaran, tetapi tetap mendorong modernisasi militer.

Kepergian Juwono menjadi kehilangan besar bagi Indonesia. Ia menunjukkan bahwa seorang akademisi dapat berperan penting dalam kebijakan negara.

Selamat jalan, Prof. Juwono Sudarsono. Pemikiran dan pengabdianmu akan terus hidup dalam perjalanan bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

78  +    =  79