Channel9.id-Jakarta. Fenomena dunia entertainment Indonesia sekarang ini semakin banyak pertunjukan musikal digelar yang tentu memperkaya khasanah dalam industri pertunjukan Tanah Air. Kali ini, pertunjukan musikal berjudul ‘Bukan Cinta Galih/Ratna’ siap digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Pertunjukan ini mengusung cerita yang terinspirasi dari lagu-lagu karya Guruh Sukarno Putra dengan pendekatan baru yang menyasar generasi muda.
Sutradara sekaligus penulis naskah, Mikail Edwin Rizki menyampaikan musikal tersebut menawarkan reinterpretasi kisah Galih dan Ratna melalui sudut pandang Generasi Z dengan sentuhan komedi serta alur cerita yang mengejutkan.
“Di tengah tantangan menjaga relevansi kisah klasik, saya ingin menghadirkan cerita yang segar dengan memadukan lagu-lagu Guruh Sukarno Putra dan ide kreatif tim untuk menciptakan plot twist di tengah kisah cinta Galih dan Ratna,” ujar Mikail dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Lebih lanjut, Mikail menerangkan, bahwa lagu-lagu karya Guruh Sukarno Putra dipilih karena memiliki kekuatan naratif yang merekam potret kehidupan remaja dan dinamika sosial pada era 1980-an.
Menurut Mikail, karya-karya tersebut tak hanya menonjolkan romantisme, tetapi juga memuat semangat kebebasan, kegelisahan, serta ekspresi anak muda pada masanya.
“Lagu-lagu Guruh itu bukan sekadar lagu cinta. Di dalamnya ada cerita tentang pergaulan, mimpi, hingga kegelisahan remaja di zamannya. Materi itulah yang kami jadikan pijakan untuk mengembangkan konflik dan kejutan dalam musikal ini,” terangnya.
Mikail menyampaikan, lagu-lagu ikonik seperti ‘Galih dan Ratna’, ‘Puspa Indah’ serta ‘Gita Cinta’ menjadi benang merah emosi cerita, sementara kehidupan remaja masa itu terwakili oleh lagu ‘Keranjingan Disko’, ‘Anak Jalanan’ dan ‘Jenuh’.
Perlu diketahui, musikal ini diproduksi oleh Kinarya GSP bekerja sama dengan Sthana Pentas 6 dan dijadwalkan tampil dua kali, yakni pukul 15.30 WIB dan 19.30 WIB.
Sejumlah aktor lintas generasi dilibatkan untuk memperkuat kualitas pertunjukan.
Pada kesempatan sama, Produser Yessi Haryanda menyebut tingginya minat masyarakat terhadap seni pertunjukan, khususnya drama musikal, menjadi latar belakang produksi karya tersebut.
Ia berharap pementasan tersebut dapat menjadi jembatan antargenerasi melalui perpaduan romantisme klasik dan humor kontemporer yang ditampilkan dalam format musikal.
“Awalnya kami ingin mengangkat kisah remaja era 1980-an. Lagu-lagu Guruh Sukarno Putra dipilih karena sangat merepresentasikan suasana masa itu, namun kami kemas ulang dengan cerita berbeda yang penuh kejutan agar relevan dengan penonton masa kini,” kata Yessi Haryanda.
Kontributor: Akhmad Sekhu





