Channel9.id, Sentul. Presiden Prabowo Subianto mengingatkan jajaran pemerintah pusat dan daerah agar tidak memandang dinamika global sebagai isu jauh dari dalam negeri. Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik dunia, mulai dari perang Ukraina hingga krisis Gaza, berpotensi langsung memengaruhi stabilitas ekonomi, pangan, hingga keamanan Indonesia.
Pesan itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026).
“Kita, Indonesia, berada dalam perang ideologi besar di dunia. Dunia terpecah dalam blok-blok kekuatan. Kita tidak sendiri. Perang Ukraina akan berpengaruh ke kita, peristiwa di Gaza akan berpengaruh ke kita. Karena itu kita harus waspada dan memahami tantangan global,” ujar Prabowo.
Menurut dia, ketidakpastian global kini semakin nyata. Saat menghadiri forum internasional di Eropa, termasuk pertemuan para pemimpin dunia di Davos, ia menangkap kekhawatiran meningkat terkait potensi pecahnya perang dunia ketiga.
“Hampir semua tokoh dunia merisaukan kemungkinan perang dunia ketiga. Bahkan ada simulasi, jika terjadi perang nuklir, negara yang tidak terlibat pun tetap terdampak,” katanya.
Ia mencontohkan risiko nuclear winter atau musim dingin nuklir yang berpotensi memicu gangguan produksi pangan global akibat paparan radioaktif dan debu atmosfer yang menutup sinar matahari.
“Mungkin ikan-ikan kita terkontaminasi, hasil laut terganggu, pertanian terganggu. Dampaknya bukan satu-dua tahun, bisa puluhan tahun,” ujarnya.
Menghadapi situasi tersebut, Prabowo menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dan tidak bergabung dengan pakta militer mana pun.
“Kita tidak akan bergabung dengan aliansi militer apa pun. Filosofi kita jelas: seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa sikap non-blok menuntut kemandirian yang lebih kuat.
“Kalau kita benar-benar tidak memihak, berarti kita harus siap berdiri sendiri. Kalau kita diserang atau diancam, belum tentu ada yang membantu,” katanya.
Karena itu, ia menilai penguatan kapasitas nasional baik pertahanan, ketahanan pangan, maupun ekonomi, menjadi syarat mutlak.
Dalam forum yang dihadiri ribuan kepala daerah tersebut, Prabowo menekankan bahwa dampak geopolitik global akan terasa langsung hingga level daerah, termasuk melalui tekanan harga pangan, energi, hingga potensi bencana akibat perubahan iklim.
Dengan kata lain, isu internasional bukan sekadar urusan diplomasi pusat, melainkan juga tantangan tata kelola daerah.
“Kita tidak mau perang, tapi kalau kita tidak siap, kita akan lemah. Di dunia nyata, yang kuat menentukan arah, yang lemah menderita. Itu kenyataannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia sejak lama menjadi incaran kekuatan asing karena kekayaan sumber daya alamnya. Sejarah kolonialisme, menurutnya, harus menjadi pengingat agar pemerintah tidak lengah menjaga kedaulatan.
“Mereka datang ke sini bukan untuk wisata. Mereka datang karena kekayaan kita. Karena itu kita harus percaya pada kekuatan sendiri,” kata Prabowo.





