Channel9.id – Denpasar. Upaya transisi energi bersih di Bali memasuki tahap baru melalui rencana pembangunan terminal khusus Liquefied Natural Gas (LNG) berkapasitas 145.000 meter kubik (m3) di Pantai Serangan, Denpasar, Bali. Proyek ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) impor sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Program peralihan dari solar ke LNG disebut menjadi solusi atas tingginya konsumsi BBM di Bali yang mencapai 500.000 metrik ton per tahun. Dengan nilai ekonomi sekitar Rp8,3 triliun, beban biaya tersebut dinilai dapat ditekan melalui penggunaan energi berbasis gas yang lebih efisien.
Praktisi Bisnis Energi alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Dicky Ahmad Gustyana menilai pembangunan fasilitas LNG di Serangan berpotensi memberikan penghematan signifikan bagi negara. Ia menyebut penggunaan LNG domestik juga dapat memperkuat kemandirian energi dan mengurangi dampak fluktuasi global.
“Bayangkan, dengan adanya storage LNG di Serangan ini, negara bisa menghemat hingga 500 juta USD per tahun. Dan yang paling penting, LNG ini bukan komoditas impor yang rentan gejolak geopolitik. Ini murni dihasilkan dari bumi Indonesia, dari ladang Tangguh di Papua,” ujar Dicky dalam keterangannya, Rabu (9/4/2026).
Ia menambahkan, ketergantungan pada BBM impor kerap berdampak pada stabilitas ekonomi nasional, terutama saat terjadi krisis di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, penggunaan LNG domestik dapat menjadi langkah mitigasi terhadap tekanan nilai tukar dan lonjakan harga energi.
“Kalau Timur Tengah bergejolak, bukan cuma barangnya susah dicari, harga meroket, tapi nilai tukar rupiah juga ikut tertekan naik. Dengan LNG domestik dari Tangguh, kita lebih mandiri dan terlindung dari guncangan eksternal,” jelasnya.
Selain aspek ekonomi, peralihan ke LNG juga dinilai membawa dampak positif bagi lingkungan dan sektor pariwisata Bali. Energi gas yang lebih bersih dibandingkan solar diharapkan mampu menjaga kualitas udara dan kenyamanan wisatawan.
Dicky menyebut kebersihan udara menjadi faktor penting dalam menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata kelas dunia. Ia menilai transisi energi juga berkaitan dengan keberlanjutan ekonomi daerah yang bergantung pada sektor pariwisata.
“Bali ini etalase pariwisata Indonesia. Kalau udaranya kotor karena genset diesel di mana-mana, wisatawan bisa kabur. Transisi ke LNG ini bukan hanya urusan energi, tapi juga urusan menjaga citra dan masa depan ekonomi Bali,” ujar Dicky.
Rencana pembangunan terminal LNG ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang akan mempensiunkan sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel. Dengan dukungan infrastruktur tersebut, pasokan energi untuk sektor hotel, restoran, dan industri di Bali diharapkan menjadi lebih stabil.
Pelaku usaha energi dan pariwisata pun mendorong agar proyek ini mendapat dukungan luas karena dinilai memiliki urgensi ekonomi dan lingkungan. Mereka menilai Bali dapat menjadi percontohan dalam implementasi transisi energi bersih di Indonesia.
“Pembangunan storage LNG ini perlu kita dukung bersama. Ini wujud nyata dari visi swasembada energi yang dicanangkan Presiden Prabowo. Bali harus menjadi contoh percontohan transisi energi bersih di Indonesia,” pungkasnya.
HT





