Pertamina tunda kenaikan
Ekbis

Stok Aman Jelang Lebaran, Pertamina Tunda Kenaikan Harga BBM

Channel9.id, Jakarta. PT Pertamina menyatakan belum akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) meskipun harga minyak mentah dunia sedang meningkat. Lonjakan harga terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke fasilitas di Iran. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar, terutama setelah muncul kabar Iran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital ekspor minyak global.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan masih memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan. Namun, hingga kini Pertamina belum memutuskan untuk menyesuaikan harga BBM, terutama jenis non-subsidi.

“Kami masih mencermati perkembangan ke depan terkait tarif BBM,” ujar Baron di Grha Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Ia memastikan stok BBM tetap dalam kondisi aman, termasuk untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idulfitri 2026. Pertamina memprioritaskan kelancaran pasokan selama periode libur dan arus mudik.

Baron mengakui harga minyak dunia saat ini sudah melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok US$70 per barel. Berdasarkan laporan Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat menembus US$71 per barel setelah melonjak lebih dari 6 persen. Sementara itu, minyak Brent ditutup mendekati US$78 per barel.

Pertamina juga terus berkomunikasi dengan pemerintah untuk menyiapkan opsi pasokan minyak mentah selain dari Timur Tengah. Saat ini, impor dari kawasan tersebut menyumbang sekitar 19 persen dari total impor crude Indonesia. Perusahaan tengah menyiapkan langkah alternatif guna menjaga ketahanan energi nasional.

“Kami sedang memproses berbagai alternatif dan akan menyampaikan perkembangannya kepada publik,” kata Baron.

Ia menegaskan Pertamina akan menjalankan seluruh proses impor sesuai prinsip tata kelola yang baik dan tetap mengutamakan kebutuhan dalam negeri.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan pemerintah menyiapkan skenario mitigasi dengan mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi gangguan distribusi melalui Selat Hormuz.

Menurut Bahlil, Indonesia hanya mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah. Impor BBM jadi seperti bensin dan solar berasal dari kawasan lain, terutama Asia Tenggara, sehingga tidak terdampak langsung ketegangan di Timur Tengah.

Untuk LPG, Indonesia saat ini mengimpor sekitar 7,3 juta ton per tahun dan berencana menaikkannya menjadi 7,8 juta ton tahun ini guna memastikan pasokan tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1  +  9  =