Channel9.id, Jakarta. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Sumatera mulai menggeser fokus dari penanganan darurat ke penataan hunian permanen. Satgas tidak lagi hanya mengurangi jumlah pengungsi, tetapi mempercepat transisi warga dari tenda ke hunian yang lebih stabil.
Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyebut fase tanggap darurat hampir berakhir. Dari lebih dua juta warga terdampak pada awal bencana, kini tersisa 11.307 jiwa per 27 Februari 2026.
Sebagian besar pengungsi berada di Aceh sebanyak 10.394 jiwa. Di Sumatra Utara tersisa 913 jiwa. Sementara Sumatra Barat sudah menutup seluruh tenda pengungsian.
Satgas menargetkan seluruh warga segera pindah ke hunian sementara (huntara), hunian tetap (huntap), atau menerima dana tunggu hunian. Tito menilai percepatan ini penting agar warga bisa kembali menata kehidupan sosial dan ekonomi.
Dalam rapat koordinasi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Tito menekankan pentingnya sinkronisasi pusat dan daerah. Ia meminta pemerintah daerah mempercepat validasi data agar relokasi berjalan tanpa hambatan administratif.
Satgas menargetkan 18.253 unit huntara dan telah merampungkan 10.498 unit. Untuk huntap, pemerintah merencanakan 36.669 unit dan kini membangun 1.363 unit. Enam unit di Sumatra Barat sudah siap ditempati.
Selain hunian, Satgas juga mendorong perbaikan rumah warga yang rusak. Tim memverifikasi lebih dari 73.000 unit rumah agar pemilik dapat segera menerima bantuan dan memperbaiki bangunan secara mandiri.
Satgas menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta pemerintah daerah. Kolaborasi ini mempercepat pemulihan dan menandai peralihan dari fase darurat menuju rekonstruksi permanen.





