Channel9.id – Jakarta. PCNU Kota Langsa mulai menyalurkan bantuan tangki air bersih bagi warga terdampak banjir bandang dan longsor di Kabupaten Aceh Tamiang sejak awal Januari 2026. Bantuan tersebut sebagai tindakan darurat atas krisis air bersih yang masih dirasakan warga pascabanjir bandang dan longsor pada akhir November 2025.
Ketua PCNU Kota Langsa, Tengku Wildan, mengatakan distribusi air bersih menjadi prioritas utama karena terbatasnya akses air layak konsumsi di lokasi pengungsian. Untuk tahap awal, PCNU Langsa menempatkan tiga tangki air berkapasitas 1.200 liter di sejumlah masjid dan pesantren yang berada dekat dengan titik-titik pengungsian.
“Bantuan kami mulai didistribusikan sejak awal Januari 2026 untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak banjir hebat. Tahap awal, kami menempatkan tiga tangki air,” kara Wildan, Selasa (6/1/2026).
Menurutnya, kapasitas 1.200 liter pada setiap tangki dapat menjangkau penerima manfaat secara luas. Satu tangki air disebut mampu mencukupi kebutuhan ratusan jiwa selama kurang lebih satu pekan.
“Kami menempatkan tiga tangki air di masjid dan pesantren di Kecamatan Manyak Payed, Bendahara, dan Kuala Simpang. Satu tangki bisa mencukupi kebutuhan ratusan jiwa selama seminggu,” tuturnya.
Di Kecamatan Kuala Simpang, penempatan tangki air difokuskan di sekitar Kantor PCNU Aceh Tamiang yang selama ini menjadi pusat koordinasi bantuan dan memiliki akses relatif mudah bagi para pengungsi.
Wildan menegaskan, bantuan tangki air bersih ini tidak bersifat sementara. Pemanfaatannya dirancang berkelanjutan, termasuk setelah banjir surut, untuk mendukung kebutuhan dasar masyarakat.
“Tangki air akan tetap dimanfaatkan setelah banjir surut, baik untuk wudhu, memasak, maupun sanitasi. Di Kuala Simpang, kami tempatkan di sekitar kantor PCNU Aceh Tamiang dan masjid-masjid agar mudah diakses warga,” ungkapnya.
Ia menjelaskan dampak langsung dari ketersediaan air bersih bagi penyintas banjir. Menurutnya, air bersih sangat membantu warga yang selama berminggu-minggu terpaksa menggunakan air sungai yang tercemar.
“Ada seorang ibu yang akhirnya bisa memasak makanan hangat untuk anak-anaknya setelah lama bergantung pada air sungai yang kondisinya sudah tidak layak,” kata Wildan.
Selain air bersih, PCNU Langsa juga menyiapkan pengembangan bantuan dalam bentuk lain, mulai dari logistik hingga pendampingan pascabencana. Bantuan tersebut meliputi sembako, selimut, obat-obatan dasar, serta perlengkapan sanitasi guna menekan risiko penyakit pascabanjir.
“Kami juga mendorong dukungan psikososial yang melibatkan ulama dan relawan NU, termasuk psikolog, serta pelatihan penguatan ekonomi agar warga tidak terus berada dalam kondisi rentan,” imbuhnya.
Wildan menggambarkan kondisi di lapangan hingga kini masih memprihatinkan. Meski air banjir mulai surut, lumpur tebal masih menghambat aktivitas warga. Ribuan keluarga masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan risiko kesehatan yang meningkat akibat keterbatasan sanitasi. Anak-anak pun kehilangan akses pendidikan, sementara lansia kesulitan memperoleh layanan kesehatan yang memadai.
Di tengah situasi tersebut, Wildan berharap upaya pemulihan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi berlanjut pada pembangunan ketahanan komunitas berbasis kesadaran lingkungan dan solidaritas sosial.
“Harapan kami, masyarakat Aceh Tamiang dapat kembali hidup normal, bahkan lebih baik dan lebih tangguh dari sebelumnya,” pungkasnya.





