Listrik di aceh
Ekbis

Pemulihan Listrik Aceh: 98,9% Menyala, Desa Terpencil Masih Menunggu

Channel9.id, Jakarta. Banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dalam beberapa pekan terakhir kembali menguji ketahanan infrastruktur energi di daerah rawan bencana. Pemulihan sistem kelistrikan yang dijalankan oleh PT PLN (Persero) memperlihatkan bagaimana kondisi geografis dan kerusakan akses menjadi faktor penentu dalam percepatan pemulihan layanan vital.

Per Minggu (18/1/2026), PLN mencatat 6.432 desa atau sekitar 98,9% wilayah perdesaan di Aceh telah kembali teraliri listrik. Proses pemulihan dilakukan setelah sistem kelistrikan besar di Aceh kembali beroperasi pada pertengahan Desember 2025, yang ditandai dengan pulihnya gardu induk, pembangkit, serta jaringan transmisi.

Namun, masih terdapat 68 desa (1,04%) yang belum dapat menikmati listrik dari jaringan utama. Wilayah ini tersebar di delapan kabupaten seperti Aceh Utara, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah—daerah yang dikenal memiliki kondisi topografi berat dan akses terbatas.

General Manager PLN UID Aceh, Eddi Saputra, menyebutkan hambatan terbesar saat ini bukan pada ketersediaan energi, tetapi pada kemampuan mobilisasi teknisi dan alat berat ke lokasi terisolir. Tercatat 171 titik longsor dan 14 jembatan yang rusak, membuat akses menuju desa terdampak terputus total.

“Kemampuan memperbaiki jaringan sangat bergantung pada pembukaan akses,” ujar Eddi. PLN saat ini berkoordinasi dengan TNI, Polri, hingga pemerintah daerah untuk membuka jalur darat sebelum teknisi dapat memperbaiki tiang dan kabel yang roboh.

Sementara proses perbaikan berlangsung, PLN mengandalkan pendekatan energi darurat. Desa yang belum tersambung jaringan utama mendapat pasokan melalui Program 1.000 Genset dari Kementerian ESDM. Langkah ini dipandang penting agar aktivitas warga—termasuk layanan kesehatan, logistik, dan komunikasi—tidak terhenti.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga pelayanan publik sekaligus mengurangi dampak sosial di daerah bencana. Menurutnya, sebagian besar desa yang masih padam berada di titik “paling dalam” wilayah Aceh.

“Kami terus bergerak hingga ke desa-desa terpencil. Tantangannya bukan pada sistem tenaga listriknya, tetapi pada infrastruktur menuju lokasi,” kata Darmawan.

Dari 68 desa yang masih padam, Aceh Tengah menjadi wilayah dengan beban pemulihan terbesar, yaitu 36 desa, disusul Bener Meriah dengan 13 desa. Sisanya tersebar di Gayo Lues dan Aceh Tamiang. Tim lapangan ditempatkan dekat titik longsor untuk mempercepat tindakan ketika jalur terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6  +    =  16