Ekbis

Pasar Ramadan Lhokseumawe Ramai, Tanda Ekonomi Mulai Bangkit Pascabencana

Channel9.id, Lhokseumawe. Keramaian warga yang ngabuburit dan berburu takjil di Lhokseumawe, Aceh, menjadi penanda bahwa kehidupan masyarakat mulai pulih setelah bencana yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.

Sekitar dua bulan setelah bencana, aktivitas warga perlahan kembali normal. Salah satu gambaran paling jelas terlihat di Pasar Ramadan yang digelar di pelataran Masjid Islamic Center Lhokseumawe.

Menjelang waktu berbuka, area halaman masjid dipenuhi masyarakat yang datang untuk menikmati suasana sore. Di bawah langit biru, warga duduk santai di atas tikar sambil menunggu azan Magrib. Anak-anak tampak bermain, sementara pengunjung lain sibuk memilih berbagai hidangan takjil.

Keramaian itu tidak lepas dari banyaknya makanan yang dijual pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beragam kuliner khas Aceh hingga makanan ringan Ramadan tersedia di deretan lapak pedagang.

Bagi para pedagang, Pasar Ramadan menjadi peluang untuk kembali menggerakkan usaha yang sempat terhenti akibat bencana. Muliza, pedagang timphan atau kue tradisional Aceh, mengaku bersyukur bisa kembali berjualan.

“Pasar ini sangat menguntungkan buat kami yang berdagang,” kata Muliza saat ditemui di lokasi, Kamis (5/3).

Ia mengatakan usaha yang dijalankannya sempat tersendat selama sekitar dua bulan setelah bencana. Aktivitas perdagangan baru kembali berjalan setelah pemerintah daerah membuka Pasar Ramadan.

“Kemarin itu dua bulan tersendat untuk usaha. Alhamdulillah di bulan puasa ini (lancar),” ujarnya.

Dalam sehari, Muliza bisa menjual hingga 800 keping timphan. Dari penjualan tersebut, ia mengaku dapat meraih keuntungan sekitar Rp1,5 juta per hari.

“Alhamdulillah, kalau kemarin saat bencana sama sekali tidak ada. Sekarang sekitar Rp1,5 juta bersih dari penjualan,” katanya.

Muliza membuat sendiri timphan yang dijualnya. Kue khas Aceh itu dibuat dari campuran tepung ketan, pisang, dan santan dengan berbagai isian seperti srikaya atau kelapa parut manis.

Agar tetap segar, ia membungkus timphan langsung di lokasi berjualan. Proses pembuatannya relatif cepat, sekitar satu setengah jam hingga siap dipasarkan.

Untuk memudahkan transaksi, Muliza juga menyediakan pembayaran digital melalui QRIS selain pembayaran tunai.

“Dengan QRIS pembeli tidak perlu repot membawa uang tunai, dan saya juga tidak perlu mencari uang kembalian,” katanya.

Keramaian Pasar Ramadan juga dirasakan oleh warga yang datang berbelanja. Zakkil Mubarak, salah satu pengunjung, mengaku senang karena banyak pilihan makanan tersedia di satu tempat.

“Banyak UMKM yang dilibatkan. Apa yang kita cari hampir semuanya ada di sini,” kata dia.

Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, menilai antusiasme pelaku UMKM dan masyarakat menunjukkan semangat bangkit setelah bencana.

Menurut dia, Pasar Ramadan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk kembali menggerakkan aktivitas ekonomi.

“Ini menjadi motivasi untuk melewati bencana dan kembali melakukan aktivitas ekonomi sehingga masyarakat bisa menghidupi keluarganya,” ujarnya.

Ia menambahkan pemerintah kota menyediakan fasilitas tempat agar para pelaku UMKM dapat berjualan dengan nyaman.

“Pemkot tentu akan membantu memberikan fasilitas agar pelaku UMKM bertambah dan omzet mereka meningkat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menilai aktivitas perdagangan di berbagai daerah terdampak bencana mulai kembali bergerak.

Ia menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta.

Menurut Tito, laporan pemerintah daerah menunjukkan sebagian besar pasar di wilayah terdampak telah kembali beroperasi.

“Kalau untuk masalah perekonomian, hampir semua pasarnya sudah aktif semua,” kata Tito.

Ia menilai aktifnya kembali pasar menjadi indikator penting bagi pemulihan ekonomi masyarakat. Pasar menjadi pusat perputaran ekonomi lokal yang langsung menyentuh pedagang, pelaku UMKM, dan masyarakat sekitar.

Selain itu, Tito juga menekankan pentingnya menjaga kelancaran distribusi energi seperti LPG dan bahan bakar minyak agar kegiatan ekonomi dapat berjalan secara berkelanjutan di wilayah terdampak bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  68  =  74